My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 128



Pagi hari di kediaman Mahesa dihebohkan dengan tingkah Ara dan Letha yang terus berdebat hal kecil. Mulai dari menu sarapan pagi sampai warna pakaian yang akan mereka pakai untuk acara ulang tahun perusahaan Alex yang akan di gelar dua minggu lagi.


Mereka semua memang berkumpul di ruang keluarga kecuali Fino yang semalam pulang kerumah mertuanya yang sedang sakit menyusul sang istri.


“Rara mau baju kita warna biru muda kalo engga abu-abu aja” Ara menatap sengit Letha disebrangnya.


“Bagusan kalo bajunya warna gold Ra kelihatan mewah” Letha tak mau kalah dengan tema yang ia ajukan.


Alex mulai pusing mendengar perdebatan antara Ara dan Letha yang tidak ada yang mau ngalah. Alex jadi menyesal kenapa tadi meminta saran pada dua gadis kesayangannya itu.


“Gak bisa, gold itu udah biasa Letha” sungut Ara.


“Tapi bagus tau Ra” tekan Letha kesal sendiri.


“Bagus tapi udah biasa Lethaa”


“Pokoknya gold Ra”


“Enggak mau abu-abu aja kalo gak biru”


“Ih enggak bisa gitu dong Ra kan ini acara perusahaan”


“Enggak ada beda nya Tha sama acara yang lain”


“Pokoknya gold”


“Enggak”


“Iya Ra”


“Enggak Letha”


“Iya Ara ih”


“Enggak mau Aletha Lutfiana Wijaya”


“Harus mau tuan putri Arabella Mahesa”


“STOOOPPP” teriak Alex, Riko, Tony dan Arumi yang sudah jengah mendengar perdebatan dua gadis itu.


“Ih kesel” “Ih sebel” dengus Letha dan Ara bersamaan sambil melipat tangan di depan dada.


“Karena kalian debat terus dari tadi dan enggak ada yang mau ngalah, jadi biar kakak sendiri yang akan putusin warna gaunnya. Kalian tinggal tau beresnya aja. Fiks no debat!” tekan Alex saat melihat Ara dan Letha yang akan protes.


Ara dan Letha akhirnya hanya bisa menganggukan kepala sebagai jawaban. Mereka tidak akan berani menentang Alex yang kini tampak serius.


“Udah jangan cemberut aja ih” Riko merangkul bahu Ara yang memasang wajah masam.


“Kamu juga Tha jangan dimonyong-monyongin tuh bibir, yang ada malah kayak bebek” canda Tony.


Alex tertawa diikuti yang lain sampai deringan ponsel mengalihkan tawa mereka. Alex menatap layar ponselnya menatap satu nama yang terus berdering, Fino.


“Halo Fin”


“...” hening.


“Fin kog diem?” tanya Alex saat tidak mendapati sahutan dari sana.


“Papa gue meninggal” tiga kata terucap membuat Alex membeku di tempat.


“Papa gue meninggal subuh tadi, bunuh diri” suara Fino terdengar frustasi di seberang sana.


Alex dapat mendengar isak tangis Fino di sana, sesaat Alex melirik Ara yang kini menatapnya heran.


“Sekarang dimana?” singkat Alex.


“Masih dirumah sakit setelah ini jenasah papa gue mau di makamkan. Tolong kasih tau Ara” pesan Fino sambil menahan tangisnya.


“Pasti Fin, kita langsung ke rumah lo Fin”


Alex menggenggam ponselnya erat setelah Fino memutuskan sambungan telpon. Alex menatap Ara lekat lalu bergantian pada yang lain.


“Ada apa Lex?” tanya Tony.


“Dek” bukan menjawab Alex malah memanggil Ara lembut.


“I-iya” tiba-tiba Ara merasa gugup.


Ara merasa tidak tenang seakan ada hal yang akan terjadi atau mungkin memang sudah terjadi. Alex menghela nafas sebelum mengungkapkan apa yang ingin ia ucapkan.


“Pria it-“ Alex meraup wajahnya kasar.


“Maksud kakak papa Felix”


“Kenapa sama papa Felix kak?” tanya Ara semakin berdebar mendengar nama papa Felix.


Deg...


Dunia Ara seakan berhenti dalam sekejap, matanya berkaca-kaca dan siap jatuh hanya sekali kedipan mata.


“Papa” gumam Ara terisak.


.


.


.


.


.


Pemakaman sore ini berjalan dengan lancar. Ara masih terus menangis di samping batu nisan yang tertulis nama Felix Alardo di samping makam mendiang istrinya.


Ara sangat terpukul mendengar meninggalnya papa Felix karena bunuh diri dengan meminum obat pel di kamar mandi. Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus dengan bunuh diri? Kenapa dan kenapa yang terlintas di pikiran Ara.


Fino berdiri di samping istrinya, sedari tadi Fino slalu menggenggam tangan Lisha mencoba mencari ketenangan untuk dirinya yang sedang rapuh kali ini.


“Dek kita pulang ya, bentar lagi mau hujan” ajak Alex menghampiri sang adik yang masih menangis dalam pelukan Riko.


“Kita pulang ya Ra” Riko membantu Ara bangkit.


“Tap-“


“Kita pulang Ra kasian papa, kita harus ikhlas biar papa tenang di sana” ucap Fino berusaha tegar.


Ara berhambur ke dalam pelukan Fino, mereka mulai terisak kembali. Walau hanya papa angkat, sejatinya Felix sangat menyayanginya dulu. Menerima Ara layaknya putri sendiri, sampai kepergian sang istri membuatnya gelap mata dan slalu menganggap Ara penyebab dari kepergian sang istri. Di tambah dengan masalah masa lalu yang semakin membawa Felix kedalam kubangan lubang hitam.


Sedikit penjelasan dari polisi Felix sengaja meminum obat pel karena tidak ingin menghabiskan hidupnya seumur hidup dalam penjara. Memang keputusan sidang Felix dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.


“Kita pulang” ajak Fino.


Tidak ada jawaban dari Ara, Fino merasa tubuh Ara yang mulai melemas, Ara pingsan. Riko yang menyadarinya langsung membopong tubuh Ara.


“Ya ampun Ara” pekik Letha dan Lisha.


“Cepet bawa ke mobil” ucap Arumi.


“Cepet Rik” panik Alex.


.


.


.


.


.


Di dalam kamar Fino termenung mengingat percakapannya dengan sang papa kemarin. Jadi inikah maksud dan kejanggalan dari ucapan papa kemarin, pikirnya.


“Bukan ini jalan keluarnya pa” gumam Fino meraup wajahnya kasar.


Tok tok tok


Pintu terbuka menampilkan wajah pucat Ara yang berjalan masuk lalu memeluk Fino dari samping. Ara sudah kembali siuman dan saat ini mereka masih berada di rumah Fino yang lebih dekat dengan tempat pemakaman. Fino membalas pelukan Ara.


“Maafin Ara kak” Ara kembali terisak.


Fino mengernyitkan alis mendengarnya, Ara semakin mengeratkan pelukannya saat merasa Fino akan melepaskannya.


“Maafin Ara kak, karena Ara kakak kehilangan orangtua kakak. Bukankah itu artinya Ara pembawa sial kak” Ara mendongak menatap wajah Fino dengan derai air mata.


Fino tersenyum saat menyadari kemana arah pembahasana Ara. Fini mengusap pipi Ara.


“Dengarkan kakak dek, semua ini terjadi bukan karena kamu. Ini semua terjadi karena sudah takdirnya memang harus begini. Dan kakak gak suka saat kamu bilang kamu pembawa sial. Mama pasti sedih kalo denger ucapan kamu tadi. Bagi kami kamu itu anugerah terindah dek, seharusnya kakak yang minta maaf. Karena papa kamu harus menjalani hidup yang jauh dari kata bahagia. Keluarga kakak hanya bikin kamu merasa tersakiti. Maafkan papa dek” ucap Fino memeluk Ara.


“Maafkan segala perilaku papa ke kamu. Dan ingat jangan salah kan dirimu sendiri karena semua ini sudah takdirnya” sambung Fino.


Lisha terdiam di ambang pintu menahan isak tangis, bagaimana pun ia tau masa-masa kelam Ara. Lisha juga tidak percaya bahwa papa mertuanya itu akan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tapi semua itu kembali lagi, memang sudah takdirnya. Lisha pun beranjak meninggalkan kakak adek yang berpelukan itu. Biarkan mereka untuk saling menguatkan.


Malam semua🤗


Udah mau ending nih, semoga bisa segera ending ya. Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥


Makasih❣️