
Keesokkan harinya Ara sudah siap dengan seragam sekolah dan tas ranselnya menuruni tangga menuju ruang makan. Disana sudah ada Fino, Lisha dan Riko yang sedari tadi menunggunya untuk sarapan bersama.
“Selamat pagi” sapa Ara ceria menyapa semua orang diruang makan.
“Pagii” ucap mereka.
“Ayo dek duduk kita sarapan bareng ya kakak sudah lapar banget nih pengen langsung santap nasi gorengnya” ucap Lisha tertawa kecil.
“Maaf Ara telat buat kalian semua nunggu” ujar Ara duduk di sebelah Riko.
“Enggak apa-apa kog dek. Kalo mari kita makan” ucap Fino.
Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan nikmat tanpa suara. Selesai sarapan, Ara berangkat bersama Riko. Mereka berdua akan mampir apartement Ara untuk mengambil buku yang tertinggal dan menaruh boneka beruang milik Ara.
Di dalam mobil Ara memeluk bonekanya erat sambil terus tersenyum.
“Kangen banget ya sama bonekanya?” tanya Riko diangguki oleh Ara.
“Berarti setiap hari kangen juga dong sama yang ngasih boneka” ujar Riko yang lagi-lagi diangguki oleh Ara.
Riko tersenyum samar melihat Ara yang mengangguk. Ara tersadar spontan menatap Riko yang fokus dengan stir kemudi.
“Ck gak usah ge er tadi cuma salah denger aja kog” kilah Ara.
“Iya deh yang salah denger” ucap Riko melirik Ara di sampingnya.
Sesampainya di apartement, Riko membawa boneka beruang yang ia berikan pada Ara. Ia tidak ingin kejadian di pasar malam terulang lagi, dimana Ara akan menabrak seseorang karna tidak bisa melihat jalan.
“Kak Riko mau masuk dulu?” tawar Ara saat mereka di depan pintu apartementnya.
“Enggak usah aku tunggu sini aja lagian juga gak akan lama kan?” ucap Riko.
“Iya, Ara gak akan lama. Tunggu disini” kata Ara masuk kedalam setelah mengambil boneka beruangnya.
Di luar Riko tersenyum melihat tingkah Ara yang slalu membuatnya tersenyum. Tidak lama kemudian Ara keluar.
“Sudah siap? Tidak ada yang tertinggal?” tanya Riko memastikan.
“Udah kak gak ada yang tertinggal” jawab Ara tersenyum.
Mereka pun berjalan ke arah lift menuju basement. Saat pintu lift terbuka tampak pria tampan dengan setelan jas hitam melangkah keluar mendekati Ara.
“Kak Alex” panggil Ara di balas senyuman oleh pria tampan yang tak lain Alex.
“Kak Alex kog kesini?” tanya Ara.
“Iya, tadi nya mau jemput kamu sekolah. Eh ternyata ada yang jemput kamu” kata Alex menatap sinis Riko.
Riko sedari tadi hanya diam menahan kesal yang ia rasakan. Ara menatap Riko sekilas lalu beralih pada Alex.
“Ara udah di jemput sama kak Riko duluan kak” ucap Ara menatap Alex.
“Ara sebaiknya kita segera berangkat nanti kamu telat” ketus Riko menarik tangan Ara masuk ke dalam lift.
“Ah kak Alex, Ara berangkat dulu” pamit Ara saat masuk ke dalam lift.
“Hmm hati-hati” kata Alex melambaikan tangannya yang dibalas oleh Ara.
Alex terdiam di depan lift tersenyum mengingat wajah pria yang bersama adiknya tadi.
‘Ck ck dasar, bagaimana kalo dia tau Ara adikku? Apa masih cemburu padaku? Dasar pria bodoh’ pikir Alex.
Di basement
Riko menarik tangan Ara membuka pintu mobil menyuruhnya segera masuk ke dalam mobil dan Ara pun mengikuti perintah Riko.
Riko lalu berlari mengitari mobil dan masuk. Ia mulai menyalakan mesin mobil, lalu melajukan mobil dengan keceparan sedang.
“Nanti kamu telat” ucap Riko datar.
“Kak Riko kenapa sih ketus banget” ucap Ara bingung.
“Enggak” ucap Riko masih datar.
‘Dasar cowok aneh’ gumam Ara masih terdengar di telinga Riko.
‘Dasar cewek gak peka. Tau nggak sih aku tuh cemburu Ra. Pengen teriak biar denger dia tapi bukan siapa-siapanya’ batin Riko memukul stir kemudi.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Riko dengan rasa cemburunya dan Ara dengan rasa bersalahnya karna meninggalkan Alex.
...****...
Di tempat lain Alex baru saja sampai di kantornya. Ia berencana menyelesaikan kerjaan kantornya sebelum jam pulang sekolah tiba. Karena ia mau mengajak Ara jalan-jalan.
Baru saja Alex duduk di kursi kebanggaannya, Tony berjalan masuk ruang kerja Alex tanpa mengetuk pintu. Terlihat dari raut wajahnya yang terlihat bahagia.
“Apa pintu itu sudah berpindah tempat Ton?” ucap Alex datar.
“Sorry Lex tapi ini kabar penting yang kamu cari selama ini. Dion baru saja menemukan bukti-bukti tentang rencana penyerangan yang terjadi beberapa tahun lalu” ucap Tony.
Alex yang mendengar ucapan Tony spontan bangkit dari duduknya menatap sekertaris sekaligus asistennya itu dengan wajah datarnya.
“Katakan sekali lagi Ton” pinta Alex dengan mata tajamnya.
“Dion menemukan semua bukti rencana penyerangan beberapa tahun silam” tegas Tony.
Alex meneteskan air mata. Bertahun-tahun ia mencoba mencari titik terang dari penyerangan yang membunuh sang mama. Dan akhirnya ia bisa menemukannya.
Tony menepuk bahu Alex sebagai teman dan sahabatnya. Tony sudah mendengar semua tentang penyerangan yang terjadi. Ia turut bahagia mendengar kabar yang di berikan Dion tadi pagi pada nya.
“Lalu apa kita akan bergerak cepat?” tanya Tony pada Alex.
“Jangan dulu. Aku tidak ingin mengganggu pikiran Ara. Sebentar lagi ia akan ujian, jika kita bergerak sekarang itu hanya akan membuat pikiran Ara terganggu” jelas Alex menatap kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.
“Yang harus kamu lakukan adalah tetap awasi orang itu dan pastikan Ara tidak dalam bahaya. Kau paham maksudku Ton?” ucap Alex tegas.
“Paham tuan” tegas Tony sebelum undur diri.
Alex masih terdiam menatap lurus kedepan, terlihat sudut binirnya tertarik ke atas.
‘Akan ku buat mereka hancur pa ma. Tenanglah kalian di sana, aku janji akan membawa dan menjaga Ara untuk kalian. Sebentar lagi ma pa. Selangkah lagi orang itu akan hancur’ batin Alex mengepalkan kedua tangannya.
...****...
Di dalam kelas Ara baru saja menyelesaikan catatannya. Letha yang sedari tadi sabar menunggu Ara yang sibuk menyalin materi.
“Udah selesaikan Ra?” rengek Letha.
“Udah kog yuk ke kantin” ajak Ara.
“Gitu kek, dari tadi tuh aku udah laper tau Ra” rengek Letha.
“Siapa suruh nungguin aku. Lagian kenapa kamu enggak nyalin materi aja dari pada diem kayak tadi?” Kata Ara menatap Letha yang berjalan di sampingnya.
“Mager tau gak sih Ra. Lagian kan sekarang ada kamu nanti aku pinjam buku kamu ya? Buat aku bawa pulang besok aku kembaliin deh” ucap Letha merangkul bahu Ara.
“Dih itu namanya kamu manfaatin aku dong Tha” ketus Ara pada Letha.
Next👉🏻
Kira-kira bukti penyerangan apa ya gais🤔
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥