
Sepulang dari sekolah Ara dan Letha kini berada di depan pintu masuk sebuah cafe yang dipadati pengunjung. Mereka saling tersenyum lalu masuk.
“Permisi mbak, pak Leo nya ada? Bisa saya bertemu dengan pak Leo?” tanya Letha pada bagian kasir.
“Ada dek. Sebentar ya saya panggilakan dulu. Silakan duduk dulu ya” ucap mbak Ayu bagian kasir tadi berlalu kebelakang memanggil pak Leo.
Ara dan Letha memutuskan duduk di meja yang tidak jauh dari kasir. Tak lama kemudian pria tampan dengan setelan kemeja panjang yang digulung sampai siku dan celana hitam kain, tidak lupa rambut hitam legam tertata rapi sudah berdiri di depan mereka.
“Ara sama Letha ya?” tanya pria itu yang tidak lain adalah Leo atau pak Leo.
“Iya pak, saya Letha dan ini teman saya Ara” ucap Letha menjabat tangan Leo sambil mengedipkan matanya.
Leo tersenyum menatap Letha. Entahlah apa yang dipikirkan mereka. Sedangkan Ara masih terhanyut dalam lamunannya ia pikir atasannya itu pria paruh baya dengan perut buncit dan kepala plontos atau lebih tepatnya botak. Dan ternyata tebakannya salah, salah besar.
“Oh halo Letha, Ara. Kalian langsung masuk kedalam disana sudah tersedia dua loker berbeda untuk kalian, disana juga sudah tersedia seragam cafe untuk kalian. Kalian ganti dulu dan langsung bisa bekerja. Kebetulan yang shif pagi juga sudah mau pulang. Biar Ayu yang mengantarkan kalian.” jelas Leo panjang lebar.
Letha dan Ara hanya mengangguk tanda mereka paham akan penjelasannya. Leo pun memanggil Ayu yang tidak lain adalah tunangannya sendiri untuk mengantarkan Ara dan Letha ke dalam.
Kini mereka sudah ganti baju dengan celana jeans hitam, kaos putih polos berlengan pendek dan apron abu abu gelap berlogo AA Cafe. Ayu dengan sabar dan telaten memberi arahan pada mereka, terutama pada Ara yang terlihat sangat kaku. Kaku saat menyapa pengunjung atau hanya sekedar menanyakan menu.
Makhlum lah selama ini dia tidak pernah seramah ini pada orang lain. Tapi demi pekerjaannya ia akan berusaha dengan baik.
Dan ia mulai terbiasa melayani pelanggan seperti yang dicontohkan Letha tadi padanya. Ara hanya perlu sedikit senyuman dan ramah itulah yang dikatakan Letha padanya.
Sedangkan Letha yang mudah bergaul pun menyapa pelanggan sangat lah mudah baginya. Bahkan beberapa pengunjung menyukai cara Letha melayani mereka.
Ara bergerak kesana kemari mengantarkan pesanan. Begitu juga dengan Letha, semakin sore cafe pun semakin ramai pengunjung. Bahkan Leo harus ikut turun tangan membantu pegawainya yang terlihat kewalahan.
“Iya mbk, ada apa mbak?” tanya Ara.
“Raa ini tolong kamu antar ke meja no. 14 di samping pintu ya, biar piring kotor ini mbak bawa masuk” ucap Ayu.
“Iya mbak” kata Ara menaruh nampan yang ia bawa dan meraih nampan yang dipegang Ayu.
Ara berjalan dengan hati-hati ke arah meja no. 14 yang tadi diucapkan mbak Ayu. Tapi tinggal beberapa langkah dari meja itu, Ara tidak sengaja menabrak seorang wanita cantik yang melintas didepannya hingga menumpahkan secangkir hot coffee tadi ke baju orang itu. Hingga
PYAAAR.
“Aaa panas panas panas” teriak wanita itu mengipasi perutnya.
“M... ma maaf mbak. Sa sa saya tidak sengaja ma maaf mbak” sesal Ara sambil memcoba membersih baju wanita itu dengan tissu.
PLAAKK
“Ck dasar pelayan gak guna! Kamu tau gak harga baju saya itu mahal! Dan orang MISKIN kayak kamu gak akan mampu untuk gantinya! Makanya kalo jalan itu pakek mata! Dasar jadi pelayan aja gak becus!” hina wanita itu dengan menggebu-gebu.
Ara hanya diam menunduk tanpa tangisan tanpa ringisan saat ia menerima tamparan cukup keras dari wanita didepannya itu.
Leo yang mendengar keributan di dekat pintu masuk. Disana ia melihat Ara menunduk dengan wanita yang terlihat marah. Leo pun mulai mendekati mereka berdua yang kini menjadi pusat perhatian.
🔥🔥🔥🔥