My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 11



Setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Pagi ini Ara sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia melangkah keluar kamar dengan tas punggung miliknya.


Di meja makan sudah ada Fino dan Lisha menunggunya untuk sarapan bersama. Ara segera berlari kecil dan duduk disisi kiri Fino berhadapan dengan Lisha.


“Pagi” sapa Ara tersenyum tipis.


Semakin hari kini Ara mulai ada sedikit perubahan. Sedikit banyak bicara dan tersenyum walau saat ini hanya pada kedua kakaknya dan pada Letha.


“Jangan lari lari nanti jatuh Ara” kata Fino yang bukan membalas sapaan Ara.


“Pagi dek” kata Lisha.


“Kak Fino gak asik” kesal Ara.


“Sudah sudah masih pagi. Sekarang cepat sarapan nanti keburu telat. Ara nanti kamu bareng kakak ya. Mas Fino mau kekantor hari ini soalnya” kata Lisha.


“Syukurlah. Jadi aku gak perlu ngerjain tugas kak Fino nanti” gumam Ara yang masih terdengar oleh Fino.


“Ooo jadi tugas yang dikasih tau Letha waktu itu belum kamu kerjain hmm” ucap Fino menatap tajam adeknya.


“Aku tidak masuk karna sakit bukan liburan keluar negeri jadi anggap saja aku tidak tau dan tidak ada yang memberi tau” jawab Ara santai sambil mengoles selai coklat di rotinya.


“Ada aja alasannya” gerutu Fino.


Lisha hanya tersenyum menatap kelakuan adek kakak itu. Mereka melanjutkan sarapan dalam hening. Selesai sarapan mereka segera berangkat. Fino menuju kantor, Ara dan Lisha diantar sopir kesekolah.


...****...


Ditempat parkir guru Ara keluar bersama Lisha. Tidak jauh dari sana Riko juga baru datang memarkirkan mobilnya.


“Ara masuk kelas dulu ya kak” ucap Ara lirih pada Lisha lalu pergi.


Ia berusaha untuk menjaga jarak dengan sahabat kedua kakaknya yang tidak lain juga guru dikelasnya.


Lisha mengangguk sambil tersenyum menatap kepergian adik iparnya itu. Dibelakangnya Riko menatap Ara yang semakin melangkah jauh sampai tak terlihat.


“Apa dia baik baik saja kak?” tanya Riko mendekati Lisha.


“Kenapa bertanya padaku bukan padanya? Dasar lelaki” seru Lisha berlalu pergi.


Riko mendengus kesal mendengar jawaban kakak sepupunya itu. Memang sejak kejadian diruang keluarga waktu itu Riko tidak lagi mengunjungi rumah Fino. Ia lebih memilih menyibukan diri dengan pekerjaan kantor dan mengajar.


Ia seperti menghindar untuk menemui Ara. Karena ia takut akan kelepasan dengan perkataannya seperti waktu itu, hingga membuat Ara sakit. Dan sekarang ia merasa Ara lah yang menghindarinya.


“Huh kenapa jadi begini” gerutu Riko melangkah pergi.


...****...


“Ara” teriak Letha berlari memeluknya yang baru saja memasuki kelas.


“Astaga aku seneng banget ra akhirnya kamu dah masuk sekolah lagi aaaa” teriak Letha kegirangan.


“Lepaskan” kesal Ara melirik tajam pada Letha yang masih memeluknya erat.


Letha menyengir melepas pelukannya pada Ara.


“Bisa tidak kau biasa saja” kesal Ara melangkah menuju mejanya.


“Baiklah” jawab Letha tersenyum.


Tak lama seorang guru masuk dan memulai pelajaran dengan serius. Ara sesekali menatap papan tulis didepan untuk menyalin catatan. Ia sangat serius sampai tidak sadar bahwa seseorang disampingnya tersenyum memperhatikannya sedari tadi.


Siapa lagi kalo bukan Letha. Ia ikut merasa senang melihat Ara semakin ada perubahan seperti saat ini. Ia masih ingat untuk mendengarkan penjelasan guru saja Ara sudah malas apa lagi untuk mencatat.


Tapi saat ini Ara terlihat serius mendengar penjelasan dan menyalin catatan. Letha terkekeh kecil melihat Ara yang mengibaskan tangannya saat rasa lelah menghampiri tangannya yang sedari tadi terus menyalin catatan.


Dan tampa diketahui Ara ia mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan memfoto Ara dari samping lalu ia kirimkan foto itu ke salah satu kontaknya.


Kemudian ia kembali memperhatikan penjelasan guru didepan sana.


...****...


Ting...


Suara pesan masuk membuat Tony mengernyit saat melihat siapa pengirimnya. Ia menatap jam dinding diruangannya yang menunjukkan pukul 08.30.


‘Seharusnya dia masih jam pelajaran bukan? Kenapa malah mengirim pesan pada dasar bocah’ gumamnya membuka pesan tadi.


Bibir Tony melengkung keatas terlihat sangat puas dengan pesan yang baru saja ia dapatkan. Ia segera beranjak memasuki ruangan sampai lupa untuk mengetuk pintu.


“Apa pintu ku sudah berpindah sampai kau lupa mengetuknya?” Sindir pria pemilih ruangan itu yang tak lain adalah atasannya.


Tony hanya menyengir pura pura tidak mendengar sindiran apapun dari tuannya. Ia tetap melangkah mendekati tuannya, menaruh ponsel di depan tuannya yang memperlihatkan sebuah foto yang ia dapat dari sang pengirim.


Tony ikut tersenyum saat melihat tuannya tersenyum melihat foto pada ponselnya.


“Kerja bagus. Adikmu bisa diandalkan melebihi dirimu ternyata” puji pria itu.


“Ya ya ya adikku memang lebih bisa diandalkan” dengus Tony kesal.


“Hahahahahaha baiklah baiklah. Kau yang lebih unggul” kata pria itu sambil menepuk bahu Tony.


“Okay kau bisa langsung kirim foto itu padaku lalu keluarlah aku masih banyak kerjaan” sambung pria itu mengusir Tony.


“Baik tuan. Terimakasih. Sama sama” sindir Tony dengan nada kesal lalu pergi.


“Astaga... Apa dia sedang datang bulan seperti gadis remaja saja” gumam pria itu terheran kemuadian tertawa kecil melihat tinggah sekertarisnya yang satu itu.


...****...