
“Oh kalung ini di buat khusus dan hanya dimiliki keluarga besar kakak. Semua keluarga kakak memilikinya termasuk adik kakak”
“Ba-bagaimana bisa kalung ini ada pada kak Fino?” ucap Ara terbata.
“Mama” ucap Ara seketika.
Ara terdiam menatap kalung liontin itu ditangannya. Ara mulai terisak entah apa yang ditangisi. Sampai Ara mendengar derap langkah kaki yang mulai mendekat.
Ara segera menaruh kalung liontin itu kedalam kotak perhiasan tadi dan bersembunyi di bawah meja kerja Fino dengan kotak perhiasan ditangannya.
Tak lama kemudian pintu terbuka dengan suara langkah yang mulai memasuki ruangan.
“Cepat katakan apa perlumu datang kesini” ucap Fino yang berbicara pada orang lain.
Mendengar ucapan Fino yang datar, Ara yakin diruangan ini Fino tidak datang sendiri.
“Kalung liontin” ucap Alex santai.
Fino dan Ara menegang seketika mendengar ucapan Alex ditempat masing-masing. Ara membuka kota perhiasan itu dan menggenggam erat kembali kaling liontin.
“Apa maksudmu?” ucap Fino mencoba tenang.
Alex berjalan mendekati sofa dan duduk disana, membuatkan Fino yang kini berdiri di depannya terpisah oleh meja kecil.
“Sampai kapan kau akan berpura-pura? Seakan tak pernah terjadi apa-apa hmm” ucap Alex menatp tajam Fino.
“Mari kita akhiri semua ini dan biarkan Ara ikut bersamaku, kakak kandungnya. Ah bukan kita tapi kau” sambung Alex membuat Fino mengepalkan kedua tangannya.
“Ara tidak akan kemana-mana dan kau jauhi Ara, jangan pernah kau temui Ara lagi” ketus Fino.
Alex bangkit dan langsung melayangkan bogemannya tepat di wajah Fino. Tak sampai disitu saja Alex menyengkram erat kerah baju Fino.
“BRENGSEK!!! BERTAHUN-TAHUN AKU MENCARI KEBERADAAN ARA DAN KAU DENGAN KEEGOISANMU MELARANG KU MENDEKATINYA HAH!!! BRENGSEK!!!” Teriak Alex keras lalu memukul wajah Fino.
Untung ruangan ini sudah disetting kedap suara saat Fino berjalan masuk tadi. Fino tau kedatangan Alex akan membahas tenatng Ara, jadi ia segera mensetting mode kedap suata agar orang diluar sana tidak ada yang bisa mendengarkan, termasuk Tony yang berdiri de depan pintu.
Fino hanya bisa berbaring menahan sakit di sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar karna pukulan keras Alex tadi.
”LUPAKAH KAU!!! APA PERLU KU INGATKAN KEMBALI!!! BAGAIMANA BRENGSEKNYA SI TUA BANGKA ITU MERENCANAKAN PEMBANTAIAN PADA KELUARGAKU DAN MAMAKU LAH YANG MENJADI KORBAN!!! AKU YANG MASIH KECIL HARUS MELIHAT SEORANG IBU YANG MELAHIRKANKU MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA TEPAT DIDEPAN MATAKU!!!” Teriak Alex sambil menunjuk wajah Fino.
“LALU PAPAKU MENINGGAL KARENA TERPUKUL ATAS KEMATIAN ISTRI TERCINTANYA DAN HILANGNYA ARA, PUTRI KECILNYA!!! AKU BAHKAN HARUS BERJUANG MENDEKATINYA PERLAHAN, SEGALA CARA AKU LAKUKAN AGAR BISA BERADA DI DEKATNYA, MEMBUATNYA MERASA NYAMAN SAAT BERADA DIDEKATKU!!! DAN KAU DENGAN TIDAK TAU DIRINYA MENYURUHKU MENJAUHI ARA!!! KELUARGA YANG KU MILIKI SATU-SATU NYA DI DUNIA INI!!!” teriak Alex yang kini dengan deraian air mata.
Ara terkejud mendengar setiap deretan kata yang baru saja terucap dari bibir Alex. Bahkan kini ia bisa mendengar suara tangis pilu Alex yang membuatnya tidak bisa lagi menahan air mata. Ara menutup bibirnya dengan telapak tangan menahan suara tangisnya.
Di genggam erat kalung liontin itu dan semakin erat saat mengingat setiap kata yang diucapkan Alex. Kenyataan yang Ara ketahui saat ini benar-benar membuatnya terasa ditikam pulukan pisau tajam. Ara masih diam menangis tubuhnya lemas ia masih terlalu syok dengan kejadian saat ini.
“Aku tidak mau kehilangan Ara, sampai kapan pun Ara hanya akan jadi adikku” lirih Fino bangkit dengan derai air matanya.
“Kau menahan Ara untuk tetap berada di dalam keluargamu. Agar si tua bangka itu bisa menyiksanya atau kau berpikir mamamu meninggal saat kecelakaan itu karna Ara. JAWAB AKU FINO ALARDO!!!” teriak Alex.
Alex kembali melayangkan pukulan pada Fino namun tertahan saat mendengar teriakan seseorang yang tidak seharusnya berada di sekitar mereka saat ini.
“HENTIKAANNN” teriak Ara berdiri di balik meja kerja Fino dengan kondisi acak-acakan dan derai air mata.
Fino menatap darah yang mulai menetes dari tangan Ara yang menggenggam erat kalung liontinnya.
“A-Ara tanganmu berdarah” ucap Fino terbata sambil melangkah mendekati Ara.
“STOOPPP!!! Jangan mendekat” ucap Ara dengan raut wajah menahan segala amarahnya.
Alex mengusap wajah kasar menatap Ara yang terlihat frustasi dan tertekan saat ini. Melihat air mata Ara yang terus menetes membuat Alex merasa sakit di hatinya.
Alex dan Fino tidak menyangka hari ini akan tiba dengan cara yang seperti ini. Tak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa Ara akan mengetahui secepat ini.
“Ara biarkan kak Alex mengobati tanganmu ya” ucap Alex lirih dengan mata penuh rindu dan sedih bercampur aduk dan Ara tau itu.
“Kalung liontin cantik ini yang kak Alex cari bukan?” tanya Ara lembut dengan derai air mata.
Alex hanya diam ditempat menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Bibir nya terasa kelu hanya untuk sekedar mengucapkan kata ‘Iya’.
“Apa ini peninggalan papa dan mama kak Alex?” tanya Ara yang dibalas anggukan kepala oleh Alex.
“Apa Ara hiks boleh hiks memakainya?” tanya Ara dengan deraian air mata.
“Ara” panggil Fino lirih seakan melarangnya.
Ara menatap lurus ke arah Alex tanpa menghiraukan panggilan Fino. Seakan hanya ada Alex dan Ara di ruangan ini. Ara mengusap air matanya yang terus mengalir bak anak sungai.
“Kak Alex boleh Ara pakai kalung ini?” tanya Ara yang kini beralih menatap kalung liontin yang sudah berlumur darahnya.
Ara sendiri sampai tidak sadar menggenggam kalung itu begitu erat sampai melukai telapak tangannya.
“Ara suka kalung ini” ucap Ara terisak.
Ruang kerja Fino kini dipenuhi suara tangis Ara yang menyayat hati kedua pria yang hanya bisa terdiam kaku. Ara memukul dadanya yang kini terasa sesak, sungguh ia tidak bisa menerima kenyataan ini, dimana selama ini ia hidup bersama pembunuh orang tuanya dan yang membuatnya terpisah dari keluarganya.
Perlahan tangan Ara memasang kalung itu di lehernya, sangat cantik. Ara tersenyum di tengah isak tangisnya sambil menatap kalungnya. Ara menatap Alex lekat.
“Bolehkan Ara pakai kak?” tanya Ara sekali lagi.
Alex menangis menatap Ara yang memakai kalung itu sangat cantik pemilik kalung itu, pikir Alex. Alex lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepala, sedangkan Fino terdiam melihatnya.
“Ara sangat suka kalung ini, cantik bukan saat hiks Ara memakainya” ucap Ara lirih lalu jatuh pingsan.
“ARA” teriak Alex dan Fino bersamaan saat melihat Ara yang jatuh pingsan.
”Singkirkan tanganmu” ketus Alex sambil menepis tangan Fino yang ingin menolong Ara.
Alex lalu menggendok tubuh lemah Ara dan berlari ke arah pintu dimana Tony masih berdiri disana terkejut melihat Alex yang berjalan menggendong Ara yang pingsan.
Siapkan tissu kalian man teman😭
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥