
“Apa yang ingin papa bicarakan?” tanya Fino to the point saat di dalam ruang kerjanya.
“Papa hanya ingin memperingatkan kamu jangan lagi mengurusi keuangan anak itu. Jangan memberikan uang lagi padanya. Sedikitpun” kata Tn. Felix santai sambil duduk santai di sofa yang tersedia.
“Maksud papa apa? Ara juga anak papa! Dia butuh uang pa!” kata Fino tak habis pikir dengan jalan pikir papanya itu.
“CUKUP TURUTI PERINTAH PAPA!!! MULAI SAAT INI JANGAN PERNAH KAMU MEMBERIKAN ANAK ITU UANG ATAU PAPA AKAN MEMBUAT KAMU BERPISAH DENGAN ISTRIMU!!!” teriak Felix menggema.
“DAN BERI FINO ALASAN KENAPA PAPA MENGHALANGIKU UNTUK MEMBERI ARA UANG SEDANGKAN DIA ANAKMU DAN DIA ADIKKU” teriak Fino tak kalah kerasnya.
“Alasan? Sekarang kamu tanya alasan? kau bahkan sudah tau alasannya. ALASANNYA KARENA DIA BUKAN ANAK KANDUNGKU DAN KARENA DIA ISTRIKU MENINGGAL YANG TAK LAIN ADALAH MAMAMU. AAPA YANG HARUS DIPERTAHANKAN DARI ANAK SEBODOH SEPERTI DIA YANG ADA HANYA MEMBUATKU MALU!!! BAGAIMANA JIKA REKAN BISNIS PAPA TAU? JIKA ANAK ANGKAT YANG MENYANDANG GELAR NAMA ALARDO DIBELAKANG NAMANYA ADALAH ANAK YANG BODOH. MAU DITARUH MANA MUKA KU HAH!!!” bentak Felix dengan amarah membara.
“Tapi pa-“
“Tidak ku bunuh anak itu kau harus nya sudah bersyukur. Mulai hari ini jangan lagi kamu mengurusi keuangan anak itu. Kamu tau kan papamu seperti apa bukan? Jadi turuti perintahku. Camkan itu!” tuding Tn. Felix memotong ucapan Fino lalu beranjak pergi.
“Aaaarrrgghhh” teriak Fino frustasi mengacak meja kerjanya.
“Apa lagi yang diinginkan papa? Kenapa dia setega itu pada Ara?” gumam Fino.
Lisha perlahan masuk kedalam ruang kerja suaminya setelah papa mertuanya berpamitan untuk pulang, ia mendekati Fino lalu mengusap lembut punggungnya. Fino menoleh menatap Lisha yang tersenyum manis padanya, segera ia rengkuh tubuh sang istri dalam pelukannya.
“Sayang kamu istirahat dulu ya di kamar, mas mau rekap nilai dulu” ucap Fino melepas pelukannya.
Fino tidak mau Lisha terlalu banyak pikiran yang akan berpengaruh pada janinnya. Biarkan ia yang menyelesaikan permasalahan ini dan mencari cara agar ia tetap bisa menafkahi adiknya tanpa ketahuan sang papa.
“Kamu yakin udah enggak apa apa mas?” tanya Lisha menatap sendu suaminya.
“Kamu bisa cerita sama aku mas. Memang tadi papa bicara apa sama mas? Apa ada masalah serius sampai mas mengacak meja kerja mas?Mungkin aku bisa bantu mas” tambah Lisha.
Sedangkan di rooftop sekolah terlihat dua anak manusia yang sibuk dengan buku di tangan mereka, siapa lagi kalo bukan Riko dan Ara.
Sesuai kesepakatan kemarin Riko akan mengajari materi tambahan untuk Ara di jam istirahat pertama dan kedua. Tadinya Ara sempat protes karna seharusnya les privatnya antara jam istirahat pertama atau kedua. Tapi akhirnya ia lebih memilih mengalah dari pada Riko ngotot sepulang sekolah.
“Sudah” ketus Ara menaruh bukunya di atas meja lalu mulai menyantap baso dan jus jeruk yang udah mulai dingin.
“Kau ini, bahkan saya belum menilai tugasmu dan kau malah mulai makan. Dasar” omel Riko.
Ara cuek saja yang ia pikirkan saat ini adalah baso kesukaannya. Riko tersenyum melirik Ara yang sibuk melahap basonya. Sampai ia tidak sadar sisa mie yang menempel di sudut bibirnya.
Riko mengambil sapu tangan di dalam celananya lalu membersihkan sudut bibir Ara. Spontan Ara menoleh menatap gurunya satu ini. Seketika tatapan mereka saling terkunci bagai digembok kuat saat ini.
Tanpa di sadari mereka saling merasakan detak jantung yang berlari maraton.
‘Perasaan apa ini? Ada apa dengan jantungku? Apa aku harus ke dokter siang ini? Sial jantung ini tidak ingin santai saja apa?’ batin Ara.
‘Ara apa kamu juga merasa deg deg an seperti aku saat ini? Sampai kapan kamu melupakan ku?’ batin Riko masih sama terpakunya seperti Ara.
Selamat malam gaiss...
sorry banget banget banget yaa baru up lagi. Semoga kalian suka❣️
Oiya gais kira kira bakal happy ending atau sad ending nih? Tulis komentar kalian ya😊
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥🔥