
“Beneran nih mau bantu?” tanya Tony dengan wajah dibuat serius.
“Iyalah” ucap Fino dan Riko bersamaan.
“Tunggu nanti aja lah, kalau dalam waktu 3 hari tuh cowok tetep kekeh sama egonya yang tinggi, kelar dah” ucap Tony dengan serius.
“Widihhh serem” ucap Fino tertawa diikuti Riko dan Tony.
Alex sendiri yang menjadi topik pembicaran mereka terlihat wajahnya yang panik mendengar ucapan Tony yang benar-benar serius kali ini.
‘Enggak boleh, Letha hanya akan jadi milikku tidak untuk pria lain’ batin Alex.
Sepertinya Alex memang harus segera melamar Letha pada Tony, sebelum pria lain merebutnya.
“Kalian pada ngomongin apa sih?” tanya Letha heran.
“Iya deh kalian tuh kog jadi tukang gosip sih” sambung Lisha.
“Iya kan kasian Ara yang liatin makanan dari tadi gak makan-makan” tambah Arumi.
Ara yang memang paham tentang pembicaraan para pria hanya diam dan menatap menu makanan yang semuanya makanan kesukaan Ara.
“Ya ampun sayang kamu udah laper banget ya. Maaf ya bikin kamu nunggu, sini biar aku ambilin buat kamu” ucap Riko sambil mengambil piring lalu mengisi nasi dan lauk yang diinginkan Ara.
“Masih mau tambah lauk yang mana lagi?” tanya Riko lembut.
“Udah itu aja kak nanti kalo mau lagi tinggal ambil. Makasih kak Fano” ucap Ara tersenyum manis.
“Sama-sama sayang” jawab Riko mengusap rambut Ara.
Semua orang yang melihat perhatian Riko pada Ara hanya bisa tersenyum dan berdoa untuk hubungan mereka berdua. Terlebih Alex dan Fino, dua pria itu tersenyum sekaligus merasa lega dan percaya Riko lah pria yang tepat untuk adik kecil mereka.
“Okay stop kemesraannya kita lanjut makan, selamat makan semua” ucap Letha.
“Selamat makan jomblo” ucap mereka pada Letha diiringi canda tawa, kecuali Alex yang tersenyum tipis.
Letha mendengus kesal mendengarnya sambil mengerucutkan bibirnya. Alex pun menegur mereka untuk tidak berbicara saat sedang makan, jadilah mereka makan dengan nikmat.
...****...
Di tempat lain disebuah kontrakan sempit seorang pria paruh baya sedang duduk di lantai beralas karpet dengan wajah kesal menahan marah. Pria paruh baya itu baru saja meninggalkan mobilnya di tengah jembatan dan berhasil kabur dari kejaran para polisi.
“Untuk sementara waktu aku akan aman disini karena mereka pasti mengira aku sudah terjun bunuh diri” tawa Tn. Felix bangga.
Selain meninggalkan mobil di tengah jembatan, Tn. Felix juga meninggalkan jejak seakan dirinya bunuh diri. Semua memang sudah dia siapkan dengan sangat rapi. Dan disinilah ia berada, kontrakan kecil dan sempit yang masih berada di satu kota yang sama dengan Ara dan lainnya.
“Dengan begini akan mudah bagiku untuk mengawasi mereka secara dekat. Dan bila saat nya tiba, akan ku bunuh mereka semua” gumam Tn. Felix mengepalkan keduan tangannya.
Ketika rasa benci dan dendam sudah menyelimuti hati, maka hanya akan membuat siapa saja menjadi jahat. Tapi ambisi Tn. Felix pulalah yang membawanya dalam keadaan seperti saat ini.
“Tertawalah dan tunggu hari kematian kalian” senyum Tn. Felix manatap tajam selembar foto ditangannya.
Tn. Felix mengeluarkan ponsel yang baru dia beli tadi dengan nomor yang sudah ia ganti. Tn. Felix mulai menghubungi seseorang.
“Terus awasi mereka dan jangan sampai ketahuan siapa pun” tegas Tn. Felix dengan seringai khasnya.
...****...
Keesokan harinya di ruang kerjanya, Alex, Fino, Riko dan Tony sudah berkumpul membahas tentang apa yang alam mereka lakukan kedepannya.
“Akan lebih baik kalau kita semua tinggal di sini bersama. Aku juga sudah membagi kamar di rumah ini. Setidaknya sampai pria tua itu ditemukan, bagaimana?” ucap Alex yang langsung di setujui.
“Aku setuju, setidaknya dengan begini akan sangat mudah bagi kita untuk menjaga Ara, Istriku, Letha dan Arumi” ucap Fino dan diangguki oleh Riko dan Tony.
“Aku juga setuju, kita tidak tau apa yang direncanakan Tn. Felix saat ini. Jadi akan sangat mudah bagi kita kalau mereka berada di satu rumah seperti ini” sahut Riko.
Pembahasan mereka pun berlanjut pada kerjasama. Alex, Riko dan Fino memang berencana untuk bekerja sama. Terlebih saat ini Fino sedang gencar-gencarnya memajukan perusahaan miliknya sendiri. Fino sudah tidak ambil pusing dengan perusahaan papanya yang kini di ambang kehancuran.
Sampai suara pintu di ketuk dari luar, menampakkan Ara yang menyembulkan sedikit kepalanya untuk melihat siapa saja yang berada di ruang kerja kakaknya.
“Sarapan sudah siap” ucap Ara tersenyum masih dengan posisinya.
Riko menahan tawa dan bangkit mendekati kekasih kecilnya itu. Ara tersenyum menatap Riko yang berjalan mendekat.
Melihat posisi Ara yang masih pada tempatnya, bersandar pada pintu dengan kepalanya yang menyebul membuat Riko berbiat menjailinya.
Dengan cepat Riko menarik pintu agar terbuka bersamaan dengan teriakan Ara yang kaget karna pintu terbuka dengan cepat. Riko langsung menarik pinggang Ara ke dalam pelukkannya sambil tersenyum tak berdosa. Sesaat mata mereka saling bertemu dan mengagumi.
“Nyaman bukan dalam pelukku sayang” ucap Riko.
Ara pun tersadar dari lamunannya lalu bangkit dan memukul dada bidang Riko kesal. Bagaimana bisa kekasihnya ini menjailinya.
“Aduh sakit sayang” ucap Riko pura-pura sakit.
Ara berhenti memukul dada Riko, Ara menantap kasian saat melihat Riko yang kesakitan. Sedangkan ketiga pria di belakang mereka hanya bergeleng melihat keuwuan di pagi hari ini.
“Ck mulai deh lebaynya tuh Lex” ucap Tony pada Alex.
“Hmmm” gumam Alex.
Fino sendiri tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya yang suka sekali manja pada Ara, adiknya.
“Sakit banget ya kak?” tanya Ara sambil mengusap bahu Riko lembut penuh penyesalan.
“Sakit banget sayang” rengek Riko.
Di luar dugaan Ara malah menginjak salah satu kaki Riko dengan kuat saking gemasnya.
“Aaaaargghh aduhh kog di injek sih” teriak Riko kesakitan.
“Makanya jangan suka jail” ketus Ara lalu pergi begitu saja.
Awalnya Alex, Fino dan Tony melongo tidak percaya dengan keberanian Ara menginjak kaki Riko. Tak lama dari lamunan mereka bertiga pun tertawa keras melihat wajah Riko yang memelas merengek memanggil Ara.
Mereka pun bangkit menepuk bahu Riko satu-satu sambil berlalu pergi menuju meja makan dimana sarapan sudah siap.
“Utututu tatian tatinya di injak ya om” ledek Fino dengan menirukan suara anak kecil.
“Sakit gak? Kasian deh lo” sahut Tony menertawakan Riko.
“Gimana singa betina kecilku? Haum” ucap Alex memperagakan gerakan layaknya ingin menerkam mangsa.
Mereka tertawa puas setelah meledek Riko. Sedangkan Riko sendiri hanya mendengus kesal sambil memukul angin yang melintas.
“Ck menyebalkan” gumam Riko lalu menyusul dengan berjalan sedikit pincang.
“Rara tega banget sih, sakit lagi” keluh Riko.
Halo semua🤗
Maaf banget kemarin malam gak jadi up karena ada sedikit kendala🙏🏼
Tapi hari ini MTML up lagi untuk kalian❣️
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥
Makasih🥰