
Ara baru saja sampai di apartementnya. Ia masuk menarik koper dan menaruhnya disamping lemari.
Air matanya sudah habis, ia bertekad air mata yang tadi ia tumpahkan adalah air mata terakhir yang ia punya. Ia akan bangkit kembali, ia tidak percaya lagi dengan datangnya kebahagiaan.
Sekarang ia mulai menata lagi hidupnya. Ia akan mulai hari baru mulai hari ini. Ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa saat kemudian Ara keluar dengan wajah lebih segar. Ia menuju meja rias memakai sedikit bedak dan pelembab bibir.
Ara memilih celana jeans hitam dan kaos oblong lengan pendek. Setelah merasa sudah siap Ara meraih sling bag abu abu dan ponselnya.
Ara mencoba menghubungi seseorang sambil bersandar di pintu balkon apartementnya.
“Halo” kata Ara.
“Iya ra ada apa nih tumben telpon duluan” kata Letha.m disebrang sana.
“Aku tunggu di cafe deket taman kota sekarang” ucap Ara memutuskan sambungan telpon dan beranjak pergi.
Di lobby apartement Ara melihat Fino yang berjalan ke arahnya sambil berlari kecil.
”Ra kamu gak papa?” Tanya Fino memegang bahu adiknya.
“Ra kamu balik ke rumah lagi ya. Kamu gak usah dengerin omongan papa. Kamu adik kakak jadi kamu bisa tinggal sama kakak” sambung Fino.
“Ara mau pergi dulu kak dan Ara akan tetap tinggal di apartement. Permisi” kata Ara menurunkan tangan Fino dari bahunya.
Ara meninggalkan Fino dengan wajah datarnya. Ia akan berusaha untuk bisa berdiri sendiri sekarang. Yang harus ia pikirkan saat ini adalah dirinya tidak dengan orang lain.
...****...
”Kak aku pamit dulu ya. Ara ngajak ketemuan nih” ucap Letha pada Tony kakaknya.
“Mau kakak antar dulu?” Tanya Tony.
“Gak usah kak dari sini kan deket jadi Letha jalan kaki aja. Ya udah Letha pamit dulu kak daaa” pamit Letha berlari kecil.
“Letha mau kemana?” tanya pria dari belakang Tony.
“Oh mau ketemu Ara katanya” jawab Tony santai.
“Kog masih disini ayo ikutin mereka” kata pria itu beranjak pergi.
“Dasar gak jadi ditraktir deh” gerutu Tony.
“Antonius Wijaya!!!” teriak pria tadi diambang pintu cafe.
Tony mendengus kesal menyusul pria tadi yang tak lain tuannya. Tadinya ia dan Letha akan ditraktir tapi itu semua hanya angan angannya belaka.
...****...
Letha tersenyum melihat kedatangan Ara di pintu masuk, walau tidak bisa dipungkiri ia sedikit kesal karna Ara datang terlambat.
Letha melambaikan tangan pada Ara yang masih berdiri di sana melihat sekeliling cafe yang sedikit rame.
“Sorry telat” kata Ara duduk disebrang Letha.
“Gak papa ra, mo pesen makan apa? Laper nih” ucap Letha memanggil pelayan.
“Silakan mbak” ucap pelayan itu sambil memberikan buku menu pada Ara dan Letha.
“Hari ini cafe kita sedang berulang tahun mbak jadi semua menu hari ini gratis” jelas pelayan tadi.
“Oiya” kata Ara dengan mata berbinar.
“Baiklah saya pesan roti maryam dua, roti bakar dua, stik kentangnya dua sama jus jeruk satu” kata Ara semangat.
“Kalo dibungkus juga bisa gratiskan?” tanya Ara dibalas anggukan dari pelayan.
“Okay martabak telur yang special tiga sama martabak coklat keju manis tiga dibungkus ya. Makasih” kata Ara tersenyum manis.
Letha melongo melihat temannya yang satu ini menggila. Apa ia tak salah dengar dengan sederetan pesanan tadi pikirnya. Ia bahkan dibuat heran dengan senyum manis itu.
Letha menatap kearah pojok cafe yang terdapat dua pria yang tersenyum melambaikan tangan ke arahnya.
‘Sudahku duga. Siapa lagi kalo bukan mereka’ batin Letha.
“Saya jus jeruk satu sama roti bakar satu aja mbk” kata Letha.
Pelayan itu tersenyum dan permisi menyiapkan pesanan mereka.
🔥🔥🔥🔥