
‘Astaga apa kita couple an?’ batin Ara berdiri tak jauh dari tempat duduk Riko yang tersenyum menatap Ara.
‘Apa kak Riko sengaja buat couple an sama aku? Kenapa jadi aku yang berbunga bunga sih bayangin kalau kak Riko emang sengaja couple an sama aku. Bahkan saat ini warna sepatuku dan dia sama-sama putih. Fiks kencan. Aaaa gak mungkin kan kencan. Haduuhh jantung ku kenapa jadi deg-deg an sih’ gumam Ara dalam hati menahan rasa ingin berteriak bahagia menatap Riko di sana.
Riko tersenyum beranjak mendekati Ara yang masih berdiam diri.
“Cantik dan manis” ucap Riko tepat di depan Ara yang membuat pipinya merah merona.
Ara menghindari tatapan Riko yang semakin membuatnya salah tingkah. Riko yang melihatnya hanya terkekeh kecil, ia bahagia melihat pipi merona Ara dan membuat Ara salah tingkah sendiri.
“Kamu udah siapkan? Yuk kita berangkat” ajak Riko menggenggam tangan Ara.
“Bibi Ara pergi dulu ya” pamit Ara pada bi Surti yang berdiri tidak jauh darinya.
“Iya hati-hati ya non” ucap bi Surti lalu menatap kearah Riko.
“Tuan hati-hati ya bawa mobilnya pelan-pelan saja jangan ngebut-ngebut gak baik dan tolong jaga non Ara ya” pesan bi Surti tersenyum ramah pada Riko.
“Iya bibi tenang saja saya pasti jaga Ara dengan baik. Kalau begitu kita jalan dulu ya bi. Permisi” pamit Riko.
Riko menarik lembut tangan Ara agar mengikuti langkah kakinya menuju mobil sport miliknya. Riko membuka pintu penumpang untuk Ara. Lalu menutupnya dan berlari kecil mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil di samping Ara di jok kemudi.
“Kamu sudah pamit kakakmu Alex kan? Aku gak mau di tuduh nyulik adik kesayangannya yang selama ini ia cari lo ya” canda Riko di akhir kalimat.
“Oh iya Ara belum telpon kak Alex buat pamit keluar” ucap Ara mencari ponselnya lalu menghubungi Alex.
Tuuuuttttt
“Halo adik manis kesayangan kakak Alex” sapa hangat Alex.
“Halo kakak. Emm Ara mau pamit keluar boleh?” tanya Ara sambil melirik Riko di sampingnya yang duduk menghadap padanya.
“Pamit keluar? Sama Letha? Tapi Letha tadi barusan telpon Tony kalau dia mau nungguin Arumi selesai kuliah trus nganterin Arumi buat cari bahan kuliahnya. Trus kamu mau keluar kemana? Sama siapa?” ucap Alex di seberang sana dengan sikap posesifnya.
“Emm sama kak Riko, barusan kak Riko datang ke rumah mau ngajak Ara jalan-jalan. Bolehkan kak?” ucap Ara.
Di seberang sana terdengar Alex menghela nafas berat. Ara jadi was-was takut tidak diijinkan keluar padahalkan dia sudah siap.
“Kakak ijinkan kamu keluar sama Riko tapi ingat jangan pulang malam-malam. Kakak beri batas keluar malam hanya sampai jam 8 malam. Jadi usahakan sebelum jam 8 kamu sudah di rumah ya. Hati-hati di jalan sayang. Selamat bersenang-senang, ingat jangan macam-macam” ucap Alex mengijinkan dengan sikapnya yang posesif itu membuat Ara tersenyum.
“Iya kak, makasih ya kak. Ara sayang kakak” ucap Ara tersenyum lebar walau Alex tak bisa melihatnya.
“Sama-sama sayang ingat pesan kakak tadi ya. Semoga hari ini menyenangkan. Oh iya beri ponselmu pada Riko aku ingin bicara sebentar padanya” ucap Alex membuat Ara spontan menatap Riko dan perlahan memberikan ponselnya pada Riko.
Riko mengernyit menerima ponsel Ara lalu ia paham saat melihat sambungan telpon masih terhubung pada Alex.
“Halo” sapa Riko datar.
“Aku tidak suka basa-basi. Aku ijinkan kamu mengajak keluar Ara tapi ingat jangan macam-macam. Pastikan Ara aman saat bersamamu. Jaga adikku baik-baik jika sesuatu terjadi padanya apa lagi itu karna kamu. Kamu akan tau akibatnya. Ingat itu!” ucap Alex tak kalah datarnya dengan Riko dan penuh penekanan.
‘Ck ternyata selain sok kegantengan dia juga bisa posesif juga. Kalau bukan termasuk calon kakak ipar sudah ku lempar dia ke samudra Hindia’ batin Riko.
“Kamu te-“ ucapan Riko terhenti saat sambungan telpon sudah terputus sepihak.
“Ck menyebalkan” gumam Riko lirih lalu mengembalikan ponsel itu pada Ara.
“Layaknya kakak yang posesif pada adiknya dan kamu tau itu” ucap Riko tersenyum.
“Okay kita lupakan tentang kakakmu itu. Kita berangkat sekarang sebelum semakin siang” sambung Riko mulai melajukan mobil sportnya membelah keramaian kota pagi menjelang siang ini.
“Kita mau kemana sih kak?” tanya Ara sambil memakan camilam yang di sudah di belikan Riko.
Sepertinya acara jalan-jalan ini sudah Riko rencanakan mulai dari baju couple mereka dan beberapa camilan kesukaan Ara sudah tersedia di mobil.
“Rahasia” ucap Riko tersenyum.
“Ck kayak anak kecil ana main rahasiaan aja” gerutu Ara.
“Dan dari kecil kamu benci kalau ada orang yang main rahasiaan sama kamu kan. Aku bahkan masih sangat mengingat itu Ra” ucap Riko fokus menyetir.
Ara menatap Riko sambil terus mengunyah camilan yang masuk ke dalam mulutnya.
“Ara gak tau kenapa kak Riko seakan tau banyak hal tentang masa kecil Ara” ucap Ara masih dengan menatap Riko di sampingnya.
“Aku bahkan kembali juga untukmu Rara” balas Riko tersenyum menatap Ara yang terlihat kaget mendengar panggilan Riko pada nya.
‘Rara? Bukankah itu panggilan sayang dari kak Fano pada ku? Dan hanya kak Fano yang panggil aku Ara’ batin Ara menatap lekat mata Riko yang kini juga sedang menatapnya.
Riko menatap Ara masih dengan senyum hangatnya. Mereka kini menikmati tatapan mereka di bawah lampu merah. Sampai suara klakson mobil di belakang mengagetkan mereka berdua.
Riko menatap lampu yang ternyata sudah berubah waran hijau dan langsung melajukan mobilnya kembali.
“Ra tolong bukakan aku botol minum dong aku haus” ucap Riko mengalihkan pembicaraan mereka sebelum keheningan menyerang.
“I-iya tunggu bentar kak” jawab Ara membukakan tutup botol lalu memberikannya pada Riko.
Riko langsung menegaknya sampai tersisa setengah. Riko melirik Ara yang hanya diam menatap lurus kedepan.
Ara sendiri masih memikirkan panggilan Riko tadi padanya. Kenapa Riko memanggilnya dengan panggilan yang sama dengan orang yang entah dimana saat ini, kurang lebih seperti itu lah yang dipikirkan Ara saat ini.
“Makasih Ra” ucap Riko membuyarkan lamunan Ara.
“Sama-sama kak” balas Ara meraih botol itu dan menutupnya.
‘Mungkin hanya sekedar kebetulan. Ya hanya kebetulan saja’ batin Ara menatap Riko yang fokus menyetir.
“Di makan jajannya nanti kalo habis aku beliin kog tenang aja sultan mah bebas” canda Riko membuat Ara berdecak kesal.
“Jangan songong dulu deh dasar” sungut Ara.
Dan suasana pun mulai mencair dengan sendirinya. Sepanjang perjalanan di iringi dengan suara tawa keduanya atau sekedar perdebatan tentang hal kecil yang tak begitu penting sebenarnya.
Selamat siang semuanya. Abang Riko datang lagi nih bareng neng Ara yang cantik dan manis kalau kata bang Riko.
Next gak? Next gak? Next dong👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote ya para kesayangan author❣️🔥🔥🔥🔥