My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 48



Beberapa bulan kemudian...


Sejak kejadian malam itu Ara masih saja menghindari Fino. Hubungan dua bersaudara itu bisa dikatakan sangat renggang untuk saat ini.


Tapi tidak dengan Lisha, bahkan jika ada waktu senggang mereka janjian untuk bertemu ditempat Ara kerja atau sekedar makan siang di kantin sekolah.


Lalu bagaimana hubungan Riko dan Ara? Kini mereka terlihat lebih dekat sejak beberapa bulan terakhir ini.


Riko sering menjemput sekolah atau pun saat Ara pulang kerja. Tak jarang pula Ara datang ke apartement Riko untuk les privat.


Kebersamaan mereka mulai menumbuhkan rasa nyaman pada diri Ara. Entahlah ia tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya. Mungkinkah Ara jatuh cinta pada Riko seperti yang diharapkan Riko? Hanya Tuhan yang tau.


Ara juga sudah mulai membaut dengan yang lain. Ia lebih mengekspresikan dirinya. Dan perubahannya ini membawa warna baru bagi dirinya.


Sore ini Ara masih disibukkan dengan melayani beberapa pelanggan bersama Letha. Karena hari ini hari minggu cafe jadi ramai pengunjung.


“Ra istirahat dulu sana cuma kamu yang belum istirahat” ucap Letha membantu Ara membawa piring kotor.


“Iya bentar lagi masih ramai” jawab Ara.


“Sampai nanti juga bakal ramai Ra. Udah sana kamu istirahat. Kamu sakit Ra? Wajah kamu pucat banget tuh. Sana istirahat lagian juga masih ada mbk ina, mbak ayu, mas rey sama yang lain. Sekarang kamu makan trus istirahat” pinta Letha menarik tangan Ara ke ruang istirahat karyawan.


“Aku enggak apa-apa kog Tha, iya udah aku istirahat dulu ya” ucap Ara.


“Iya udah aku balik kerja kamu istirahat dulu ya” kata Letha lalu pergi.


Ara hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ara mulai mengambil nasi kotak yang sudah tersedia hanya tinggal miliknya saja dan memakannya.


Baru beberapa suap ia merasa tak berselera padahal lauk makan kali ini kesukaannya.


Ara juga merasa pusing sejak pulang sekolah tadi. Belum lagi tenaganya terkuras habis melayani pelanggan.


Ara memutuskan untuk rebahan di sofa dahulu sebelum ia kembali kerja. Mungkin dengan istirahat dulu pusing ku akan hilang, pikirnya.


Riko baru saja sampai diparkiran cafe, malam ini rencananya ia akan mengajak Ara jalan-jalan. Baru saja Riko keluar dari mobil ponselnya bergetar.


Ddrrtt dddrtttt


“Letha?” gumamnya.


“Ya hallo Letha ada apa? Bilang sama Ara saya sudah didepan” ucap Riko bersandar pada mobilnya.


“Hallo pak. Pak Riko bisa langsung masuk aja nggak. Ini Ara demam pak” ucap Letha khawatir.


Riko langsung berlari memasuki cafe tempat dimana Ara kerja. Ia mengedarkan pandangan mencari Ara dan Letha.


“Pak Riko” panggil Letha dan Ara yang tidak jauh dari tempat ia berdiri.


Riko berjalan kearah mereka berdua. Ia bisa melihat wajah pucat Ara yang duduk bersandar pada Letha.


“Ara kenapa tha?” tanya Riko khawatir.


“Ara demam pak. Mau saja bawa ke rumah sakit Ara nggak mau” jawab Letha.


“Yaudah biar Ara sama saya sekalian saya bawa ke rumah sakit. Kamu tenang saja saya tidak akan macam-macam. Kamu mau pulang bareng?” tawar Riko.


“Enggak usah pak. Kalau gitu saya titip Ara ya pak. Hati-hati pak” ucap Letha.


Riko hanya menganggukan kepala lalu menggendong tubuh lemas Ara diikuti Letha dibelakangnya. Letha segera membukakan pintu depan penumpang untuk Ara.


Riko pamit pada Letha mengitari mobil masuk pada pintu pengemudi. Ia segera menancapkan gas menuju rumah sakit terdekat.


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥