My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 18



Jam dinding menunjukkan pukul 08.45 pagi dan Ara baru saja keluar dari kamar. Karena hari ini minggu ia tidak harus bangun pagi. Ara menuruni anak tangga sambil menengok ke sana kemari.


‘Tumben sepi banget pada kemana?’ batinnya.


Ara melangkah menuju dapur, disana hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang sibuk dengan pekerjaan masing masing.


Mereka terlihat menyediakan banyak makanan dan membuat Ara merasa aneh. Siapa yang akan menghabiskan semua masakan itu pikirnya.


“Eh non Ara sudah bangun, mau makan dulu non? Biar bibi siapin” kata bi Asih saat melihat Ara yang diam berdiri disamping meja makan.


“Enggk usah bi. Nanti aja nunggu kak Fino sama kak Lisha” tolak Ara.


“Oh den Fino sama non Lisha masih diperjalanan non. Baru pulang dari rumah sakit. Tadi den Fino juga pesen kalo non sudah lapar suruh makan duluan” kata bi Asih.


“Rumah sakit? Siapa yang sakit bi?” tanya Ara.


Belum sempat bi Asih menjawab terdengar suara mobil terparkir didepan. Ara berlari dari dapur berniat membuka pintu utama.


Ara terkejut saat melihat orang yang sudah lama tidak ia temui sejak kejadian waktu itu. Tangannya bergetar memegang gagang pintu.


“Oh jadi sekarang kamu mencoba menguasai rumah milik kakakmu sendiri? hmm. Apa apartement itu kurang cukup untukmu menampungmu? Hingga kakakmu harus berbaik hati menampungmu disini hmm. Apa kau jadi gila harta sekarang? Apa otak bodohmu itu mulai berpikiran licik? Setelah kau membunuh istriku, sekarang targetmu putra kesayanganku begitu? Apa kau tidak sadar sudah menyusahkan banyak orang hah?!” bentak pria paruh baya yang tidak lain adalah Tn. Felix.


“Enyahlah kau dari sini sebelum besanku datang dan kau hanya membuatku merasa malu!!!” Teriak Tn. Felix tepat didepan wajah Ara yang sudah berderai air mata.


“CEPAT BODOH!!!” Tn. Felix kembali teriak dengan suara menggema memenuhi setiap sudut ruang.


Ara berbalik berlari menaiki tangga menuju kamarnya diikuti bi Asih dibelakangnya.


Ara segera membuka koper dan memasukkan semua pakaian dan peralatan sekolah lainnya dengan tergesa.


“Non jangan pergi non” kata bi Asih mencoba menghalangi Ara yang sibuk memasukkan barang barangnya kedalam koper.


“Non dengarkan bibi dulu non” ucap bi Asih menahan lengan Ara.


“Bii jangan halangi Ara” bentak Ara menepis tangan bi Asih.


Ara menarik koper keluar kamar tanpa menoleh ke belakang dimana bi Asih menangisinya.


Di ruang tamu tanpa banyak kata Ara melangkah melewati Tn. Felix begitu saja.


“Jangan pernah menyusahkan orang lain lagi” ucap Tn. Felix penuh penekanan.


Ara menghentikan langkahnya berbalik menatap Tn. Felix.


“Ara akan slalu ingat ucapan papa” kata Ara lalu pergi.


Ara berjalan cepat meninggalkan halaman rumah Fino dengan derai air mata. Di depan gerbang ia menyetop taksi memasukkan kopernya.


Ara menengok kebelakang, disana ia melihat bi Asih yang menangisinya. Ia sudah tidak tahan berlama lama lagi, ia segera masuk kedalam mobil. Taksi yang ditumpanginya perlahan mulai melaju meninggalkan rumah Fino.


Tanpa Ara sadari di gerbang utama kawasan perumahan taksi yang ditumpanginya berpapasan dengan mobil Fino yang baru saja memasuki area perumahan.


Fino dan Lisha pun tidak menyadari itu. Di belakang mobil mereka terdapat satu mobil yang ditumpangi oleh orang tua Lisha.


Di dalam taksi Ara terus saja menangis meratapi nasibnya yang seperti ini. Baru semalam ia bisa tersenyum dan tertawa lepas, merasakan kebahagiaan yang slama ini ia nanti.


Tapi sekarang ia seakan terlempar dengan kenyataan bahwa ia hanya menyusahkan orang lain.


🔥🔥🔥🔥