My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Extra Part 8



Ara tertawa mendengarnya lalu berjalan kearah Alex memeluk sang kakak.


“Selamat kakakku sudah jadi daddy jangan ngambek ngambek ah, nanti diketawain baby L” ucap Ara membuat semuanya tertawa.


Termasuk baby Rey yang usianya hampir menginjak satu tahun.


...***...


Baru saja Ara akan menanyakan lagi dimana keponakannya itu, seorang suster masuk dan memberikan baby L yang sudah dimandikan pada Alex.


“Makasih sus” ucap Alex.


“Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi”


Ara meringsut mendekati sang kakak yang menggendong bayi gembul dan cantik.


“Ih kog cantik pengen bawa pulang” rengek Ara gemas sendiri.


“Ngawur, anak aku itu ya Ra kalo lupa” sahut Letha nyolot, enak saja dia yang mengandung eh malah mo dibawa pulang.


“Ya elah si emakmu nyolot banget si dek, kasian punya emak kek dia kamu” usil Ara mencubit pipi chubby baby L.


Lagi-lagi ucapan Ara membuat semua orang tertawa.


“Jangan dong dek, nantu nangis” ucap Alex sambil berlalu mendekati sang istri.


Lebih baik anaknya bersama sang istri dari pada adeknya yang usil itu, bisa bisa putrinya nangis dan akan sangat susah untuk di tenangkan.


“Ck kak Alex nyebelin” kesal Ara lalu duduk di samping Lisha dengan baby Rey dipangkuannya.


“Makanya jangan usil tangannya kalo nangis mau tanggung jawab?” sahut Fino santai.


“Kan ada bapaknya” sewot Ara berganti mengusili baby Rey.


“Udah dong sayang jangan marah-marah ih” Riko menenangkan.


”Oh iya namanya siapa Tha?” tanya Arumi membuat semua orang menatap Alex dan Letha bergantian.


Sedangkan yang di tatap hanya tersenyum jail.


“Pada kepo ya?” ucap Letha dibalas dengusan.


“Okay, biar enggak pada penasaran kan biar daddynya yang kasih tau” sambung Letha.


“Karena semua juga udah kumpul disini. Jadi nama lengkap baby L adalah Princess Callysta Mahesa, bisa dipanggil Lysta atau baby L” jelas Alex.


“Satunya Letha, satunya lagi Lysta, moga aja sifat mereka enggak sama bisa jadi kapak pecah rumah kak Alex” ucap Ara menghancurkan suasana.


“Jangan mulai deh Ra” dengus Letha.


“Hahaha canda kog” tawa Ara. Sedangkan yang lain menggelengkan kepala melihat dua anak manusia itu. Yang satu udah jadi ibu, yang satu calon ibu tapi sifat mereka masih kayak anak kemarin sore.


“Bentar lagi Arumi juga lahiran kan ya. Jadi baby Rey bakal banyak temennya” ucap Lisha.


“Minta doanya ya semua, semoga diberi kelancaran” ucap Arumi.


“Aamiin” ucap semuanya.


“Sekalian nih Ara juga ada kabar bahagia loh” sahut Ara sambil memeluk lengan sang suami.


“Kabar apa dek?” Tanya Alex dan Fino bersamaan.


“Jadi di dalam sini-“ ucap Ara menggantung sambil mengusap perut buncitnya.


“Ada baby triplets” sambung Riko tersenyum bangga, aura pamernya mulai terasa.


“Hubby, tuh kan bener kata aku apa? Ara tuh pasti anak nya kembar dilihat dri perutnya yang mau tumpah itu loo. Kamu sih aku bilangin gak percaya sih” ucap Letha pada sang suami yang hanya tertawa kecil.


“Topcer pula si Riko, tuh lihat wajah songongnya kelihatan” sambung Fino.


“Gua gitu loh” songong Riko.


.


.


.


.


Waktu terasa cepat, 5 bulan sudah berlalu.


Malam ini tepat pukul 11.23 Ara sudah masuk kedalam ruang operasi sesuai jadwal yang sudah di sarankan dokter. Di dalam Ara ditemani Lisha karena sang suami yang tidak tega melihat jalannya operasi. Riko tidak bisa melihat Ara yang merintih kesakitan.


Untung saja hari ini baby Rey dibawa kakek dan neneknya menginap disana. Jadi Lisha tidak perlu khawatir dengan siapa baby Rey sekarang.


Di depan ruang operasi Riko ditemani Fino dan Alex, Tony sendiri tidak bisa ikut karena menjaga Letha dan Arumi di rumah. Tadi saat akan menuju ke rumah sakit Alex menitipkan istri dan anaknya di rumah Tony dan Arumi.


“Kenapa lama sekali? Dokter bilang tidak akan sampai selama ini” gumam Riko frustasi akan rasa gelisahnya.


Di dalam sana sang istri sedang berjuang bersama anak anak mereka.


“Tenanglah Rik, Ara dan anak anaknya akan baik-baik saja percayalah” ucap Alex menenangkan calon Ayah itu.


“Duduklah” sahut Fino memarik lengan Riko pelan.


Lama mereka menunggu sampai terdengar suara sahutan tangis bayi untuk pertama kalinya di dalam sana. Riko bangkit mendekati pintu yang masih tertutup rapat dengan wajah berderai air mata haru. Itu suara tangis anak anaknya. Tangis mereka saling bersahutan membuat Riko tidak bisa lagi menahan tangisnya.


“Hiks hiks mereka sudah lahir dan hiks aku menjadi seorang ayah” tangis Riko berbalik memeluk Fino dan Alex yang tak kalah terharunya.


Adek kecil mereka kini sudah menjadi seorang ibu.


Cklek


Pintu terbuka bersama keluarnya dokter dan Lisha yang menangis. Riko dibuat khawatir melihat Lisha yang keluar dengan derai air mata, pikiran negatif mulai menyerangnya.


“Dokter bagaimana kondisi isi saya? Dia baik-baik saja kan dok? Jawab saja dokter. JAWAB!” bentak Riko diselimuti kepanikan.


“Tenanglah Rik” rangkul Alex yang sebenarnya sama khawatirnya denga Riko. Melihat Lisha yang tidak berhentinya menangis membuat Alex ikut berpikiran negatif.


“Tenang dulu pak, saya akan jelaskan. Istri bapak baik-baik saja walau sebelumnya detak jantung istri bapak sempat berhenti untuk beberapa menit, karena pendarahan hebat yang terjadi. Tapi Tuhan memberikan mukjizatnya dimana istri bapak bisa melewati masa-masa itu dan sekeang dalam masa pemulihan” jelas sang dokter membuat tubuh Riko jatuh lemas jika tidak ditahan oleh Alex.


Jantung istrinya sempat berhenti berdetak membuat Riko terisak pilu, tapi Tuhan masih memberikan kesempatan untuknya bersama sang istri tercinta. Begitu hebatnya perjuangan istrinya untuk anak anak mereka.


“Bapak yang tenang ya setelah selesai dibersihkan kami akan memindah bu Ara ke ruang inap. Tapi biarkan pasien untuk istirahat dengan cukup. Dan selamat anak anak bapak lahir dengan sehat dan normal masih dibersihkan ya pak, anak pertama dan kedua laki-laki dan si bungsu perempuan. Setelah semuanya bersih nanti akan ada suster yang membawa baby triplets ke ruang rawat bu Ara. Sekali lagi selamat ya pak” sambung dokter Ana yang memimpin jalannya operasi istrinya.


“Hiks terimakasih dok hiks terimakasih” tangis Riko tak ada hentinya.


“Sama-sama pak kalau begitu saya permisi dulu” pamit dokter Ana.


“Terima kasih Tuhan, engkau memberiku lebih banyak waktu bersama istriku. Terima kasih Tuhan” gumam Riko begitu pun Alex dan Fino.


.


.


.


.


.


Hai hai malam semua...


Gimana tegang gak sih sama part ini? Jujurly ini tuh butuh perjuangan banget aku buat bikin cerita di part ini.


Secara butuh ide banget di part ini. Tapi syukurlah part ini berhasil aku buat. Maap ya kalo ada yang kurang.


See you😍