
Sore ini untuk mengalihkan pikiran Ara yang sedang kacau, Letha dan Arumi mengajaknya untuk menanam bunga di taman belakang rumah tepatnya di samping kolam renang.
Letha sudah meminta Alex tadi pagi untuk memesan bibit bunga untun di tanam sore ini. Langsung saja Alex menyuruh Tony untuk mengatur keperluan menanam bunga.
Ara yang belum pernah menanam bunga terlihat kaku dan bingung, beberapa kali Letha juga meneriakinya karna cara Ara yang salah.
“Ara bukan gitu caranya ih” geram Letha.
“Bukannya ini benar, kan tinggal masukin ke dalam tanah” ucap Ara polos.
“Kamu lupa kasih pupuknya dek” ucap Arumi mengingatkan Ara.
“Oooo” Ara manggut-manggut saat ingat belum memberi pupuk.
“Gemes aku tuh sama kamu Ra” gemas Letha.
“Ya mo gimana Ara kan gak pernah nanam bunga, ribet” ucap Ara sambil cengengesan.
Letha hanya berdesis, Arumi hanya menggeleng melihat tingkah keduanya. Hari ini Alex dan Tony ke kantor, sedangkan Riko harus berangkat mengajar baru ke kantornya. Jadi hanya tinggal mereka bertiga dibawah pengawasan Dion yang ditugaskan menjaga mereka.
“Capek” keluh Letha.
“Gini aja capek, giliran nunggu cinta kak Alex gak pernah tuh ngeluh capek” cibir Ara.
“Yee itu mah beda Ra, kalo buat kak Alex gak akan ada kata lelah” ucap Letha bangga.
“Hilih, kili biit kik ilix gik ikin idi kiti lilih” cibir Ara malah membuat Letha dan Arumi tertawa.
“Udah ayo kita beresin ini, trus mandi kan udah sore juga.” ucap Arumi.
“Iya kak” jawab Ara dan Letha.
Selepas itu Ara, Letha dan Arumi masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar Ara baru saja selesai mandi beberapa menit yang lalu, dan kini termenung di depan meja riasnya. Ara baru saja mendapatkan dua pesan berisi foto mobil dengan plat nomor yang ia kenali. Tak lupa pesan dari nomor yang sama tertera di layar ponselnya.
^^^Nomor Tidak Dikenal^^^
^^^Salah langkah sedikit saja mereka akan mati di tanganku. Ingat! Untuk tidak memberi tahu siapa pun kemana kau pergi besok. Atau anak buah ku akan melenyapkan mereka detik itu juga.^^^
Dua foto mobil itu adalah mobil Yang dikendarai Alex dan Riko. Dapat di pastikan diam-diam anak buah Felix mengikutinya.
“Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana caranya agar aku bisa keluar tanpa diketahui kak Alex atau yang lain. Terlebih Dion dan anak buahnya sangat ketat menjaga rumah ini” gumam Ara menangkup wajahnya frustasi.
Ara bangkit menuju balkon kamar dimana ia bisa merasakan hembusan angin sore menjelang malam ini.
“Jika memang nyawaku taruhannya dan bisa menghentikan papa, aku rela. Asal tidak akan ada lagi yang terluka karena diriku” ucap Ara menatap langit yang semakin gelap.
Tak lama Ara melihat dua mobil memasuki gerbang rumah, menandakan Alex dan Riko baru saja sampai. Dan benar saja dari balkon ini Ara bisa menatap Alex, Riko dan Tony yang baru keluar dari mobil.
Riko yang merasa di tatap pun mendongak dan menemukan sang kekasih yang melambaikan tangan dengan senyum mengembang.
“Menggemaskan” gumam Riko tersenyum membalas lambaian Ara.
Di balkon Ara berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan semangat. Dari arah pintu utama Alex berjalan dengan senyum menawan menutupi guratan lelah karna seharian kerja.
“Kakak” teriak Ara dan jatuh dalam pelukan Alex.
“Hmmm ada yang manja, pasti ada mau nya” ucap Alex menjawil hidung adiknya.
“Ara rindu kak Fano” ucap Ara melepas pelukannya pada Alex dan berpindah ingin memeluk Riko.
Riko tersenyum sambil merentangkan kedua tangan menunggu Ara memeluknya. Tapi senyum Riko luntur saat Alex menahan pinggang adiknya.
“Belom halal” ucap Alex enteng lalu merangkul bahu Ara dan pergi.
“Atutututu kacian” ledek Tony tertawa menyusul Alex dan Ara.
“Ck dasar menyebalkan” desis Riko.
...****...
Keesokan harinya setelah sarapan Alex dan Tony berangkat ke kantor begitu pula dengan Riko. Sedangkan Arumi pamit untuk mengunjungi temannya yang sedang dirawat di rumah sakit. Kini hanya tersisa Ara dan Letha di meja makan.
“Serius nih tinggal kita aja? Mau keluar kagak bisa nanti yang ada kamu jadi sasaran empuk musuh kak Alex. Trus kita mau ngapain? Masa gini-gini aja Ra, kak Arumi juga kayaknya agak lama” ucap Letha dengan raut wajah dibuat sedih.
Ara hanya bisa menghela nafas mendengar rentetan kata dari sahabatnya yang mungkin akan menjadi kakak iparnya kelak.
“Udah habisin dulu makanan kamu Tha, kita bisa nonton film atau lainnya” ucap Ara.
‘Mungkin juga untuk yang terakhir Tha, aku berharap papa Felix gak akan lukain aku dan kita semua berdamai’ batin Ara dalam hatinya.
Akhirnya Letha dan Ara memutuskan untuk menonton film di kamar Letha. Hari semakin siang membuat Ara merasa gelisah dan takut. Dan Letha menyadari kegelisahan dan ketakutan Ara saat ini.
“Kamu kenapa sih Ra kog gelisah banget. Wajah kamu juga ketakutan banget, tenang Ra film ini tuh gak horor kog” ucap Letha sambil mengambil toples berisi camilan.
“Atau jangan-jangan kamu kepikiran kak Riko ya. Aduuhhh Ra tenang aja, nanti sore juga ketemu lagi kan” sambung Letha sambil terkekeh.
“Gimana kalo aku gak bisa ketemu kak Riko, bahkan kalian semua” lirih Ara sambil melirik Letha.
“Apaan sih Ra jangan ngacok, diem! Filmnya udah mulai tuh” sungut Letha kesal.
‘“Iya deh maaf hehehe” ucap Ara tertawa kecil.
Mereka berdua pun mulai menikmati alur cerita pada film yang sedang tayang di laptop milik Letha. Sesekali Ara melihat jam tangan yang ia pakai tak terasa sudah hampir 3 jam mereka menonton. Dan sekarang pukul 11.35, itu artinya Ara harus segera keluar dari rumah ini dan menemui papa Felix.
Ara menatap Letha yang ternyata sudah tertidur dan itu cukup memudahkan Ara. Perlahan Ara bangkit lalu mengunci pintu kamar Letha dari luar. Waktu Ara tidak banyak lagi jadi ia harus cepat.
Ara kembali ke kamar dan memanggil salah satu pelayan untuk menuju ke kamar. Saat pelayan itu masuk kamar, Ara memukul tengkuk pelayan itu dengan vas bunga miliknya sampai pingsan. Ara menaruh vas bunga itu di atas meja.
Ara mengangkat tubuh pelayan itu ke atas ranjang dan menyelimutinya setelah Ara mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan tadi.
“Huh, semoga berhasil” doa Ara mengambil masker dan kacamata bundar layaknya orang culun.
Ara berjalan keluar kamar dengan hati-hati. Walau pun saat ini ia sudah memakai baju pelayan, bukan berarti tidak ada yang mengenalinya. Terlebih Ara harus berhati-hati pada Dion dan anak buahnya.
Ara berjalan melalui pintu dapur dan berjalan menuju gerbang dengan tas belanjanya.
“Permisi, boleh bukakan pintunya. Aku harus belanja kebutuhan bulan ini” ucap Ara mencoba tenang.
Selamat malam semua🤗
Selamat datang di bulan November, selamat ulangtahun juga buat kalian yang lahir di bulan november ini ya. Doa terbaik untuk kalian semua🥰
Makasih buat kalian semua yang slalu dukung author❣️🥰
Salam hangat dari author untuk kalian❣️