My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 124



\~ Flashback On \~


Setelah taksi yang dikendarai Ara pergi, Nanda seakan mengingat sesuatu dan merasa janggal.


“Ris, bukannya kebutuhan bulanan bi Surti yang urus dan kemarin bi Surti pergi kamu yang antar kan” ucap Nanda membuat Aris terkejut.


“Loh iya, trus tuh pelayan? Kayaknya ada yang gak beres Nan” sahut Aris curiga.


“Biar aku cari tuan Dion dulu, kamu jaga gerbang aja sama yang lain” ucap Nanda berlalu mencari Dion.


Sedangkan di dalam rumah, Dion sedang berusaha mencari kunci cadangan kamar Letha. Entah apa yang terjadi sampai kekasih tuannya itu bisa terkunci di dalam kamar. Yang pasti saat Letha terbangun karena merasa lapar, ia tidak bisa membuka pintu kamar lalu menghubungi Dion.


Cklek, Suara pintu akhirnya terbuka.


“Oh astaga... Thanks ya om Dion udah bantu bukain. Gila kenapa juga bisa ke kunci? Oh iya Ara, Ara mana? Pasti nih kerjaan Ara, kalo jail mah udah gak ketulung loh. Masa ngunciin aku di dalam kamar sih” cerocos Letha.


“Nona muda ada di kamar nona” jawab Dion datar saat mengingat panggilan Letha pada nya.


‘Untung kekasih tuan kalo bukan udah gue lempar ke sungai. Wajah masih muda tampan kayak gini di panggil om, ck’ batin Dion tidak terima.


“Okay kalo gitu biar aku ke kamar Ara” ujar Letha beranjak ke kamar sahabatnya itu.


Saat masuk ke dalam kamar Letha melihat sahabatnya itu sedang tertidur di atas ranjang dengan selimut menutupi wajahnya. Dengan gemas Letha berlari dan menjatuhkan badannya di atas Ara, berharap Ara akan terganggu oleh nya.


“Ayo bangun anak kerbau kau sudah mengerjaiku dengan mengunci pintu kamar ku hah. Akan ku balas kau, ayo bangun... bangun... bangun...” ucap Letha sambil meloncat di samping Ara berbaring.


“Ara banguuuunnnn” teriak Letha sambil menarik selimut.


Sesaat Letha tertegun menatap siapa yang berbaring di ranjang, sampai ia bangkit dan berlari keluar memanggil Dion histeris. Dion yang mendengar lalu berlari bersama beberapa anak buahnya menuju lantai atas.


“OM DIOOOONNNN... OOOMMMMM” teriak Letha histeris bercampur panik.


Letha langsung menarik tangan Dion saat sudah berdiri di depannya, membawa pria itu ke kamar Ara sambil menunjuk gadis yang berbaring membelakangi mereka. Dion mengernyit bingung dengan kekasih tuannya itu.


“Co-coba kau lihat, a-apa di-dia masih hi-hidup” ucap Letha terbata.


Bola mata Dion membulat mendengar ucapan Letha. Dengan langkah lebar dia mendekati ranjang dan membalikkan tubuh itu yang ia kira nona mudanya, Ara.


Dion terkejud mendapati seorang pelayan wanita yang ternyata ia kira Ara.


‘Sial!’ batin Dion saat merasa ia kecolongan.


“Periksa semua sudut rumah ini jangan sampai ada yang terlewat. Dan juga periksa cctv hari ini mulai pagi, apa ada yang mencurigakan” tegas Dion pada anak buahnya.


“Siap!” jawab mereka.


“Dan kau panggil dokter untuk memeriksa pelayan ini” tunjuk Dion pada satu anak buahnya yang masih menunggu perintah dari nya.


“Baik tuan” jawab pria itu.


Letha terlihat bingung dengan situasi ini sampai air mata sudah mengalir deras di pipinya. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada Ara.


“Tenang nona sebaiknya anda tunggu di ruang tamu atau ruang keluarga, saya akan menghubungi tuan Alex dan tuan Riko” ucap Dion menggiring Letha.


“Ta-tapi di-dia...” tunjuk Letha terbata.


“Pelayan itu hanya pingsan nona, mari” ajak Dion.


“Apa Ara baik-baik saja? Hiks... hiks... Kemana dia? Apa dia di culik? Hiks... hiks” tangis Letha saat duduk sendiri di kursi ruang tamu.


Dion sudah pergi untuk menghubungi Alex dan Riko soal kekacauan yang terjadi. Dion berpikir ini bukanlah penculikan, bagaimana bisa mereka masuk saat penjagaan sangat ketat?, pikirnya. Ia harus siap menerima amukan dari tuannya itu, lagi-lagi ia lalai.


Baru saja Dion ingin menghubungi Alex, salah satu anak buahnya datang yang tak lain Nanda.


“Ada apa?” tanya Dion datar.


“Maaf tuan beberapa menit yang lalu ada seorang pelayan yang ijin untuk keluar dengan alasan membeli kebutuhan bulanan yang biasa bi Surti lakukan. Di-“


“APA!!” teriak Dion membuat Nanda terlonjak kaget.


“Apa kau yakin dia seorang pelayan?” tanya Dion dengan aura yang membunuh.


“I-iya tuan, tapi anehnya dia memakai masker dan kacamata bulat layaknya orang culun” jawab Nanda terbata.


“BODOH!!!” hardik Dion membuat Nanda terjingkat.


“Sudah pasti itu nona Ara” desis Dion langsung menghubungi Alex dan Riko.


...****...


“Masih ada yang perlu ku kerjakan?” tanya Alex pada Tony.


“Semua sudah selesai Lex, kita pulang sekarang?” tanya Tony balik.


“Ck sekarang kau bahkan terlihat santai saat menyebut namaku” sindir Alex.


Belum sempat Tony menjawab, ponsel Alex berdering menandakan panggilan masuk. Alex tersenyum saat melihat nama Ara yang tertera di layar ponselnya.


“Halo dek, sebentar lagi kakak pulang. Kekasihmu juga sudah dalam perjalanan pulang” sambar Alex tanpa menunggu ucapan Ara.


“...” hening.


“Halo dek? Kamu masih di sana? Kenapa hening sekali?” tanya Alex.


“Sepertinya kali ini kau terlambat pulang, tuan Alexander Mahesa” sepenggal kalimat dari seberang sana membuat tubuh Alex membeku.


‘Suara ini? Suara pria tua itu! Tapi kenapa bisa menggunakan ponsel Ara?’ batin Alex.


Bola mata Alex membulat, dengan spontan ia bangkit dengan tangan menggebrak meja membuat Tony terlonjak kaget.


“BRENGSEK!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIKKU!!! KENAPA KAU BISA MENGGUNAKAN PONSELNYA, SIALAN!!!” umpat Alex dengan wajah memerah menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya.


”Tenang boy, kau tau aku adalah orang yang baik hati. Jadi ku beri kau waktu sampai jam 5 sore untuk menjadi superhero adikmu. Datanglah tanpa membawa satu pun anak buahmu. Jika kau telat sedetik saja dan melanggar perintahku, maka katakan selamat tinggal pada adikmu tersayang itu”


“Lex kita harus segera pulang. Baru saja Dion menelponku, Ara keluar dari rumah dengan menyamar menjadi pelayan” ucap Tony yang tiba-tiba masuk kembali setelah keluar untuk menerima telpon dari Dion.


“APA!! SIAL!! TERNYATA PRIA TUA ITU TIDAK MAIN-MAIN KALI INI” teriak Alex sambil menyugar rambutnya kasar.


“Apa maksudmu?” tanya Tony.


“Ku jelaskan di jalan, kita pulang sekarang. Saat ini nyawa Ara dalam bahaya” ucap Alex berlari di ikuti Tony.


“Dasar gadis bodoh” desis Alex merutuki tindakan nekat Ara.


...****...


“APA YANG KALIAN LAKUKAN SEBENARNYA HAH!!!” teriak Riko menggelegar dari dalam rumah menyambut ke datangan Alex.


Bug


Bug


Bug


“SUDAH KU PERINGATKAN BERAPA KALI HAH!! JAGA KEKASIH KU SAAT AKU TIDAK ADA DI RUMAH!! BAGAIMANA BISA KALIAN LALAI DALAM MENJAGANYA HAH!!” murka Riko.


Tony yang melihat Riko terus menghajar Dion segera berlari terlebih dahulu untuk melerainya. Di ruang tamu dapat Alex lihat Letha yang menangis dalam pelukan Arumi yang baru saja pulang dari rumah sakit. alex menarik kerah Dion lalu memberikan bogeman mentah pada pria itu.


Bug


Bug


“Aku kecewa padamu Dion” desis Alex tajam pada Dion yang sudah tersungkur di lantai.


“Maaf tuan” sesal Dion.


“Sudah hentikan! Jangan seperti ini, kita hanya punya waktu kurang dari tiga jam untuk menemukan Ara. Kau ingat bukan Lex” ucap Tony menatap tajam Alex.


“Apa maksudmu Ton?!” “Apa maksudmu kak?!” tanya Riko dan Letha bersamaan.


Tony melirik Alex yang sudah terlihat sama kacaunya dengan Riko, lalu menjawab pertanyaan Riko dan adiknya.


“Kemungkinan besar Ara bersama Felix saat ini” jawab Tony.


“APA!!!” teriak Riko, Letha dan Arumi kompak.


“Apa yang dia lakukan?!” geram Riko menjambak rambutnya. Sedangkan Letha menangis kembali dalam pelukan Arumi.


“Sepertinya Felix mengancam Ara untuk mengikuti perintahnya. Kita tau bukan bagaimana nekatnya Ara yang ingin menemui Felix saat itu. Bisa saja Ara menganggap pertemuan ini akan berakhir baik tanpa ia tau bahwa ini adalah jebakan” jelas Tony.


Tidak di ragukan lagi saat dalam keadaan genting seperti ini Tony lah yang bisa dihandalkan. Alex dan Riko membenarkan ucapan Tony.


“Tunggu dulu sebelumnya aku pernah menyadap ponsel Ara tanpa dia tau hanya untuk berjaga-jaga jika ada yang mendekatinya. Tapi sepertinya saat ini sangat di butuhkan” ucap Riko saat mengingatnya.


“Disetiap kalung, gelang dan anting yang di gunakan Ara sudah terpasang alat yang ku rancang khusus untuk memudahkan kita menemukan dimana dia berada saat ini” sambung Alex.


“Okay kita ngelacak dari ponsel dan perhiasan yang di gunakan Ara. Lalu cari taksi yang di pesan Ara. Baru kita tau dimana Ara saat ini” ucap Tony memberi arahan, dibalas anggukan oleh Alex dan Riko.


“Maaf tuan, sebenarnya saya sudah melacak dan mencari taksi yang di pesan nona muda. Supir taksi bilang kalau nona muda berhenti di taman kota, supir itu juga sempat melihat nona muda masuk kedalam mobil jeep hitam yang sepertinya sudah menunggu nona muda. Terbukti dari rekaman cctv cafe dekat taman itu. Dan beberapa menit lalu Amar menemukan ponsel milik nona muda yang sudah hancur di sekitar area taman” jelas Dion sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya dengan tangan bergetar memberikan ponsel rusak milik Ara yang baru saja Amar berikan.


Riko merampas ponsel yang sudah hancur dari tangan Dion dengan bergetar. Benar saja itu ponsel Ara, di sana ada gantungan ponsel yang ia berikan pada Ara beberapa minggu lalu.


“Benar ini milik Ara” ujar Riko.


“Shit! Sepertinya pria tua itu sudah bosan hidup” geram Alex.


“Tenangkan diri kalian. Sekarang kita lacak dimana Ara saat ini. Kita tidak punya banyak waktu lagi” ucap Tony mencoba meredakan emosi kedua pria itu.


Terlebih jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.20. Belum perjalanan yang akan mereka tempuh nantinya.


Mereka pun bergegas melacak di mana posisi Ara saat ini. Terbantu dengan ponsel Ara yang sudah disadap oleh Riko, dimana di dalam pesan itu terdapat alamat tempat yang sempat di kirim Felix. Tapi mereka tidak boleh gegabah, sampai akhirnya Dion menemukan posisi Ara yang sama persis dengan alamat pada pesan itu.


Kini mereka hanya tinggal menyusun rencana, mereka tidak boleh salah melangkah atau nyawa Ara dalam bahaya. Terlebih Felix mengancam agar Alex datang sendiri. Setelah rencana tersusun rapi mereka bergegas pergi menuju tempat dimana Ara di sekap.


“Kalian jangan kemana-mana, tetap di dalam rumah. Pastikan semua pintu dan jendela terkunci. Bi Surti aku titip mereka berdua” pamit Alex sambil mengecup kening Letha sama hal nya dengan Tony.


“Baik tuan, tuan hati-hati. Semoga semua berjalan lancar dan kalian kembali dengan selamat” doa bi Surti.


“Terima kasih bi. Amin” balas Alex.


“Kalian hati-hati” tangis Letha dan Arumi.


“Pasti” jawab Alex.


Mereka pergi dengan selang waktu yang berbeda dan pintu keluar yang berbeda pula. Alex mengendarai mobilnya sendiri keluar melewati gerbang depan. Sedangkan yang lain lewat gerbang belakang yang tidak di ketahui anak buah Felix. Itu semua mereka lakukan untuk mengecoh anak buah Felix dan benar saja seperti dugaan Alex ada dua mobil yang sedang mengikutinya saat ini.


“Mereka sedang mengikutiku, waktunya bermain” ucap Alex setelah menekan alat kecil di telinganya.


“Nikmati permainan ini” balas Riko dari seberang sana.


Di pertigaan dua mobil dihadang oleh Riko dan Tony. Dion dan yang lain langsung meringkus empat pria. Amar dan Nanda membawa ke empat pria itu ke markas.


Riko, Tony dan yang lain langsung berpindah ke dalam mobil yang di gunakan ke empat pria itu tadi dan menyusul Alex. Tak lupa mereka menggunakan masker.


Sesampainya di bangunan tua yang terbengkalai Alex masuk lebih dulu di susul Riko dan yang lain. Baku hantam tak terelakkan. Butuh waktu hampir setengah jam menumbangkan anak buah Felix. Sampai suara teriakan Ara terdengar dari lantai atas. Riko yang berdiri dekat dengan tangga, mengambil langkah seribu. Lalu diikuti Alex dan yang lain. Riko menatap ruang yang tertutup rapat namun dari dalam sana ia bisa mendengar rintihan Ara. Dengan sekuat tenaga Riko menendang pintu itu sampai terbuka kasar dan masuk lebih dulu.


BRUAAKK


\~ Flashback off \~


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥


Thanks you say❣️