
Ara terdiam di atas ranjang tidurnya memikirkan ucapan kakaknya barusan. Ia tertarik untuk les privat tapi ia juga ingin bekerja untuk mencukupi kehidupannya. Ia benar benar tidak ingin terus bergantung pada keluarganya sendiri.
“Huh sudahlah lebih baik tidur saja”
Ara merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Ia berusaha tidur dengan mencari posisi ternyaman tapi tak kunjung mendapatkannya.
10 menit kemudian
Ara duduk menarik laci di samping tempat tidurnya mengambil botol kecil berisi butir obat. Ia mengeluarkan satu butir dan meminumnya. Baru beberapa menit kemudia ia sudah terlelap dalam tidurnya.
...****...
Letha menatap pria tampan di depannya tanpa berkedip. Ah sudah lama sekali ia menyukai pria di depannya. Hanya saja tidak mungkin baginya bisa bersanding dengan pria idamannya.
Sedangkan Tony mulai jengah dengan tingkah adiknya yang sangat memuakkan. Tony segera menginjak kaki Letha di bawah sana menyadarkan gadis itu dari segala kehaluannya.
“Aaaarrgghh” teriak Letha kencang.
Membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian di restoran tempat mereka berkumpul.
“Cepat jelaskan yang kau bahas tadi! Bukan malah menatap tuan seperti itu!” gertak Tony.
“Tapi kakak gak harus menginjak kakiku” rengek Letha kesakitan.
“Sudahlah Ton, kenapa akhir akhir ini kau sangat sensi” cibir pria itu pada sekretarisnya.
“Iya kau memang seperti gadis pms saja berubah jadi singa kapanpun kau mau” sungut Letha membuat pria didepannya tertawa kecil.
Sedangkan Tony hanya bisa menggerutu, jika sudah seperti ini ia memilih diam saja. Ia terlalu malas meladeni adik dan tuannya yang slalu puas membullynya.
“Jadi?” tanya pria itu.
“Ara ingin bekerja part time, ya seperti pelayan cafe contohnya. Alasannya aku tidak tau kak. Ara hanya bilang dia ingin kerja itu saja. Dan aku bilang besok dia bisa mulai bekerja. Jadi bagaimana menurut kakak?” jelas Letha pada pria itu.
“Hei panggil dia ‘tuan’ atau ‘bos’. Kenapa kau masih memanggil dengan sebutan ‘kakak’ sih” gerutu Tony pada adiknya.
“Sudahlah Ton, aku sudah menganggap Letha seperti adikku” katap Pria itu membuat senyum Letha luntur seketika.
Sejauh ini Letha memang tau jika ia hanya dianggap sebagai adik tidak lebih. Tapi setiap mendengar kata ‘adik’ terucap dari bibir pria yang ia sukai rasanya sakit.
“Boleh aku ikut kerja disana?” tanta Letha penuh harap.
“Hei hei kebutuhanmu slalu ku penuhi apa itu masih kurang? Tidak!” kesal Tony.
“Boleh” jawab pria itu enteng sambil tersenyum.
Letha tersenyum bahagia. Tanpa sadar ia berdiri memeluk pria itu erat sambil melompat kecil.
Tony melongo dengan mulut terbuka lebar. Ia benar benar tidak habis pikir dengan bosnya itu. Tony merasa dianak tirikan jika ada Letha seperti saat ini. Bosnya itu akan sangat ramah dan baik pada adiknya tapi tidak dengannya. Astaga kejam sekali tuan muda ini, pikirnya.
Ehem ehem
Tony berdehem menyadarkan Letha dari aksi memeluknya. Letha sontak melepas pelukannya dan kembali duduk dengan canggung.
“M... ma... maaf” gugupnya
“Tidak apa” jawab pria itu mengacak rambut Letha.
Letha mendongak melihat senyum indah yang terbit di wajah tampan pria yang masih asik dengan rambutnya itu. Senyum yang bisa menular pada siapa saja.
“Baiklah baiklah mari kita makan” kata Tony menghentikan drama didepan matanya itu saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.
Akhirnya mereka menikmati makan malam bersama dalam hening. Karna Letha tau pria yang ia sukai sangat membenci percakapan saat sedang makan.
Letha membayangkan bagaimana jika ia menjadi istri pria itu suatu saat nanti. Pria cuek tapi di balik itu ada sikap hangatnya, cerdas, tampan, dan pastinya sangat perfect.
Ia tersenyum senyum sendiri sambil terus menyantap makanannya tanpa memperdulikan dua pria dihadapannya.
Dan malang ini mereka habiskan dengan perbincangan ringan, sebelum memutuskan untuk pulang karna malang yang semakin larut. Dan besuk Letha juga harus sekolah.
Ok gais malam ini aku up 2 halaman ya🔥🔥🔥
besok aku bakal up lagi cerita lanjutannya🥰
Selamat malam gaiss🌝