My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 74



Sesampainya di rumah sakit Ara langsung mendapatkan penanganan di UGD oleh dokter Heru yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Alex saat diperjalanan.


Alex sedari tadi terus berdiri di depan pintu UGD sambil terus mondar-mandir tiada henti. Tak lama kemudian Tony datang mendekati Alex.


“Apa yang terjadi Lex?” tanya Tony pada Alex.


“Ara makan udang” singkat Alex.


“Bagaimana bisa?” tanya Tony terkejut.


“Pelayan itu” ketus Alex melirik tajam pada pelayan tadi yang berdiri tidak jauh darinya dan Tony.


Tony pun mengikuti tatapan Alex dimana seorang gadis seumuran Ara atau mungkin dua tahun di atas Ara yang menunduk ketakutan karna terus dimarahi oleh managernya.


“Tenanglah. Biar aku yang urus pelayan itu, kamu fokus sama Ara aja” ucap Tony menepuk punggung Alex.


“Pelayan itu hanya teledor, kau pastikan dia tidak di pecat. Kalau pun di pecat kau tau apa yang harus kau lakukan” ucap Alex singkat.


Tony tersenyum mendengar ucapan Alex. Tony tau sekeras apapun Alex, ia masih punya sisi hati yang lembut. Hanya saja Alex tidak bisa mengutarakannya langsung. Tony pun memutuskan untuk mendekati gadis pelayan itu.


“Maafkan saya pak. Saya benar-benar minta maaf atas kejadian ini” tangis gadis itu.


“Sudah saya bilang berapa kali jangan melamun saat bekerja, tapi kamu tetap melamun terus. Hasilnya jadi seperti ini. Mulai hari ini kamu saya pecat” ucap manager cafe itu marah.


Tony berdehem membuat manager cafe dan gadis itu menoleh.


“Maafkan karyawan saya tuan. Saya pa-“


“Pecat dia dan pergilah dari sini” ucap Tony datar membuat manager cafe itu tertegun.


“Saya sudah memecatnya tuan ka-“


“Pergilah dan biarkan gadis ini disini” ucap Tony lagi-lagi memutus ucapan manager cafe itu.


Manager cafe tersebut pun segera pamit dan meninggalkan gadis malang itu sendiri bersama Tony.


“Siapa namamu?” tanya Tony tanpa ekspresi.


“A... Arumi” gugup gadis itu di sela isakannya.


“Kau masih sekolah?” tanya Tony datar.


“Sa... saya masih kuliah tu... tuan” jawab gadis itu sambil meremas jemarinya.


“Apa kau sengaja membuat nona muda seperti ini?” tanya Tony menatap tajam gadis di depannya.


”Tidak tuan!” sangkal gadis bernama Arumi itu mendongak menatap Tony.


Sesaat kedua nya saling memandang satu sama lain. Menikmati setiap rasa yang menjalar di hati. Ada rasa yang berbeda saat mereka saling memandang. Hingga akhirnya Arumi yang lebih dulu memutuskan kontak pandang mereka.


Ehem


Tony berdehem menetralkan rasa gugupnya. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya saat menatap mata indah gadis di depannya.


“Sa... saya benar-benar minta maaf. Tapi saya tidak berencana mencelakai nona tadi” jelas Arumi.


“Baiklah. Kamu tetap tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Kalian jaga gadis ini jangan sampai kabur” ucap Tony pada kedua bawahannya yang sedari tadi mengikutinya.


Tony melirik Arumi yang terus saja menunduk ketakutan. Ia pun berjalan mendekati Alex yang masih setia berdiri di depan ruang UGD.


...****...


Sedari tadi Lisha terus saja menghubungi Ara namun tak ada satu pun panggilan darinya yang terjawab. Lisha mencoba menghubungi nya sekali lagi. Sampai pada akhirnya telponnya pun di angkat.


“Halo Ara kamu kemana saja? Kenapa baru angkat telpon kakak sih? Kamu bikin cemas kakak tau nggak?” ucap Lisha cemas.


“Apa?! Bagaimana bisa? Dan siapa anda?” panik Lisha.


“Kau bisa langsung kesini bukan. Aku kirim alamat rumah sakitnya” ucap pria di sebrang sana lalu memutus kan sambungannya.


Lisha masih terpaku memandang ponselnya. Setelah mendapatkan alamat rumah sakit Lisha langsung pergi menuju rumah sakit. Tidak lupa ia menghubungi suaminya agar langsung menyusul ke sana.


...****...


Di rumah sakit Alex baru saja menerima telpon dari kakak ipar Ara yang terus menelpon sedari tadi dan belum sempat ia angkat. Alex melirik Tony sekilas.


“Apa dia di pecat?” tanya Alex pada Tony.


“Dia sudah di pecat tadi” jawab Tony sambil menatap Arumi yang masih duduk di sana tak jauh dai mereka.


“Hah. Aku tau dia tidak sengaja. Jadi suruh dia bekerja di AA Cafe. Suruh dia pulang dan besok mulai bekerja. Kau antar dia sana” ucap Alex datar.


“Hmmm nanti saja tunggu sampai dokter keluar” ucap Tony masih melirik Arumi.


Tidak lama kemudian dokter Heru keluar dari ruang UGD. Alex langsung mendekati dokter Heru.


“Bagaimana keadaan adik saya? Dia baik-baik saja kan?” tanya Alex dengan raut wajah cemasnya.


“Kau tenang saja Lex, untung Ara segera di bawa kemari dan mendapatkan pertolongan. Setelah ini ia akan di pindahkan keruang rawat. Untuk beberapa hari ini ia harus di rawat inap dulu. Tenang saja adikmu baik-baik saja” jelas dokter Heru menepuk bahu Alex.


Alex yang mendengar pun ikut lega sama hal nya dengan Tony dan Arumi yang kini berdiri di belakang Tony.


“Jaga adikmu Lex, aku tinggal dulu” ucap dokter Heru pergi.


...****...


Kini Alex sedang duduk di samping Ara yang berbaring lemas masih dalam pengaruh obat. Alex menggenggam tangan Ara lalu mengecup keningnya.


“Lekaslah sembuh, maaf atas kelalaian kakak” lirih Alex.


Alex hanya sendirian menunggu Ara, karna tadi ia menyuruh Tony untuk pergi mengantarkan Arumi pulang sekaligus memberi tau bahwa besok ia mulai bekerja di cafenya.


Alex memang kejam dan kasar tapi ia tidak akan tega membuat hidup orang seperti Arumi sengsara. Alex juga merasa bahwa Tony menyukai Arumi saat pertama bertemu. Entah lah apa yang dipikirkannya.


“Kakak janji Ra kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi untuk kedua kalinya. Kakak janji” ucap Alex.


Tiba-tiba pintu ruangan Ara terbuka dan bisa di tebak siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan Fino dan Lisha.


“Ara” panggil Lisha mendekati Ara yang masih tidur.


Lisha berdiri di samping ranjang Ara mengusap kepala Ara lembut penuh kasih sayang.


“Apa yang terjadi pada Ara? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Lisha pada Alex.


“Ara tidak sengaja makan udang saat di restoran tadi saat kita makan bersama” ucap Alex menjelaskan pada Lisha.


Fino yang mendengar jawaban singkat Alex pun langsung menarik kerah baju Alex dan memberikan pukulan keras di wajah Alex. Alex yang belum siap pun terjungkal ke belakang dengan sudut bibirnya yang berdarah.


Lisha pun kaget dan langsung menarik tangan suaminya menjauh.


“Mas tenang dulu. Kenapa kamu kayak gini sih jangan buat keributan di rumah sakit” ucap Lisha menenangkan.


“Bagaimana aku bisa tenang Ara jatuh sakit juga karna pria itu. Dia pasti sengaja melakukan ini. Mulai hari ini kau jauhi Ara. Jangan pernah kau dekati adikku lagi” ucap Fino menahan amarahnya.


“Ara juga adikku dan asal kau tau tidak akan ada seorang kakak yang berniat mencelakakan adik kandungnya sendiri” ucap Alex tajam.


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote 🔥🔥🔥🔥