
Sesampai di rumah mewah bak istana milik Fino yang ia beli sebagai kado pernikahan untuk istrinya. Ia keluar lebih dulu dan berjalan membuka pintu mobil belakang. Di sana Lisha tersenyum menatap suaminya, begitu pula sebaliknya.
“Terima kasih sayang. Pasti bahumu sangat sakit” bisik Fino sebelum ia menggendong tubuh mungil Ara.
Lisha tersenyum membalas ucapan suaminya.
Ya, Ara tertidur saat di perjalanan. Fino melangkah menuju kamar yang sudah disiapkan untuk Ara, adiknya. Perlahan Fino menidurkan Ara diranjang. Menyelimuti sampai sebatas bahu. Ia tersenyum mengelus lembut pipi Ara, sudah sangat lama ia merindukan moment seperti ini. Dikecup kening Ara sebelum ia beranjak pergi menuju kamarnya dan Lisha.
“Selamat tidur anak nakal” kata Fino tersenyum.
Fino menutup pintu perlahan. Ia turun menuju ruang keluarga. Lisha tersenyum merasakan pelukan hangat dari suaminya. Ia menoleh menatap Fino yang saat ini memeluk lehernya dari belakang.
“Terima kasih” kata Fino mengecup pipi istrinya.
“Untuk apa?” Tanya Lisha menatap Fino yang kini duduk disebelahnya.
“Terima kasih karna kamu mau menerima kehadiran Ara disini” kata Fino tersenyum.
“Ara adikmu, berarti dia juga adikku” kata Lisha memeluk suaminya.
“Aku mau Ara tetap tinggal disini mas. Apa kamu bisa membujuknya? Aku gak mau dia tinggal di apartement sendirian. Aku mau dia disini sama kita biar aku juga ada temennya kali kamu kekantor sepulang ngajar” pinta Lisha mendongak menatap suaminya.
Fino tersenyum sambil mengangguk memeluk erat tubuh istrinya menyalurkan segala kehangatan dan kenyaman yang ia miliki. Sesekali ia mengecup kening Lisha penuh sayang.
“Mas udah dong peluknya. Aku mau masakin makan siang buat kita bertiga. Kamu tau gak makanan kesukaan Ara? Selain baso sama jus jeruk” tanya Lisha.
“Ara suka apa aja sayang, yang penting bukan kacang panjang sama buncis. Ah iya sayang kalo kamu masak apapun itu jangan kamu campur udang ya. Ara alergi udang soalnya.” Jelas Fino.
“Ara alergi udang mas? Yah padahal q mau buat udang krispi kesukaan kamu. Aku kira Ara juga bakal suka” kata Lisha.
“Gimana kalo kita bikin ayam krispi, sayur sop sama sambel tomat, aku jamin Ara pasti suka banget” saran Fino pada istrinya.
Mereka tampak serasi memasak bersama di dapur. Terdengar canda tawa mengiringi kegiatan masak mereka.
Ara yang sudah terbangun melangkah menuju dapur saat mendengar tawa sepasang suami istri itu. Dari meja makan ia bisa melihat kebahagiaan yang tercipta. Ia tersenyum kecil sambil menghampiri Fino dan Lisha yang masih sibuk memasak.
“Ka... Kalian masak apa?” Tanya Ara mengagetkan sepasang suami istri itu.
Lisha tersenyum menghampiri adik iparnya.
“Apa tidur mu nyenyak dek? Sebentar lagi makan siang siap kamu tunggu disini ok.” Kata Lisha menyuruh adik iparnya itu untuk duduk di kursi meja makan.
Fino tersenyum melihat kedekatan istri dan adiknya. Ia melangkah mendekat dengan segelas jus jeruk kesukaan Ara yang ia buat semdiri barusan.
“Jus jeruk minuman favorit adek manis. Silakan dinikmati” canda Fino menaruh segelas jus jeruk di depan Ara.
“Kakak selesaikan masakan kakak dulu ya. Kamu sama mas Fino dulu ya dek, ok” kata Lisha berlalu melanjutkan masakannya.
Fino memilih duduk disebelah Ara. Ia menatap lekat pada Ara yang sedari tadi menunduk.
“Ada apa ra?” tanya Fino mengusap surai hitam adiknya.
“Maafin Ara kak. Maaf udah ngerepotin kakak” kata Ara lirih.
Fino menangkup kedua pipi Ara, mengangkat agar menatap ke arahnya.
“Kamu adik kakak satu satunya ra. Kamu tanggubg jawab kakak. Kakak gak merasa direpotin sama kamu. Kakak sayang sama kamu ra. Kakak akan selalu jaga kamu. Satu yang harus kamu tau kamu punya kakak. Dan maafin papa ya yang udah buat kamu jadi kayak gini. Cara papa emang salah udah nyiksa kamu ra, tapi kakak mohon maafin papa ya” ucap Fino mengusap pipi tirus Ara.
Ara mengangguk mendengar ucapan kakaknya. Benar apa yang diucapkan Fino kalau ia masih memiliki kakak yang selama ini menjaganya. Hanya ia yang terlalu cuek dengannya.