My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 27



Jam istirahat sudah berlalu dan saat ini Ara menunggu antrian kedepan mengambil buku tugasnya. Ia merasa deg deg an, bagaimana tidak merasa gugup. Ia bahkan dengan percaya diri mengatakan bahwa ia akan mendapat nilai di atas 80. Seumur-umur ia hanya bisa dapat nilai 50 itu pun paling mentok.


“Letha” panggil bu Vina.


Ara mendongak menatap Letha yang tersenyum bahagia. Ini bukan pemandangan yang asing bagi nya. Karna sudah ia pastikan nilai Letha pasti memuaskan ya walaupun bukan nilai sempurna tapi lebih baik, bahkan sangat baik ketimbang dirinya.


Ara menyangga kepalanya menatap Letha dari samping. Ia berpikir coba saja ia jadi Letha. Pemikiran yang akhir-akhir ini slalu muncul dalam benaknya.


Yang ia tau Letha hanya tinggal bersama kakaknya disini tapi ia terlihat bahagia. Ia juga sering bercerita hal-hal yang tidak pernah Ara rasakan.


Tapi ia juga harus sadar dan bersyukur, di luaran sana ada yang lebih menyedihkan ketimbang dirinya. Di bisa berteduh, sekolah, jalan jalan dan lain-lain. Karna itulah ia slalu mensyukuri semua ini walaupun itu sungguh berat baginya.


“Azallea Amaira A. Apa telinga mu sudah berpindah!” teriak bu Vina didepat sana membuyarkan lamunan Ara.


“I iya bu” jawab Ara bangkit berlari mengambil buku tugasnya.


“Tingkatkan sedikit lagi cantik” ucap bu Vina tersenyum.


Ara melongo menatap gurunya yang satu ini tidak hanya Ara tapi satu kelas pun dibuat tak percaya. Karena setiap ia mengambil buku tugas seperti saat ini, hampir semua guru akan mengomel karna ulah Ara yang asal-asalan dalam menjawab.


“I iya bu” gugup Ara berbalik menuju kursinya.


Ara menatap buku tugasnya membuka secara perlahan dengan mata terpejam. Letha menautkan alis melihat tingkah Ara. Ara membuka mata secara perlahan, seketika tubuhnya melemas saat melihat nilainya.


Letha mengintip nilai Ara. Ia menepuk pundak Ara senang.


“Wahh hebat kamu ra, tingkatkan lagi belajarmu” ucap Letha menyemangatinya.


“Hmmm” gumam Ara cuek menutup bukunya kasar dan memulai tidur siangnya.


Bu Vina pun melanjutkan pelajaran tanpa memperdulikan Ara yang mulai terlelap. Baginya dengan Ara mulai sedikit berubah sudah membuatnya senang. Sejujurnya ia sangat menyatangi seluruh anak didiknya. Ya memang harus sabar, bukannya dulu aku juga seperti mereka pikirnya.


...****...


Di tempat lain pria tampan bersetelan jas navy sedang duduk menatap kaca besar di depannya yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi dari atas ruang kantornya.


Tok tok tok


“Masuk” ucap pria itu.


Cklek


“Bagaimana Ton?” tanya pria itu.


“Semua sudah saya persiapkan tuan. Nona Ara dan Letha bisa bekerja sebagai pelayan di AA Cafe mulai nanti sepulang sekolah. Saya juga sudah bicara pada Leo kalau mereka adalah rekrutan tuan. Jadi siapa pun tidak bisa memecat mau pun mengganggu mereka” jelas Tony.


“Baiklah buat mereka merasa nyaman kerja di sana, terutama Ara. Dan pastikan mereka tidak kecapekan. Satu lagi, pastikan jadwal makan siang dan malam tepat pada waktunya. Bilang pada Leo untuk menyediakan mereka dengan makanan yang sehat dan higienis. Saya tidak ingin Ara jatuh sakit karna telat makan atu salah makan. Kamu mengerti Ton?” jelas pria itu panjang lebar sama dengan luas persegi panjang.


“Mengerti tuan” jawab Tony.


“Kau bisa keluar. Kembalilah nanti sore karna aku ingin menemui Ara ku, malaikat kecilku” ucap Pria itu


”Baik tuan. Permisi” kata Tony berlalu pergi meninggalkan pria itu sendiri.


🔥🔥🔥🔥