
Di tengah jalan tiba-tiba Lisha menepuk pundak suaminya berulang ulang sambil menutup mulutnya. Fino yang paham maksud istrinya segera menepikan laju motornya.
Lisha segera turun dari atas motor dan
Huuueeekk... hueeekk... huuueeekkk
Lisha memutahkan seluruh isi perut yang baru ia makan tadi. Fino segera memijat tengkuk istrinya. Ia merasa heran ada apa dengan istrinya.
“Kamu makan apa sih sayang sampek bisa kayak gini?” tanya Fino mengusap punggung istrinya.
Lisha menggeleng lalu bersandar pada dada bidang suaminya.
“Kakiku lemes mas” kata Lisha lirih.
“Kita duduk disana bentar ya sayang” ajak Fino menuntunnya menuju kursi taman pinggir jalan.
“Kamu tunggu disini bentar ya mas beliin minum di sana” tunjuk Fino pada toko diseberang.
“Gak usah mas kita pulang aja ya, kepala aku juga pusing” pinta Lisha dengan wajah pucatnya.
“Mas telpon supir rumah dulu ya biar nanti sekalian bawain motor mas”
Fino segera menelpon supir rumahnya sambil memeluk Lisha erat. Terlihat wajah Lisha yang pucat pasi, ia bersandar pada dada suaminya berusaha untuk menghilangkan sedikit rasa pusing.
“Kita ke ruamg sakit dulu ya sayang” ajak Fino mengelus surai panjang istrinya.
“Enggak usah mas. Palingan cuma masuk angin aja jadi kita pulang aja” kata Lisha.
Tak lama kemudian mobil yang dikendari supir Fino pun datang. Ia segera menuntun Lisha masuk duduk di samping pengemudi.
Setelah itu Fino memberikan kunci motor pada supirnya dan berlalu mengitari mobil. Ia segera menancap gas menuju rumah, tidak lupa ia juga mengabari Riko jika ia dan istrinya tidak jadi ke pasar malam.
Sesampainya di rumah Fino menggendong Lisha ala bridal style menuju kamar. Ia baringkan tubuh lemah Lisha diatas kasur.
“Sayang kamu yakin gak mau ke dokter gitu?” cemas Fino.
Karna selama mereka membina rumah tangga baru pertama kali ini istrinya jatuh sakit sampai sepucat ini. Lisha termasuk perempuan yang kebal akan penyakit tubuhnya selalu fit, tapi saat ini entah apa yang membuat tubuhnya akhir akhir ini sering mudah lelah dan pusing.
“Enggak usah mas” tolak Lisha.
“Kamu tunggu sini ya mas buatin teh anget dulu buat kamu” kata Fino bangkit ke dapur setelah menyelimuti istrinya.
Lisha hanya mengangguk tersenyum melihat Fino yang hilang dibalik pintu kamar. Ia memijat pelipisnya sebentar berusaha menghilangkan pusing yang kembali menyerang.
Ckleck
Lisha pun minum teh yang dibuatkan suaminya dengan perlahan. Tapi ia merasa ada yang aneh dengan teh yang baru saja di minum.
“Mas” ucap Lisha menatap Fino sambil menahan tawa.
“Iya ada apa sayang? Kamu butuh ke dokter? Kita berangkat sekarang ok” panik Fino.
Ia mulai mencari kunci dan ponsel di meja dan segera meraihnya. Ia berlari kecil kearah ranjang berniat menggendong istrinya.
“Mas” kata Lisha menahan Fino yang akan menggendongnya.
“Iya sayang. Ada apa? Apa begini saja mas telpon dokter Han agar ia kesini saja. Ah benar juga kenapa baru kepikiran sih” dumel Fino bercampur kepanikannya.
“Ih mas Fino dari tadi aku mau ngomong tapi mas srobot terus” kesal Lisha.
“Aku cuma mau bilang kamu salah ambil gula ya” sambung Lisha.
“Hah” ucap Fino dengan muka polosnya.
Lisha menyodorkan segelas teh yang tadi ia minum sedikit dan langsung diminum Fino.
“Hah kog asin sih yang rasanya?” tanya Fino.
“Oh astaga sayang maafin aku ya. Aku terlalu khawatir sama keadaan kamu sampai mas gak fokus nuangin garam yang seharusnya gula diminuman kamu. Astagaaa maafin ya sayang. Biar mas buatin yang baru” heboh Fino yang membuat Lisha tertawa.
“Gak papa mas, kan mas Fino gak sengaja dan gak usah bikin lagi. Aku cuma mau tidur sambil dipeluk sama mas” manja Lisha.
“Baiklah kita tidur sekarang biar besok pagi badan kamu dah fit lagi” kata Fino tersenyum berbaring memeluk istrinya.
“Mas” panggil Lisha.
“Apa sayang?” Kata Fino mematap wajah Lisha yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya.
“Ara gimana mas?” tanya Lisha teringat adik iparnya itu.
“Biarin saja mereka belajar kencan hehehe. Tadi mas juga sudah kirim pesan ke Riko biar pulang gak kemalaman. Jadi sekarang kita tidur dulu aja” jelas Fino.
Lisha menganggukkan kepala paham dan mulai memejamkan mata sambil memeluk Fino. Fino mengecup kening Lisha saat melihat istrinya yang sudah pulas dalam tidurnya.
“Cepat sembuh sayang” kata Fino sebelum ia tertidur.
...****...
Welcome maret gais🎉✍🏼