
‘Kemana kalung itu? Kenapa aku baru menyadarinya? Apa kalung itu hilang saat Ara masih kecil? Atau Fino? Ya pasti Fino yang menyimpannya. Karena kalau sampai Ara memakainya pasti si tua brengaek itu akan tau. Akan aku tanyakan nanti pada Fino itu’ batin Alex.
Cklek
Alex menoleh saat mendengar suara pintu terbuka dan benar saja Riko berdiri disana menatap ke arahnya. Alex bangkit berjalan mendekati Riko yang masih diam berdiri di ambang pintu.
“Bisa kita bicara?” ucap Alex datar.
“Tapi tidak disini” jawab Riko tak kalah datarnya sambil melirik Ara yang tertidur pulas.
Riko lalu berbalik keluar diikuti Alex dibelakangnya. Mereka berdua berjalan ke arah taman rumah sakit. Riko berhenti dan berbalik menatap Alex datar.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Riko datar.
“Kau menyukai Ara?” tanya Alex to the point.
“Tidak” jawab Riko singkat.
Alex mengepalkan kedua tangannya saat mendengar jawaban singkat pria di depannya ini. Riko tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah Alex yang kini menahan amarah yang kapan saja bisa meledak.
‘Ck dasar pria emosian’ pikir Riko. Seakan dia lupa bahwa dirinya juga pria emosian (canda kog😁)
“Aku tidak menyukai Ara, tapi aku mencintainya, sangat mencintainya” sambung Riko.
Alex tersenyum tipis, sangat tipis sampai Riko pun tidak tau senyum itu. Alex berjalan maju berdiri tepat di depan Riko lalu menepuk bahu kana Riko. Alex terlihat tenang walau Riko menatapnya tajam saat ini.
“Jika kau mencintainya, maka jaga dia dan jangan pernah sakiti dia. Dan asal kau tau, aku sangat meragukanmu untuk jadi pasangan Ara” ucap Alex tenang lalu berbalik menuju kamar rawat Ara, meninggalkan Riko.
Riko terdiam menatap punggung Alex yang kian mengecil dan hilang dibalik tembok.
‘Ck ck apa-apaan dia, kakaknya juga bukan. Maksudnya tadi apa? Meragukanku? Dasar di muka datar’ gumam Riko kesal.
Riko pun berjalan menuju ruang rawat Ara dengan raut wajah kesal dengan ucapan Alex tadi.
Di dalam ruang rawat Alex melihat Ara yang berusaha untuk bangkit duduk. Ia pun segera berlari mendekati Ara dan membantunya dengan menumpuk bantal dibelakang Ara sebagai sandaran.
“Makasih kak” ucap Ara sambil bersandar nyaman.
“Sama-sama. Maaf kakak meninggalkanmu sendiri tadi” ucap Alex mengusap kepala Ara lembut.
“Apa masih sakit hmm?” tanya Alex lembut.
“Hanya sedikit pusing saja kak” jawab Ara tersenyum.
“Jangan sampai terluka lagi. Kamu bikin kakak khawatir” ucap Alex.
“Maafin Ara ya kak. Udah bikin kakak khawatir” ucap Ara.
“Sudahlah jangan dipikirkan lagi, yang penting serang sudah baikan. Ara lapar?” tanya Alex sambil mengacak rambut Ara.
“Ara laper tapi gak mau makan itu kak” tunjuk Ara pada semangkuk bubur.
Cklek
Alex dan Ara menatap Riko yang datang dengan kantong plastik di tangannya. Riko berjalan menuju nakas dan meletakkam kantok plastik di atasnya.
Ara terdiam mematap Riko lama, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Riko yang merasa di tatap pun menoleh ke arah Ara dan tersenyum.
“Kamu lapar kan, ini aku barusan beliin makan siang kamu Ra” ucap Riko menyiapkan makan siang Ara.
Sedangkan Ara masih diam menatap Riko lekat, seperti ada yang ingin ia ungkapkan dan Alex menyadari tatapan itu.
“Ra Ara” panggil Alex menyadarkan Ara dari pikirannya.
“A ah iya kak” jawab Ara gugup.
“Riko udah siapin makan siang kamu tuh” tunjuk Alex.
“Kamu makan yang banyak ya biar cepat sembuh. Maaf kakak gak bisa lama, karna masih ada kerjaan yang belum selesai” sambung Alex sambil mengusap pipi Ara lembut.
“Iya kak gak papa. Makasih kak Alex dah jenguk Ara. Dan selamat bekerja kak” ucap Ara ceria menyemangati Alex.
”Pasti. Oh ya Letha udah dibawah bentar lagi dia datang kaka tinggal ya. Makan yang banyak, nanti kakak kesini lagi” tambah Alex mengecup kening Ara lalu berlalu pergi tanpa menatap Riko yang cemburu melihat perhatian Alex pada Ara.
“Udah orang nya juga udah ngilang” ketus Riko.
Ara kembali diam menatap lekat Riko. Ada yang ingin Ara ungkapkan dan tanyakan pada Riko tapi lidahnya terasa kelu untuk bicara.
“Aaaa buka mulutnya, biar aku suapin” ucap Riko yang melihat Ara melamun.
Ara pun makan dengan disuapi Riko. Tak lama kemudian Letha datang bersamaan dengan Fino dan Lisha membuat suasan menjadi sedikit ramai. Dan lagi-lagi Ara menatap Fino lekat sama seperti ia mematap Riko tadi. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
...****...
Pagi harinya Alex datang untuk menjenguk Ara dengan rantang ditangannya. Alex mendapat kabar dari Tony bahwa sedari subuh Ara sendirian karna Fino dan Lisha pamit pulang. Sedangkan Riko pulang kemarin malam karna pagi ini dia ada rapat diluar kota.
Alex berjalan memasuki ruang rawat Ara dengan perlahan. Ia takut membangunkan Ara, karena ini masih terlalu pagi untuknya datang menjenguk.
Saat masuk Alex melihat Ara yang sedang duduk bersandar. Terlihat Ara melamun sampai tidak menyadarinya yang sudah duduk di sampingnya.
“Masih mau nglamun sampai kapan Ra” ucap Alex mengejutkan Ara.
“Astaga kak Alex sejak kapan disini” kaget Ara.
“Bahkan kamu tidak tau pangeran tampan sepertiku sudah ada disini sedari beberapa detik yang lalu karena terlalu asik melamun” omel Alex bangkit menata rantang berisi satapan untuk Ara.
“Ck tampan darimana” cibir Ara menatapa penampilan Alex yang memang berbeda.
Bila biasanya Alex memakai setelan jas kerjanya, pagi ini Alex memakai baju santai bahkan terlewat santai. Alex memakai celana training, kaos polos berlengan pendek dan jaket jeans.
“Bagaimana tampan bukan?” ucap Alex saat Ara masih menatapnya.
“Iyain aja biar kak Alex seneng” canda Ara.
“Baiklah apapun itu jawabmu, sekarang waktunya sarapan” ucap Alex.
“Makasih ya kak udah ngrepotin kakak pagi-pagi” ucap Ara terharu.
“Yang penting kamu cepat sembuh okay” ucap Alex tersenyum.
Ara mengangguk dan mengambil sepiring nasi dan lauk yang sudah disiapkan Alex tadi. Tapi tanpa sengaja Ara menjatuhkan sendoknya.
“Yah jatuh kak” kata Ara layaknya anak kecil.
Alex tertawa kecil menunduk mengambil sendok yang terjatuh lalu bangkit, disaat itulah Ara bisa melihat kalung cantik yang di pakai Alex.
Alex menggantikannya dengan sendok yang baru untung saja tadi bibi menyiapkan sendok cadangan, batin Alex.
“Sini biar kakak suapi. Ayo aaaa buka mulutnya pesawat mau mendarat” ucap Alex tertawa kecil.
Sedangkan Ara sendiri masih fokus pada kalung liontin cantik yang di pakai Alex. Kalung liontin itu seperti dibuat khusus sebagai tanda keluarga besar, pikir Ara. Alex yang melihat Ara fokus pada sesuatu pun mengikuti arah pandang Ara yang ternyata menatap kalung yang ia pakai.
“Ara ada apa?” tanya Alex.
“Ah itu kalung kakak bagus” jujur Ara.
“Oh kalung ini di buat khusus dan hanya dimiliki keluarga besar kakak. Semua keluarga kakak memilikinya termasuk adik kakak” jelas Alex pada Ara.
‘Dan adik kakak itu kamu Ra, kamu juga punya kalung ini’ batin Alex.
“Ooooo... Kalungnya cantik, Ara suka” ucap Ara bahagia.
“Ara juga punya kog” lirih Alex yang masih didengar Ara.
“Kak Alex ngomong apa?” tanya Ara.
“Ah enggak. Ayo sarapan dulu kakak suapin trus nanti minum obatnya” ucap Alex mengalihkan pembicaraan.
‘Lagi-lagi kak Alex ngalihin pembicaraan huh’ batin Ara sambil makan disuapi Alex.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥