My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 127



Setelah menjalani perawatan selama seminggu lebih, kini Ara sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Heru. Luka di bahu nya juga sudah mengering, tapi Ara masih harus istirahat walau sudah boleh pulang.


“Pelan-pelan sayang” ucap Riko saat membukakan pintu mobil untuk Ara.


“Akhirnya sampai juga di rumah” ucap Ara berbinar.


“Seneng banget ya” kekeh Riko mengacak rambut Ara.


“Seneng banget banget banget” ucap Ara yang terlihat semakin menggemaskan di mata Riko.


“Gemesin banget sih” gemas Riko mencubit kedua pipi Ara.


“Yuk kita masuk” ajak Riko dengan tangan melingkar di pinggang Ara.


Siang ini hanya Riko yang bisa menjemput Ara pulang dari rumah sakit. Alex, Fino dan Tony di haruskan datang ke persidangan tentang kasus Felix. Siang ini adalah keputusan dimana Felix akan mendapat hukuman atas semua kasus yang telah ia lakukan.


Sedangkan Lisha sedang menjenguk mamanya yang sedang tidak enak badan, lalu Arumi dan Letha menunggu di rumah itu pun atas perintah Riko. Ia hanya ingin berdua saja bersama Ara, tidak masalah jika harus membereskan pakaian Ara sendiri asal hanya berdua, katakan saja Riko modusa ;)


“Selamat datang tuan putri Ara” pekik Letha menyambut kedatangan Ara.


“Letha gak usah teriak” kesal Ara.


Sahabatnya yang satu ini memang tidak bisa mengecilkan suaranya sedikit saja, untung Alex sayang.


“Akhirnya kalian udah dateng yuk makan siang dulu, udah siap soalnya” ajak Arumi yang baru saja keluar dari zona nyamannya, dapur.


“Ih kak Arumi baik deh, tau aja Ara tuh kangen banget sama masakan kak Arumi sama bi Surti” ucap Ara kegirangan sendiri membuat Riko yang di sampingnya terkekeh.


“Jadi maksud kamu aku gak baik Ra? Aku udah bukain pintu lo buat nyambut kamu pulang dari rumah sakit” sahut Letha mengerucutkan bibirnya, pura-pura ngambek ceritanya.


“Sayangnya gak ada yang nyuruh kamu buat bukain pintu” ucap Riko lalu menggiring Ara menuju meja makan di ikuti Arumi yang tertawa kecil.


Letha melotot mendengar ucapan santai yang baru saja dilontarkan Riko. Letha pun menghentak-hentakkan kakinya kesal sendiri, baru menyusul ke meja makan.


“Jangan cemberut terus ah, cantiknya hilang tau” ledek Arumi mengambil piring Letha dan mengisi dengan makanan kesukaannya.


“Letha manja” ledek Ara.


Tidak sadarkah Ara bahwa dirinya juga di ambilkan makan oleh Riko, memang dasarnya Ara saja yang suka melihat wajah kesal Letha.


“Udah ayo makan jangan bicara terus” ucap Riko menengahi.


“Makan yang banyak sayang” sambung Riko menaruh piring berisi nasi, sayur dan lauk di depan Ara.


“Makasih kak” ucap Ara tersenyum.


.


.


.


.


.


Fino termenung setelah menerima hasil keputusan sidang siang ini untuk Felix, papanya. Berulang kali Fino menghela nafas berat, hatinya bagai di tikam besi panas saat ini.


Tapi apa yang bisa ia lakukan, bukankah ini memang keputusannya. Tapi ia tidak menyangka akan seseakit ini, nyatanya terlalu banyak orang yang tersakiti karena papanya dan keputusan sidang kali ini sudah benar adanya.


Alex menepuk bahu Fino membuat sang empu mendongak menatapnya.


“Kamu dan Ara bisa hidup tenang Lex, tanpa bayang-bayang papa yang akan menyakiti kalian” Fino berusaha untuk tetap tegar.


“Maaf jika keputusan sidang kali ini membuatmu sedih Fin dan terima kasih untuk semua nya” Alex menepuk kedua pundak Fino lalu memeluknya, pelukan ala pria.


“Ehem” dehem Tony.


“Ada apa Ton?” tanya Alex.


“Tuan Felix ingin bertemu dengan putranya” singkat Tony menatap Fino.


“Kalian pulang lah lebih dulu, Ara pasti sudah menunggu. Aku akan menyusul setelah bertemu papa” pamit Fino lalu beranjak.


Alex menghela nafas menatap punggung Fino yang hilang di balik dinding, Alex pun beranjak pergi mengingat sang adik sudah berada di rumah.


Fino menatap lurus wajah sayu pria paruh baya di depannya. Luka yang masih di perban pun tak luput dari mata Fino. Tampak pria paruh baya itu tersenyum miris padanya.


“Kau benar memihak pada mereka” Felix menatap lekat putranya.


“Karena dari awal papa sudah salah, bukankah seharusnya hukuman ini papa rasakan sedari dulu” tegas Fino.


“Papa yang memulai dan papa juga yang harus mengakhiri ini semua dengan menjalani hukuman ini” sambung Fino.


“Apa itu berarti papa harus menyusul mamamu?” tanya Felix dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Fino menatap lekat wajah papanya, ia masih berpikir apa maksud dari pertanyaan papanya itu.


“Kau putraku satu-satunya dan papa bersyukur darah Fiona mengalir di tubuhmu, menjadikan mu pria sejati dengan hati yang tulus” Felix masih menatap Fino, putra semata wayangnya.


“Kau benar nak ini semua terjadi karna rasa ambisi dan iri papa, papa yang memulai jadi biarkan papa saja yang mengakhirinya” sambung Felix lalu bangkit.


“Mungkin maaf tidak bisa menggantikan semuanya, begitu juga waktu kebersamaan kita. Tapi tolong sampaikan maaf papa pada Ara dan Alex. Sampaikan juga pada Ara, papa menyayanginya” tulus Felix tersenyum menepuk pundak putranya lalu berlalu pergi kembali kedalam jeruji besi tempatnya saat ini.


Fino tertegun melihat dan mendengar ketulusan yang terpancar dari raut wajah papanya. Apa papa menyesalinya? Kenapa harus sekarang? Disaat semua sudah tidak bisa diubah kembali, pikir Fino.


Disisi lain Fino merasa ada kejanggalan yang ia rasakan, entah apa itu. Fino masih berdiam diri sebelum akhirnya memilih untuk pulang menjenguk Ara di rumah Alex, rumah peninggalan orangtua nya.


.


.


.


Selesai makan siang dan minum obat Ara pun mulai tertidur pulas di ranjang kamarnya dengan Riko disampingnya, lebih tepatnya duduk di bibir ranjang mengusap surai Ara lembut.


Bersamaan dengan itu Alex dan Tony baru saja memasuki pintu utama dengan santai. Letha dan Arumi bangkit saat melihat dua pria berjalan memasuki ruang keluarga.


“Ara mana?” Alex memeluk Letha yang menyambutnya pulang.


“Ara baru saja tidur mungkin efek obat yang ia minum” jawab Letha.


“Riko?” singkat Alex sembari duduk di sofa bersama Letha.


Jangan tanya Tony, sudah pasti pria itu sedang menempel pada sang kekasih siapa lagi kalo bukan Arumi.


“Di atas temenin Ara tidur” jawab Letha membuat Alex melotot.


“Apa?! Nemenin Ara tidur?!” Alex spontan bangkit berlari ke kamar Ara di ikuti Letha yang berlari di belakangnya sambil memanggil nama Alex.


“Kak Alex” Letha ikut berlari menaiki anak tangga menuju kamar Ara.


BRAAAKKK


Riko terjingkat kaget saat pintu di buka dengan kasar dari luar, menampakkan wajah pria yang terlihat menghela nafas lega.


“Eeungh” Ara menggeliat merasa terganggu.


Riko langsung mengusap punggung Ara yang tertidur miring menghadap ke arah nya. Merasa Ara sudah kembali nyenyak Riko bangkit memarik Alex dan menutup pintu perlahan.


“Lo kenapa buka pintu kek orang setanan sih. Untung Ara gak kebangun, kalo kebangun gimana? Kan kasian dodol” sungut Riko.


“Ya gue khawatirlah nanti yang ada lo ambil kesempatan waktu adik gue tidur” balas Alex tak mau kalah.


Belum Riko membalas ucapan Alex, Letha datang dengan nafas yang terengah. Tadi Letha ikut berlari mengikuti Alex, sangat bodoh bukan Letha.


“Kakak tuh ya dengerin ucapan Letha dulu makanya ih” kesal Letha sambil meraup seluruh udara di sekitarnya.


“Lagian kamu tadi bilangnya nemenin tidur kan q jadi salah paham sayang” ucap Alex masih tak mau kalah.


“Ck dasar pasangan aneh kalian tuh minggir. Kalau mau ribu jangan di sini, takutnya Ara kebangun” perintah Riko lau beranjak menuruni anak tangga meninggalkan sepasang sejoli dengan wajah cengo mereka.


Malam gais, ada yang udah tidur? Malem malem enaknya makan apa nih? Apa lagi dingin dingin begini? Malang dingin tapi gak hujan. Kalo di tempat kalian gimana?😊


Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥


Makasih, salam hangat🥰


Author❣️