
Tanpa di sadari mereka saling merasakan detak jantung yang berlari maraton.
‘Perasaan apa ini? Ada apa dengan jantungku? Apa aku harus ke dokter siang ini? Sial jantung ini tidak ingin santai saja apa?’ batin Ara.
‘Ara apa kamu juga merasa deg deg an seperti aku saat ini? Sampai kapan kamu melupakan ku?’ batin Riko masih sama terpakunya seperti Ara.
“Lain kali makanlah dengan perlahan. Jangan seperti anak sd saja” ucap Riko memutuskan tatapan mereka.
Ara hanya berdehem menutupi rasa gugupnya saat ini. Sejauh ini dia memang tidak pernah sedekat ini dengan lelaki.
“Sudah cepat habiskan jangan melamun saja”
“Iya iya sabar” ketus Ara.
“Ra” panggil Riko.
“Hmm” gumam Ara karna mulutnya penuh dengan baso.
“Sore nanti kamu sibuk?” tanya Riko
“Kenapa? bapak mau ngajak kencan saya?” canda Ara spontan.
Riko tersenyum tipis mendengar candaan Ara.
“Kalo memang iya kenapa?” Jawab Riko tegas.
Uhuk uhuk
Ara langsung terselak kuah baso yang pedas setelah mendengar jawaban tega dari Riko. Riko meraih botol air putih miliknya untuk Ara.
“Hati-hati” perintah Riko cemas sambil mengusap bahu Ara.
Ara hanya fokus meminum air putih yang diberikan Riko padanya.
‘Apes banget sih hari ini. Tapi kog aku deg deg an ya gara-gara jawaban nih orang’ batin Ara tanpa sadar menatap Riko lekat.
“Kenapa kamu, baru sadar saya tampan hmmm?” kata Riko sambil mendekatkan wajahnya pada Ara.
Spontan saja Ara tersadar dari kebodohannya.
‘Ck kamu memang bodoh Ara’ gumam Ara.
“Ck tampan apanya? Wajah pasar kek gitu dibilang tampan” cibir Ara.
‘Padahal emang tampan pake banget lagi’ tambah Ara dalam hati.
“Ck kamu ini memang. Sudahlah saya tadikan tanya serius malah kamu jawab candaan” kesal Riko.
“Hah yang mana?” tanya Ara dengan wajah bodohnya.
“Sore nanti kamu sibuk? Saya mau ajak kamu keluar” ucap Riko sambil menyandarkan punggungnya.
“Sibuk ngapain? Pacaran?” sungut Riko.
Ara menatap Riko sinis. Lihatlah wajah merahnya itu ck dasar pikir Ara.
“Kenapa lihat saya kayak gitu? emang benerkan kamu cuma sibuk pacaran” tuduh Riko membuat Ara kesal saja.
“Saya sibuk kerja” ceplos Ara.
Beberapa detik kemudian Ara membungkam mulutnya yang tidak bisa direm.
‘Kebodohanmu memang sudah mendarah daging ternyata. Ara memang bodoh, bodoh, bodoh’ gerutunya dalam hati.
“Ke kerja? Ma maksudmu?”
Terlihat jelas keterkejutan Riko atas jawaban Ara. Dan sikap gugup Ara yang seakan menyesali keceplosannya barusan membuat Riko menjadi penasaran.
“Kenapa kamu kerja? Apa papa kamu tidak membiayaimu lagi? Lalu Fino? Kamu bisa bilang pada saya Ara, kalau memang mereka tidak membiayaimu lagi. Saya bahkan mampu membiayaimu sampai lulus kuliah. Sekali pun kamu kuliah di luar negeri” ucap Riko dengan wajah memerah menahan rasa kesalnya mendengar Ara kerja.
“Bu bukan begitu. Ara memilih kerja sepulang sekolah supaya tidak membebankan kak Fino juga papa terus menerus” lirih Ara takut melihat ekspresi wajah Riko yang tidak bersahabat itu.
“Aku juga harus bisa mandiri. Aku sadar dengan kekuranganku yang hanya memalukan keluargaku. Aku tidak seistimewa kak Fino. Setidaknya dengan aku bekerja paruh waktu, aku tidak membebanni mereka” tambah Ara lirih.
Riko menatap iba gadis yang selama ini ia sukai.
“Kak Riko aku mohon jangan bilang kak Fino kalau aku bekerja paruh waktu” mohon Ara pada Riko dengan mata berkaca-kaca.
Riko menghela nafas menatap langit biru membentang luas di atas sana. Ia sungguh tidak tega memarahi Ara.
“Kerja dimana?” tanya Riko datar tanpa menatap Ara.
“Di AA Cafe”
“Sama siapa?”
“Letha”
“Pulang jam berapa?”
“Jam 9 malam”
Sekali lagi Riko menghela nafas berat lalu menatap Ara sejenak. ia beranikan diri menggenggam kedua tangan Ara, menatap lekat mata Ara dengan tatapan teduhnya.
“Kalau memang itu pilihan kamu. Saya cuma bisa mendukung kamu. Kalau kamu butuh bantuan jangan lupa bilang saja sama saya. Kamu mengerti?” tanya Riko dibalas anggukan kepala oleh Ara.
Gimana gais? Kita lanjut? Pasti dong.
Tunggu kelanjutannya ok😉
Jangan lupa like, komen dan vote 🔥🔥🔥🔥