My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 85



Fino terdiam di dalam ruang kerjanya. Otaknya seakan berhenti seketika, ia memutuskan untuk pulang. Hari ini ia butuh menengkan diri.


Sesampainya di rumah Fino disambut oleh Lisha dengan perut buncitnya. Lisha berlari mendekati suaminya dengan khawatir. Bagaimana tidak khawatir melihat suami pulang dengan wajah lebam dimana-mana.


“Mas wajah kamu kenapa? Kamu kerampokan mas? Kerampokan dimana mas? Kenapa gak kamu kasih aja si yang mereka mau? Trus Ara mana? Tadi dia yang ma-“


“Aku kehilangan Ara sayang. Kita kehilangan Ara” ucap Fino memotong perkataan Lisha.


Lisha menatap wajah sedih suaminya, Lisha perlahan menangkup wajah Fino.


“Ma-maksud kamu apa mas?” tanya Lisha.


Bukannya menjawab istrinya, Fino memilih memeluk istrinya. Mencari kenyamanan yang slalu ia dapat dari Lisha, istrinya.


Lisha membalas pelukan Fino, menepuk punggung suaminya pelan. Lisha bingung dengan ucapan suaminya, ingin ia bertanya. Tapi, melihat kondisi hati suaminya yang tidak baik. Lisha memilih untuk diam dan bertanya nanti saja.


“Kita masuk dulu ya mas” ajak Lisha.


“Ah iya maaf sayang, kamu pasti capek ya berdiri terus. Maafin papa ya sayang” ucap Fino mengecup kening dan mengusap perut buncit Lisha.


Fino dan Lisha memutuskan untuk duduk di ruang keluarga dulu. Fino menatap Lisha yang sedang menatapnya juga. Fino paham akan tatapan Lisha yang ingin melontarkan semua pertanyaan di dalam pikirannya.


“Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu sayang” ucap Fino mengawali pembicaraan mereka.


“Ceritalah mas” balas Lisha menggenggam tangan suaminya.


Fino menghela nafas lalu mulai menceritakan dari mana Fiona yang di mintai tolong untuk menjaga dan mengasuh Ara sampai Fino tau kebenaran yang telah dilakukan papanya di masa lalu pada keluarga Ara. Dan hari ini Ara menemukan kalung miliknya semasa bayi dan fakta yang sudah ia simpan rapat selama 18 tahun terakhir.


Lisha menyimak cerita Fino dengan derai air mata. Selama ini ia tidak pernah berpikiran bahwa Ara adalah saudari angkat suaminya, walau sebenarnya ia menyadari tidak ada kemiripan sama sekali di antara Fino dan Ara.


Lisha memeluk Fino yang kini sudah menangis merasa takut kehilangan Ara yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


“Aku takut Ara akan membenci ku karna ulah papa di masa lalu” tangis Fino.


“Tenanglah mas. Besok kita temui Ara saja, sekarang berarti Ara iku Alex kakaknya itu mas?” tanya Lisha memastikan.


“Iya” jawab Fino lirih.


“Sudah ya mas jangan sedih lagi, sekarang mas makan dulu trus istirahat ya” ucap Lisha mengusap punggung suaminya.


Baru saja Fino dan Lisha akan beranjak menuju meja makan, dari belakang Riko datang dengan kantong berisi kue kesukaan Ara.


“Hallo kak” sapa Riko.


“Riko” ucap Fino dan Lisha bersamaan.


“Yups, my name Riko” canda Riko.


“Ara mana kak? Ini aku bawain kue kesukaannya” tambah Riko menunjukkan kantong kue ditangannya.


“Ara tinggal dengan Alex” jawab Fino singkat membuat Riko terkejut.


“Hah! Kog lo biarin sih Ara tinggal sama tuh cowok! Lo gimana sih Fin?” Bentak Riko salah paham.


“Rik dengerin penjelasan mas Fino dulu ya. Kamu salah paham, kita bicarakan nanti. Sekarang kita makan dulu” sahut Lisha tegas lalu menarik tangan Fino menuju meja makan di ikuti Riko.


Selesai makan Lisha langsung masuk ke kamar untuk istirahat atas perintah Fino, bukan apa Fino hanya tidak mau istrinya kelelahan karna terlalu banyak aktivitas.


Fino dan Riko kini duduk berhadapan di dalam ruang kerja Fino. Fino baru saja selesai menceritakan semua tentang Ara yang tidak diketahui siapapun, kecuali dirinya dan mama Fiona.


“Ja-jadi Ara adik kandung Alex dan ini semua karna perbuatan om Felix di masa lalu? Astaga” gumam Riko masih dengan rasa kagetnya.


“Ya itulah kenyataannya Rik, sepertinya Alex sudah menemukan bukti-bukti perbuatan papa dan pasti sebentar lagi dia akan membawa kembali masalah ini ke jalur hukum” jelas Fino menghela nafas.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan Fin?” tanya Riko merasa kasian pada sahabatnya itu.


“Aku tidak peduli jika papa akan masuk penjara Rik” ucap Fino mengepalkan kedua tangannya.


“Lalu bagaimana dengan perusahaan papamu Fin-“


“Aku tidak peduli. Mau bangkrut sekali pun aku tidak akan menyesal. Tanpa papa ketahui selama ini aku sudah membangun perusahaan dengan hasil jerih payahku untuk berjaga-jaga kejadian hari ini akan terjadi” ucap Fino menatap Riko.


Riko bangkit di ikuti Fino lalu mereka saling berpelukan memberikan semangat layaknya sahabat.


“Sabar Fin” ucap Riko menepuk bahu Fino.


“Thanks” jawab Fino.


Dikediaman Mahesa.


Ara baru saja berkeliling mansiom megah keluarganya. Dan saat ini Ara memilih duduk santai di gazebo dekat kolam. Alex yang sedari tadi mengikuti Ara pun juga ikut duduk.


Alex bahagia melihat Ara yang duduk di sampingnya dengan setoples camilan di tangannya.


“Kak” panggil Ara menoleh ke arah Alex.


“Hmmm” gumam Alex.


“Jangan lihatin Ara terus, Ara tau kog kalo Ara tuh cantik” canda Ara.


“Ck cantik apaan kek gitu cantik” cibir Alex.


“Kak Alex punya pacar?” tanya Ara membuat Alex yang minum tersedak.


“Uhuk uhuk apaan sih kamu Ra” kesal Alex disela batuknya.


“Ya apa salah nya coba? Ara kan cuma tanya kakak punya pacar gak?”sungut Ara.


Alex terdiam mendengar pertanyaan Ara. Seketika wajah Letha terlintas dalam ingatannya. Letha yang sedikit bar-bar dan cerewet. Wajah cantik dan polosnya, semua tentang Letha mulai dari kecil sampai sekarang berputar begitu saja dalam pikiran Alex. Alex tersenyum mengingat setiap hal yang sudah ia lakukan dan lewati bersama Letha beberapa hari terakhir ini.


“Kak Alex!!!” teriak Ara kencang saat melihat Alex melamun sambil senyum-senyum gak jelas.


Alex tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Ara tepat di telinga nya.


“Aduuhh telinga aku sakit Ra denger teriakan kamu tau” ucap Alex mengusap telinganya.


“Salah sendiri siapa suruh kakak melamun sambil senyum-senyum gak jelas” kesal Ara sambil mengembungkan pipinya.


“Gak usah pasang muka kayak gitu” tawa Alex mencubit kedua pipi Ara gemas.


“Aduh aduuh sakit kak” rengek Ara melepas tangan Alex dari kedua pipinya.


“Ututu kasiannya adik kecil kakak ini” canda Alex membuat Ara kesal.


“Ihh ngeselin tau gak” kesal Ara yang semakin membuat Alex tertawa.


Tiba-tiba bi Surti datang memberitahukan kedatangan Tony pada Alex. Alex dan Ara pun memutuskan untuk menemui Tony di ruang tamu.


“Ngapain juga tuh anak kesini” gumam Alex masih terdengar oleh Ara.


“Mungkin ada kerjaan kak” ucap Ara.


Diruang tamu Tony duduk dengan gelisah menunggu Alex. Tak lama kemudian Alex dan Ara datang yang semakin membuatnya gelisah. Ara yang melihat kegelisahan Tony berpikir bahwa ada kerjaan penting yang mungkin ia tidak harus tau.


“Ara ke kamar dulu aja ya kak, sepertinya kak Tony mau ngomong penting” ucap Ara.


“Jangan nona muda” tahan Tony membuat Alex dan Ara menatapnya.


“Sa-saya kesini mau minta tolong pada tuan dan nona” sambung Tony.


“Jelaskan Ton” ucap Alex yang akhirnya angkat bicara duduk di samping Ara.


“Tuan an-“


“Ayolah Ton, kita tidak sedang bekerja” kesal Alex.


“Lex aku mau minta tolong sama kamu juga sama nona muda un-“


“Ara” potong Ara dengan mengikuti gaya Alex, membuat mereka saling tertawa kecil.


“Lanjut Ton” pinta Alex.


“Aku mau minta tolong sama kalian berdua buat bantu aku bilang ke Letha kalau aku ingin melamar Arumi” jelas Tony menunduk.


“Melamar” “Arumi?” ucap Alex dan Ara bersamaan.


“Baguslah, akhirnya aku bisa percaya kalo kamu normal Ton” sambung Alex santai yang langsung di tatap tajam oleh Tony.


“Arumi? Arumi siapa?” tanya Ara.


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥