
Tony berlari kecil memcari ruang rawat nona muda nya. Tony baru saja menyelesaikan kekacauan tadi dan mendapat kabar duka.
Tok tok tok
Tony mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. Di ruang rawat hanya ada Alex dan Riko yang sedang duduk di sofa setia menunggu Ara.
“Duduklah Ton, kau pasti lelah dengan hari ini” ucap Alex
Tony pun duduk melepas lelah yang ia rasakan sedari tadi. Sesaat Tony teringat tujuan utama datang.
“Tuan ada ka-“
“Kita sedang tidak bekerja Ton” kesal Alex.
“Ah baiklah baiklah. Baru saja aku mendapat telpon dari kepolisian, Clara meninggal dan tuan Felix kabur” ucap Tony.
“Clara meninggal?” tanya Riko terkejut mendengarnya.
“Bagaimana kejadiannya Ton?” tanya Alex.
Tony pun menceritakan apa yang terjadi pada Clara dengan detail seperti yang di ceritakan pak Rudi tadi padanya. Alex dan Riko hanya bisa menghela nafas mendengarnya.
“Lalu pria itu?” tanya Alex melirik Tony.
“Tuan Felix masih dalam pengejaran, dari cctv rekaman terakhir mobilnya mengarah menuju luar kota. Dan setelahnya cctv di persimpangan mati sampai saat ini. Sepertinya ini bagian dari rencana pria itu, agar polisi tidak bisa mengejarnya lagi. Tapi tenang saja aku sudah mengerahkan semua anak buah kita untuk mencari pria itu sampai ketemu. Pria itu sungguh menyebalkan” kesal Tony.
“Kalau begitu perketat keamanan rumah, cepat atau lambat pria itu akan kembali. Jadi jangan sampai lengah, aku tidak yakin dia pergi keluar kota. Pria licik seperti punya banyak cara untuk mencapai tujuan utamanya” ucap Alex.
“Aku akan membantu mencari tuan Felix” sahut Riko.
“Dan untuk pemakamannya wanita itu tolong urus dengan baik Ton” ucap Alex.
“Biar aku yang mengurus pemakamannya” ucap Riko.
“Biar Tony saja yang mengurusnya” ucap Alex.
“Tidak, biar aku saja. Aku akan menghubungi keluarganya dan menjelaskan apa saja yang telah terjadi. Dan bilang pada Ara, maaf aku tidak bisa menunggunya” ucap Riko.
“Tenang saja aku akan bilang padanya kau sedang mengurus pemakaman mantan terkasihmu itu” canda Alex yang langsung diberi plototan oleh Riko.
“Tenanglah kawan aku hanya bercanda” ucap Alex terkekeh.
Riko mendengus lalu beranjak mendekati Ara yang masih berbaring lemah. Wajahnya sudah tak sepucat tadi. Riko mengusap pipi Ara lembut lalu mengecup kening Ara.
“Cepat bangun Ra, aku pergi sebentar. Sampai bertemu nanti malam sayang” pamit Riko lalu pergi.
Alex hanya menggeleng melihat pria yang berhasil mencuri hati adiknya itu. Alex dapat melihat bagaimana cintanya Riko pada adiknya. Terlihat jelas dari mata Riko saat memandang.
“Apa aku harus merestui mereka secara resmi?” ucap Alex.
“Ya sepertinya memang harus begitu, melihat keduanya yang saling mencintai dan menyayangi. Sama sepertimu jika kau memang serius menyukai adikku cepat ungkapkan, jangan sampai adikku di miliki pria lain. Nanti kau sendiri yang galau aku yang susah” kata Tony bangkit berencana membeli makanan di kantin rumah sakit.
Alex tertegun mendengar perkataan sekertaris sekaligus sahabatnya itu.
‘Bagaimana dia tau kalau aku menyukai adiknya? Apa selama ini dia sudah tau? Lalu dari mana dia tau? Tunggu dulu, Tony menyuruhku untuk segera mengungkapkan perasaanku pada adiknya. Apa itu artinya Tony merestuiku jika aku menikahi adiknya?’ batin Alex senyum-senyum sendiri pada akhirnya.
Tony yang sudah di ambang pintu menoleh kebelakang dan mematap sahabatnya miris.
“Apa dia mulai gila karena ucapanku tadi?” gumam Tony.
“Aku tidak akan merestuimu menikahi adikku” ucap Tony yang tau pemikiran Alex saat ini.
Dan benar saja dugaannya, Alex spontan menatap Tony dengan raut wajah terkejut bercampur sedih. Tony menahan tawa melihat ekspresi baru di wajah sahabatnya itu.
“Aku tidak akan merestuimu menikahi adikku saat ini, sebelum kau buang jauh-jauh egomu itu dan cepat katakan pada adikku kalau kau mencintainya” sambung Tony lalu pergi.
“Ck dasar giliran percintaan saja dia lamban sekali” desis Tony saat memasuki lift.
Di ruang rawat Ara, Alex terlihat tersenyum lagi. Sepertinya ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini dimana Tony sudah merestuinya.
“Sepertinya aku harus membahas ini berdua dengan Tony” pikirnya.
Alex pun berpindah duduk di samping ranjang Ara dan menggenggam tangan adiknya yang belum juga siuman.
“Cepatlah bangun sayang, maaf hari ini pasti menakutkan untukmu” ucap Alex.
Hari ini memang hari yang menakutkan sekaligus menegangkan bagi Alex dan Ara, terutama Alex. Sempat terbesit rasa takut di diri Alex, takut jika dirinya melakukan sedikit kesalahan tidak menutup kemungkinan mereka berdua bisa saja celaka.
“Terima kasih Tuhan” gumam Alex masih dengan menggenggam tangan adiknya.
...****...
Di kediaman Mahesa.
Fino merasa lega mendengar kabar bahwa Alex dan Ara baik-baik saja, hanya sedikit luka ringan di kening Ara dan nanti malam mereka sudah bisa kembali ke rumah.
Fino segera memberi tahu istrinya yang sedari tadi cemas menunggu kabar Alex dan Ara.
“Syukurlah, kalau begitu kita ke rumah sakit yuk mas” ajak Lisha.
“Enggak usah sayang, kita tunggu di rumah aja. Di sana kan Ara butuh istirahat nanti kalau kita semua kesana Ara gak jadi istirahat” ucap Fino lembut sambil mengusap perut buncit istrinya.
Lisha mengerucutkan bibir kesal tapi yang diucapkan suaminya memang ada benarnya, pikir Lisha.
“Yaudah deh, tapi malam ini kita nginap di sini lagi ya mas. Biar lama ketemu Ara” pinta Lisha.
“Iya sayang” ucap Fino memeluk istrinya dari samping.
“Sekarang kamu istirahat dulu ya, mas mau kebawah ngabarin Letha sama Arumi dulu” ucap Fino mengecup pipi istrinya lalu pergi mencari Letha dan Arumi.
Di ruang keluarga Letha dan Arumi sibuk menata puzzle yang kemarin di beli Letha. Fino pun berjalan mendekati dua gadis itu dan memberitahu kabar Alex dan Ara.
Letha dan Arumi tersenyum lega mendengarnya. Fino sengaja tidak memberitahu tentang kematian Clara, karena baginya kabar Alex dan Ara lah yang lebih penting.
“Kalau gitu gimana kalau kita buat menu special untuk nanti malam” usul Letha.
“Setuju” jawab Arumi.
“Lets go” teriak Letha semangat.
“Bereskan dulu puzzle nya” tahan Arumi melihat Letha yang akan kabur.
“Nanti saja kak” rengek Letha.
“Tidak ada nanti, sekarang” ucap Arumi layaknya seorang ibu yang mengajarkan anaknya untuk membereskan mainannya.
“Baik ma” lirih Letha yang membuat Fino dan Arumi terkekeh.
Sudah hal biasa bagi mereka melihat Letha yang akan menurut pada setiap ucapan Arumi. Tak jarang Letha akan memanggil Arumi dengan sebutan mama jika sudah seperti ini.
“Maaf istriku tidak bisa membantu kalian” ucap Fino.
“Tidak apa biarkan mbak Lisha istirahat saja. Biar kami saja yang menyiapkannya” jawab Arumi.
“Yups benar sekali. Kak Lisha biar istirahat saja. Lihat perutnya yang besar bikin merinding saja saat sedang di dapur” ucap Letha sambil cengengesan.
“Kalau gitu kalian lanjutkan saja” ucap Fino lalu kembali ke kamar menemani istrinya istirahat.
Yuk yuk yuk udah up lagi nih😊
Semoga kalian suka😁
Pendukungnya bang Riko sama bang Alex mana suaranya?😆
Jangan lupa like, komen, dan vote🔥🔥🔥🔥
Makasih kesayanganku❣️