
Lagi-lagi Ara di bangunkan dengan di siram air es, luka cambuk pada tumbuhnya terasa sakit saat tersiram air es. Tapi setidaknya Ara sedikit bersyukur bukan air garam yang di siram pada tubuhnya, walau tidak bisa ia pungkiri tubuhnya terasa beku kedinginan.
Ara melirik cendela yang menampakkan langit senja yang cantik di luar sana. Sayang mingkin setelah hari ini ia tidak dapat melihat indahnya alam semesta.
“Akhirnya kau bangun juga” ucap Felix memasuki ruangan kumuh dan baru Ara sadari terasa pengap itu.
Felix kembali duduk di kursi yang sama seperti tadi. Ara hanya bisa memandang orang yang dulu bahkan sampai detik ini ia anggap papa. Terlepas dari segala masalah, jujur Ara rindu akan kehangatan Felix pada nya semasa kecil saat mama Fiona masih hidup.
“Hmm sudah setengah lima saja, tapi kenapa kakakmu itu belum juga datang” ucap Felix bersandar santai.
Ara diam menatap Felix tubuhnya benar-benar lemas tak berdaya. Tangan dan kakinya terikat, bau amis dari tubuhnya juga tercium. Luka cambuk yang ia dapat kali ini tidak main-main.
‘Apa aku akan mati di tangan seorang ayah? Walau pun dia bukan ayah kandungku’ gumam Ara.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Tenang saja kau masih punya waktu setengah jam lagi sampai kakakmu datang. Jadi nikmati sisa waktu mu” ucap Felix lalu beranjak ke arah cendela.
Dari cendela ruangan ini Felix dapat melihat tiga mobil melaju le arah bangunan ini. Felix tersenyum melihat dua mobil anak buahnya yang sedang menggiring mangsanya. Sepertinya ia akan menang hari ini, yang ia lihat Alex memang tidak membawa siapapun.
Felix berbalik menatap Ara yang sedang menatapnya lekat.
“Kakak mu telah tiba dan sendirian” senyum Felix membuat tubuh Ara menengang.
“Jangan sentuh kakakku” lirih Ara yang membuat Felix tertawa lepas.
“Aku bahagia sekali hari ini” teriak Felix sambil tertawa.
“Kalian semua keluar dan bawa pria itu kehadapanku untuk bertekuk lutut padaku” perintah Felix pada anak buahnya yang sedari tadi menjaga Ara.
Kini hanya ada Felix dan Ara di ruangan itu. Raut wajah Ara terlihat panik dan cemas memikirkan kakaknya.
‘Kenapa aku malah membuat kak Alex dalam bahaya?’ cemas Ara.
Ara berusaha bangkit duduk tapi tubuhnya terlalu lemas untuk melakukannya. Ia sangat mengkhawatirkan kakaknya, apa lagi Alex benar-benar datang sendiri.
“Ada yang ingin kau ucapkan sebelum kematian menghampirimu?” tanya Felix menekuk satu lututnya di hadapan Ara yang meringkuk lemas.
“Aku menyayangimu pa, walau aku tau kau bukan papa kandungku. Jauh di lubuk hati ku, aku menyayangimu pa. Aku rindu merasakan kehangatan papa seperti saat aku masih kecil. Dulu aku berpikir papa membenciku karna diriku yang bodoh dan tidak bisa membanggakan papa, tapi ternyata aku juga orang yang membuat papa kehilangan mama. Aku minta maaf pa, kalau memang aku akan mati di tangan papa. Aku mohon jangan sakiti kak Alex. Janganlah larut dalam hal duniawi pa” ucap Ara sambil sesekali meringis menangis kesakitan.
Felix tertegun mendengar setiap rentetan kata yang terucap dari bibir Ara. Felix dapat merasakan ketulusan yang terpancar dari kedua bola mata sayu itu. Sesaat Felix merasa goyah, tapi segera ia tepis setiap rasa ragu yang menghampiri.
“Omong kosong” balas Felix datar lalu bangkit membelakangi Ara.
“Pah pa-“
“JANGAN SEBUT AKU DENGAN PANGGILAN ITU, AKU BUKAN PAPAMU!! SIALAN!!” teriak Felix sambil menarik tubuh lemas Ara dan melemparnya pada tumpukan kardus dan barang tak berguna di sudut ruangan itu dengan tangan dan kaki masih terikat. Sungguh kejam!
Ara berteriak saat tubuhnya terlempar dan menghantan dinding dan kardus keras, darah segar keluar dari bibir mungirnya saat ia berbatuk.
BRUAAKK
Di tengah kesadaram Ara yang menipis, pintu itu terbuka lebar karena tendangan seseorang.
“ARA!!” teriak Riko berlari mendekati Ara yang berbatuk.
“Sayang, kamu denger aku kan. Hey sayang” panik Riko saat melihat mata sayu kekasihnya.
Bagaimana tidak panik melihat kekasihnya dengan tubuh penuh luka, pakaiannya basah sampai menggigil dan batuk darah. Sungguh pemandangan menyakitkan baginya. Riko membawa Ara dalam dekapannya membelakangi Felix yang tersenyum sambil mengangkat pistolnya tepat di kepala Riko, Ara yang melihatnya spontan membalikan tubuh Riko sekuat tenaga yang ia miliki bersamaan dengan suara tembakan.
Disaat bersamaan pula Alex baru saja masuk ke dalam ruangan itu dan langsung melesatkan tembakannya ke arah Felix.
DOORRR
DOORRR
Dua tembakan melesat pada orang yang berbeda. Tembakan pertama mengenai lengan kanan Felix dan tembakan kedua mengenai punggung kiri Ara yang melindungi Riko.
“Rara, sa-sayang” lirih Riko dengan tangan bergetar menyentuh punggung Ara.
“Ara” gumam Alex terpaku beberapa detik lalu berlari menghampiri Ara yang jatuh dalam pelukan Ara.
“Rara, sayang tetap buka matamu okay kita ke rumah sakit sekarang” panik Riko sambil menangkup wajah sayu Ara.
Riko menggendong Ara berlari menuju mobil di bawah. Sedangkan Alex sendiri menghampiri Felix dan menghajar pria itu tanpa ampun. Bahkan ia bisa saja membunuh Felix, jika Tony tidak memisahnya.
“Tenang lah Lex, biar dia aku yang urus kau pergilah menyusul Ara dan Riko” ucap Tony memang ada benarnya, jadi Alex langsung berlari menyusul Ara dan Riko.
Dan masalah Felix akan di urus Tony dan Dion.
Di perjalanan menuju rumah sakit Riko terus berdoa sambil menekan luka tembak Ara dengan kain di tangannya.
“Lebih cepat lagi!” bentak Riko pada anak buahnya.
“Baik tuan” jawab pria di balik setir kemudi.
“Bertahanlah sayang” gumam Riko mengecup kening Ara.
“Seharusnya kamu biarkan saja aku tertembak sayang hiks” tangis Riko.
Biarkan apa kata orang, yang ada di pikiran Riko adalah keselamatan Ara saat ini. Sudah banyak darah yang keluar dan wajah Ara semakin pucat.
“Bertahanlah sayang, aku mohon” lirih Riko.
.
.
.
.
.
Di lobby rumah sakit dokter Heru dan tim nya sudah bersiap dan menunggu kedatangan Ara. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka di ikuti mobil lain di belakangnya. Seorang suster sgera membuka pintu untuk memudahkan Riko keluar dengan Ara. Riko langsung menaruh Ara di atas brankar yang sudah tersedia menanti kedatangannya.
Dokter Heru segera mendorong brankar masuk ke arah ruang operasi yang memang sudah di siapkan pula.
“Maaf tuan, anda tidak bisa masuk. Silakan tunggu di luar” jelas suster menghadang Riko.
Riko mengerang frustasi saat tidak bisa masuk tapi ia juga bisa apa saat ini selain mengikuti peraturan yang sudah berlaku. Tak lama Alex datang menghampiri Riko.
“Bagaimana dengan Ara, Rik?” cemas Alex.
“Ara masih di dalam. Gue gagal jaga adek lo Lex” ucap Riko terduduk di samping pintu.
“Sorry, gue udah gagal kali ini buat jaga adik lo” gumam Riko.
Alex meraup wajahnya frustasi, Alex paham betul jika Riko sudah menggunakan ‘Lo-Gue’ itu artinya ia benar-benar frustasi. Alex mencengkram bahu Riko.
“Lo gak gagal, emang udah takdirnya. Gak usah nyalahin diri lo sendiri, lo itu gak boleh lemah kek gini. Adek gue itu kuat masa lo lemah” ucap Alex sambil menepuk kedua bahu Riko.
“Yang harusnya bilang gagal jagain Ara itu gue, karena masalah di masa lalu Ara jadi dalam bahaya. Gue juga ngerasa gagal jagain adek gue sendiri, tapi gue nyoba untuk mikir lagi. Mau gue hadang mau pakek apa aja kalo udah takdir, gue bisa apa? Sekarang yang bisa kita lakuin cuma doa. Doa untuk keselamatam Ara” ucap Alex sambil duduk menundukkan wajahnya.
“Lo bener Lex, Ara juga bakal marah kalo liat lo sedih. Gue yakin Rara kuat” balas Riko.
Mereka berdua pun saling diam menunggu pintu terbuka. Sampai pintu itu pun terbuka.
“Bagaimana keadaan adik saya sus?” “Bagaimana keadaan Ara sus?” tanya Alex dan Riko bersamaan.
“Keadaan pasien saat ini sedang kritis karena kehilangan banyak darah, dan kebetulan stok darah di rumah sakit ini habis. Saat ini pasien butuh pendonor darah” jelas suster itu.
“Ambil darah saya dok, saya kakaknya” tegas Alex.
Suster pun mengangguk dan membawa Alex ikut masuk bersamanya. Tinggal Riko yang termenung sendiri menangkup wajahnya.
“Bertahanlah sayang” gumam Riko.
Hai hai gais, gimana nih kabar kalian hari ini? Sehat terus ya jangan lupa sama prokes🤗👍🏻
Dan jangan lupa like komen dan votenya🔥🔥🔥
Buat nambah vitamin author❣️