
Di dalam kamar Letha duduk di tepi ranjang mengusap dadanya yang masih berdegup kencang.
“My future wife?” ucap Letha pada dirinya.
“Apa itu pertanda kalau kak Alex juga suka sama aku?” ucap Letha sambil tersenyum gembira.
Seketika senyum itu hilang saat mengingat semua itu tidak akan mungkin terjadi. Mustahil!
“Letha apaan sih kamu halu deh? Kak Alex mana mau sama kamu. Di luar sana bahkan banyak cewek cantik lebih dari kamu. Nyadar dong Tha pasti selama ini kak Alex ilfeel sama kamu yang bar-bar” keluh Letha pada dirinya sendiri.
Letha menghela nafas lalu berbaring dan menyelimuti dirinya. Menatap langit-langit kamar membayangkan apa yang terjadi tadi itu memang nyata.
“Udah Letha stop! okay. Kamu harus tidur” ucap Letha sambil memukul pelan kepalanya yang mungkin sedikit tergeser.
Letha mencoba memejamkan matanya dan mulai terlelap dalam mimpi.
Di kamar lain, Alex merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kesayangannya. Alex memikirkan apa ucapan Ara tadi. Sejujurnya ia sangat ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan beberapa bulan terakhir ini pada Letha. Tapi rasa takut atas penolakan Letha nantinya membuat Alex menjadi pria pengecut.
Bahkan Alex tidak bisa membayangkan akan seperti apa dirinya jika ditolak oleh Letha atau lebih parahnya melihat Letha dengan pria lain.
“Aaarrghh aku bahkan tidak bisa membayangkannya” teriak Alex frustasi untung saja kamarnya dalam mode kedap suara.
“Kenapa susah sekali mengungkapkan perasaan ini?” teriak Alex sekali lagi sambil mengacak rambutnya.
“Bukankah aku hanya tinggal bilang. Tha I Love You” ucap Alex mengacak kasurnya.
Sejenak Alex terdiam menatap sekeliling kamarnya mencoba mengingat apa yang baru saja ia ucapkan.
“Aaarrrghhhh bahkan aku lancar saat mengucapkannya sekarang. Kenapa saat di depan Letha sangat sulit? Astaga! Ya Tuhan!” desis Alex benar-benar frustasi.
Tok tok tok
Alex menatap pintu kamar nya yang di ketuk. Lalu beralih pada jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Tok tok tok
Alex bangkit membuka pintu kamar dan ternyata Ara yang berdiri di balik pintu dengan guling dipelukannya.
Alex mengernyit menatap wajah melas Ara.
“Ada apa dek?” tanya Alex mengacak rambut Ara.
“Ara boleh tidur sama kakak? Ara gak bisa tidur lagi dan semua obat yang bisa bantu Ara tidur udah kakak buang waktu itu” ucap Ara memelas.
Memang waktu itu Alex sempat marah dengan Ara yang mengonsumsi obat tidur untuk membantu pola tidurnya. Setelah hari itu jika Ara tidak bisa tidur ia akan ke kamar sang kakak.
Alex tidak keberatan saat Ara tidur di sampingnya. Sudah banyak waktu terbuang dan Alex melewatkan kebersamaan mereka di masa kecil. Ingat Alex bukan kakak yang mesum, Alex hanya tidak mau Ara terus bergantung pada obat tidur.
“Baiklah malaikat kecil, biar kakak temani kamu hmm” gemas Alex.
Ara segera naik ke ranjang tidur dan berbaring memeluk gulingnya menghadap Alex yang jug menghadapnya.
“Sekarang tutup mata dan tidur malaikat kecil kakak” ucap Alex mengusap kepala Ara lembut.
“Makasih kak” ucap Ara mulai memejamkan mata karna kantuk yang menyerang.
Alex tersenyum menatap wajah tidur Ara, wajah Ara slalu mengingatkannya pada sang mama.
‘Mah Alex kangen sama mama. Andai saja malam itu tidak terjadi apa-apa, mama sama papa pasti masih disini. Temenin aku sama Ara disini. Pa ma Alex kangen kalian. Papa pernah bilang laki-laki itu gak boleh cengeng, tapi malam ini Alex cengeng pa. Semoga papa dan mama tenang disana. Amin’ batin Alex dengan derai air mata.
Alex mengusap air mata yang terus mengalir lalu membenarkan selimut Ara yang sudah terlelap. Alex mengusap pipi Ara lembut dan mulai memejamkan mata.
‘Sepertinya aku harus mengunjungi makam papa dan mama besok bersama Ara’ pikir Alex lalu tertidur.
Keesokan paginya rumah Alex lebih ramai terutama di dapur. Lisha, Arumi dan Letha sudah berkutat dengan alat masak bersama beberapa pelayan. Sedangkan para pria menikmati secangkir kopi di gazebo taman belakang.
“Ara masih tidur di kamar ku” ucap Alex santai membuat Riko tersedak seketika.
“Kenapa Ara tidur denganmu? Kenapa tidak denganku saja” sungut Riko menatap tajam Alex.
Bukannya menjawab Alex lebih memilih melempar Riko dengan bantal kecil di sampingnya tepat di wajah.
“Apa yang kau pikirkan hah! Kau ingin mati di tangan ku!” kesal Alex menatap datar Riko.
“Apa Ara masih memikirkan paket kemarin Lex?” tanya Fino cemas.
“Tidak, Ara hanya tidak bisa tidur dan obat tidur yang biasa ia konsumsi sudah ku buang. Selama ini Ara akan minum obat itu saat tidak bisa tidur. Jadi setiap Ara tidak bisa tidur dia akan ke kamarku. Aku tidak mau Ara terus bergantung pada obat itu” jelas Alex.
Fino, Riko dan Tony menghela nafas bersamaan mendengar penjelasan Alex.
“Maaf untuk semua nya Lex” ucap Fino lagi-lagi merasa bersalah.
“Sudah lupakan saja. Semua ini adalah kelakuan papamu bukan dirimu” balas Alex.
“Aku akan berjanji slalu menjaga Raraku” sahut Riko.
“Ku harap kau tidak akan menyakiti hati adikku. Jika itu terjadi aku akan menjadi orang pertama yang membunuhmu” tekan Alex menatap Riko lekat.
“Memang kau merestui mereka berdua Lex?” tanya Fino pada Alex.
“Tidak” jawab Alex santai membuat Fino dan Tony tertawa lepas.
Riko hanya berdecak kesal dengan tingkah usil ketiga pria di depannya itu.
“Ah iya Tony batalkan semua pertemuan hari ini” ucap Alex.
“Hari ini kebetulan tidak ada pertemuan tuan” jawab Tony hormat.
“Ck kita masih dirumah, kau tau itu” desis Alex.
Sampai dering telpon milik Riko berbunyi ternyata sekertarisnya menelpon untuk mengingatkan Riko rapat penting yang akan di mulai 45 menit lagi.
“Ck kenapa aku bisa melupakannya” kesal Riko bangkit.
“Kau mau kemana?” tanya Fino.
“Aku baru ingat pagi ini ada rapat penting. Kalau begitu aku duluan” pamit Riko.
“Kau tidak sarapan dulu?” teriak Fino karna Riko mulai menjauh.
Riko hanya membalas lambaian tangan tanda tidak ikut sarapan bersama. Riko berlari sampai pintu utama Riko berhenti lalu berbalik menaiki tangga menuju kamar Alex.
Perlahan Riko membuka pintu kamar Alex dan masuk mencari putri tidur nya. Riko tersenyum melihat Ara yang masih terlelap. Riko duduk di samping Ara mengusap pipi Ara.
“Sayang sekali kau masih tidur, kalau saja tidak ada rapat penting itu aku pasti bisa melihat senyummu sebelum berangkat kerja” gumam Riko.
“Have a nice day dear” ucap Riko mengecup kening Ara.
Riko bangkit keluar dari kamar Alex lalu berangkat ke kantor.
Selamat malam kesayangan author❣️
Next ya👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥
Thanks you🥰