My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 102



Selesai makan malam para pria berkumpul di ruang kerja Alex membahas tentang keberadaan Tn. Felix saat ini dan apa saja yang dilakukan Clara beberapa hari ini.


“Jelas kan dengan rinci Ton” pinta Alex datar.


“Okay, jadi seperti tebakan mu bahwa Tn. Felix telah kembali beberapa waktu lalu. Cukup sulit mencari dimana dia tinggal saat ini. Jadi saat ini Dion masih mencarinya. Dion juga melaporkan saat kedatangan Tn. Felix langsung menemui Clara saat itu” jelas Tony membuat semua menghela nafas frustasi.


“Kita harus berhati-hati kalau begitu” cetus Fino.


“Bukan kita” ucap Alex datar.


“Apa maksudmu?” tanya Riko.


“Bagi ku yang harus berhati-hati di sini adalah aku dan Ara. Kau putra pria tua itu dan penerus satu-satunya yang dia punya jadi kau akan tetap aman sekalipun kau membangkang” ucap Alex menunjuk Fino lalu berganti pada Riko.


“Sedangkan kau adalah orang yang diinginkan Clara. Sudah pasti pria tua itu tidak akan melukaimu. Karna yang dia inginkan saat ini adalah membunuh aku dan Ara. Ck pria tua itu bahkan tidak mau bertobat” desis Alex menyilangkan kedua tangannya angkuh.


Fino dan Riko terdiam membenarkan apa yang Alex pikirkan. Karena sasaran utama adalah Alex dan Ara.


“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Tony.


“Laporkan pria tua itu atas kasus pembunuhan berencana pada keluargaku beberapa tahun lalu. Serahkan semua bukti yang sudah kita dapatkan dan pastikan pria itu mendapatkan hukuman yang berat” ucap Alex tenang sambil menatap lurus Fino yang kini menatapnya.


“Dan satu lagi buat perusahaan Alardo Corp. gulung tikar dalam waktu 5 hari kedepan di mulai dari besok. Kerjakan dengan teliti dan hati-hati” sambung Alex.


“Baik” ucap Tony paham sambil melirik Fino.


Tony bisa melihat raut frustasi dari Fino saat ini. Tony merasa kasian tapi bukankah Alex di sini yang lebih tersakiti, pikirnya. Jadi itu semua pantas untuk Tn. Felix.


Fino hanya bisa menghela nafas mendengar setiap perintah yang diucapkan Alex baru saja. Riko menatap sahabatnya yang hanya diam menunduk.


“Bagaimana menurutmu Fin?” tanya Alex membuat Fino mendongak menatapnya.


“Kau meminta pendapatku?” tanya Fino.


“Hmmm bagaimana pun dia papamu” jawab Alex datar.


Fino terdiam seketika, banyak hal yang ia pikirkan saat ini. Jika papanya masuk penjara berarti Fino harus siap akan kehancuran Alardo Corp. Tapi jika papanya dibiarkan saja maka nyawa Ara terancam. Seketika Fino ingat janjinya pada mendiang mamanya untuk slalu menjaga dan melindungi Ara dari orang jahat seperti papanya.


Sejauh ini Fino bahkan belum bisa menepati janjinya pada sang mama. Fino sering kali terlambat melindungi Ara dari amukan sang papa. Jadi Fino pun memutuskan.


“Jika dengan bertambah usia papa tidak mau bertobat, jadi serahkan saja semua bukti yang sudah kau dapat selama ini pada polisi. Jangan biarkan papa bebas dan tetap lah berhati-hati” ucap Fino akhirnya.


“Fin kau yakin dengan keputusan mu?” tanya Riko menepuk pundak sahabatnya.


“Aku yakin Rik. Tenanglah” jawab Fino.


Alex menghela nafas berat, ia merasa terlalu kejam pada Fino.


“Jangan paksakan jika kau ti-“


“Lakukan dengan rapi untuk keselamatan Ara dan dirimu” tegas Fino bangkit memotong ucapan Alex.


Alex mematap keseriusan di mata Fino. Alex bangkit lalu memeluk Fino sesaat.


“Thanks and sorry bro” ucap Alex.


“Apapun demi keselamatan Ara” ucap Fino menepuk bahu Alex.


“Baiklah mari kita semua saling melindungi sampai masalah ini terselesaikan. Sepertinya acara pertunanganku dengan Ara kita undur saja dulu” ucap Riko membuat Alex dan Fino memutar bola mata jengah.


“Ck menyebalkan” desis Alex dan Fino bersamaan.


Sedangkan Tony menahan tawa melihat wajah Riko yang kesal sendiri.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dari luar tak lama terbuka menampilkan Arumi yang berdiri dengan nampan ditangannya. Arumi sedikit menegang saat semua mata tertuju padanya. Sepertinya ia datang di saat yang kurang tepat pikirnya.


“A-aku mengantarkan kopi karna yang lain sedang sibuk membuat martabak manis di dapur” jelas Arumi gugup.


“Masuklah dan taruh di meja” ucap Alex.


Arumi menatap kearah Tony yang menganggukkan kepala pun segera menaruh nampan di atas meja.


“Makasih sayang” ucap Tony membuat pipi Arumi merona.


“Iri bilang bos” ucap Tony, Alex dan Fino bersamaan.


Riko melongo melihat kekompakan ketiga pria itu. Sama hal nya dengan Arumi.


“Ck kalian menyebalkan” teriak Riko kesal bangkit keluar.


“Mo kemana tuh bocah” ucap Alex terkekeh.


“Mau ngadu ma Ara kalik” sahut Fino tertawa puas.


Mereka bertiga tertawa kecuali Arumi pastinya.


Sedangkan Riko berjalan ke arah dapur dimana Ara dan yang lain sedang asik membuat martabak manis. Riko menghentikan langkahnya saat melihat Ara tertawa bahagia bersama Letha dan Lisha yang duduk sambil mengusap perut buncitnya.


Lama Riko mematap Ara, sampai Ara menyadari kehadiran Riko. Ara tersenyum mendekati Riko yang tak lepas memandangnya.


“Kak Fano kenapa diem di sini? Kita lagi buat martabak manis lo kak Fano mau kan?” ucap Ara menggapai tangan Riko dan mengajaknya untuk duduk di samping Lisha.


“Yang lain mana Rik?” tanya Lisha.


“Masih di ruang kerja Alex. Kalian yakin malem-malem makan martabak? Perasaan baru aja kita makan malam bareng” heran Riko.


“Kak Lisha pengen martabak jadi kita yang bikinin biar kak Lisha gak kecapekan” jawab Letha mengangkat martabak dari teflon dan menaruhnya dipiring besar.


“Nah udah mateng kak. Kak Lisha mau topping apa?” tanya Ara membantu Letha.


“Susu sama keju aja. Kalo yang lain terserah kalian aja. Tadi adonannya kan jadi 3 bagian. Yang itu punya kakak” ucap Lisha gembira sambil menunjuk martabak yang baru saja matang.


“Kak Lisha yakin habisin satu martabak? Itu banyak lo kak” ucap Riko.


“Kamu pikir kakak makan itu sendiri. Kamu lupa kakak lagi hamil ya pasti habis dong” sungut Lisha membuat Riko geleng-geleng.


“Sudah kak gak usah dengerin kak Fano. Biarin aja dia mah gitu orangnya” ucap Ara terkekeh sambil memarut keju seperti keinginan Lisha.


Letha sendiri memilih memberi topping untuk 2 bagian martabak yang lain.


“Dek tambahin susu di atas kejunya ya” ucap Lisha.


“Yah barusan susunya Letha habisin kak” ucap Letha mengangkat kaleng susu yang kosong.


“Ada kog yang belum di buka. Kak Lisha tenang aja” ucap Ara berjalan mengambil susu kaleng di laci bahan topping.


Riko yang melihat Ara kesusahan membuka kaleng susu kental manis pun bangkit dan membuka kaleng itu dengan pisau.


“Makasih kak” ucap Ara tersenyum.


“Sama-sama sayang” ucap Riko mengecup kening Ara.


“Haduuhhh jomblo mah bisa apa? Kasian sekali diriku yang jomblo. Satu pasangan dah nikah, satu nya lagi mau nikah trus yang ini dah mau di lamar. Lah gue jomblo di sini astaga” ucap Letha heboh.


“Kak Tony Letha gak mau jomblo sendirian” teriak Letha berjalan ke meja makan dengan sepiring martabak yang sudah ia tumpuk dan potong-potong kecil.


Lisha hanya tertawa melihat tingkah bar-bar Letha. Sedangkan Riko dan Ara hanya geleng-geleng kepala.


“Kita ke meja makan yuk kak ini dah jadi” ajak Ara.


“Biar aku bawa aja sayang” ucap Riko merebut piring martabak di tangan Ara.


“Gak usah aku aja yang bawa” rebut Lisha berjalan ke meja makan lalu melahapnya rakut.


Semua sudah berkumpul di meja makan lagi melihat si bumil yang kerasukan martabak buatan Ara.


“Sayang pelan-pelan” ucap Fino mengingatkan.


“Mengerikan” gumam Alex, Tony dan Riko bersamaan.


Letha, Arumi dan Ara hanya bisa menahan tawa menatap wajah aneh para pria sambil menikmati martabak.


Selamat malam gais, akhirnya bisa up lagi🤗


Next ya gais👉🏻