
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas duduk santai di salah satu ruang vip restoran terkenal. Pria paruh baya yang tak lain adalah Tn. Felix. Ia baru saja kembali dari Australia beberapa hari setelah mendengar kabar tentang Ara waktu itu.
Dan saat ini Tn. Felix sedang bertemu dengan wanita cantik di depannya, Clarissa Anderson.
“Ada gerangan apa tuan Alardo sampai menemui saya secara langsung?” ucap Clara tenang.
Tn. Felix tersenyum miring mendengar pertanyaan wanita di depannya.
“Aku tidak suka berbasa basi. Aku ingin menawarkan kerja sama padamu untuk mendapatkan apa yang kau inginkan saat ini”
Clara tampak berpikir sejenak menangkap maksud ucapan Tn. Felix. Seingatnya ia tidak pernah berurusan dengan pria paruh baya di depannya. Sedangkan Tn. Felix yang ditatap malah tertawa lepas, entah apa yang membuatnya tertawa.
“Laurensius Riko Zafano” ucap Tn. Felix kembali dengan wajah datar menatap tajam bola mata Clara.
“Kau akan mendapatkan pria idamanmu itu asal kau mau bekerja sama dengan ku” sambung Tn. Felix serius.
Clara tertegun lalu tersenyum, ia merasa bahagia dan membayangkan akan bersanding dengan Riko. Tanpa pikir panjang Clara menerima untuj bekerja sama dengan Tn. Felix.
“Sepertinya menggiurkan, baiklah saya terima kerja sama ini” ucap Clara tersenyum.
“Mulai hari ini kita bekerja sama. Deal?” ucap Tn. Felix mengulurkan tangannya.
“Deal” jawab Clara cepat sambil menjabat tangan Tn. Felix.
Mereka saling melempar senyum penuh arti. Setelahnya Tn. Felix mengungkapkan apa yang akan mereka rencanakan.
Awalnya Clara terlihat kaget mendengar rencana Tn. Felix. Tapi tak lama Clara tersenyum bahagia dengan rencana mereka. Tn. Felix sendiri merasa tidak sabar menjalankan rencana ini sama hal nya dengan Clara.
...****...
Di kantor Riko baru saja menyelesaikan setumpuk berkas yang di berikan sekertarisnya. Riko meregangkan ototnya sebentar, sampai keributan pun terdengar di luar pintu ruang kerjanya.
“Ck ada apa sih? Berisik sekali” gumam Riko kesal.
Pintu pun terbuka paksa menampakkan wanita cantik dengan senyum genitnya membuat Riko memutar bola mata jengah.
“Maaf tuan saya sudah me-“
“Pergilah. Biar wanita ini jadi urusanku” putus Riko babgkit dari duduknya berpindah ke sofa.
“Baik tuan. Permisi” ucap sekertaris Riko.
Clara langsung berjalan bergelayut manja di lengan Riko dengan wajah menggodanya.
“Lepaskan tangan kotor mu itu” ketus Riko menarik tangannya kasar.
“Sayang kamu kog kasar sih” rengek Clara mencoba meraih lengan Riko.
Riko segera bangkit menjauh dari Clara. Sungguh dia merasa jijik berdekatan dengan wanita di depannya saat ini sedari dulu. Bahkan Riko bersyukur pertunangannya gagal karna Clara saat itu hamil dengan pria lain.
“Apa mau mu kesini? Uang? Sebutkan berapa yang kau inginkan? Setelah itu pergilah” ucap Riko datar.
Clara mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa terhina dengan ucapan Riko barusan. Tapi demi bisa mendapatkan hati Riko kembali, Clara mencoba menahan emosinya.
“Yang aku mau tinggalin dia sayang. Dia enggak pantes buat kamu sayang” pinta Clara.
Riko paham siapa yang di maksud oleh Clara pun tertawa mendengarnya.
“Kau bilang Ara tidak pantas untuk ku bukan?” tanya Riko dengan tawa kecil.
Clara mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Riko.
“Dan akan lebih tidak pantas jika KAU yang bersanding di sampingku. Jangan harap!” tekan Riko dengan wajah garangnya.
“Aku tidak akan pernah menggunakan barang bekas sepertimu” tuding Riko.
“Asal kau tau, Ara bahkan lebih pantas bersanding dengan ku. Kau bahkan tidak bisa menandingi Ara ku. Pergilah dan jangan pernah kau menemui ku lagi” tambah Riko mengusirnya.
“Kau sudah salah langkah sayang dan akan ku pastikan kau menyesal” teriak Clara marah lalu pergi begitu saja.
Riko menghela nafas lega melihat kepergian Clara.
‘Maaf Clara. Bukan maksud menghina mu. Tapi kamu juga harus tau batasanmu. Semoga kau segera mendapatkan seseorang yang bisa membawa mu ke jalan yang benar. Amin’ doa Riko dalam hati.
Riko pun langsung bersiap karena 10 menit lagi akan menghadiri rapat bulanan.
...****...
Di lain tempat pada waktu yang bersamaan Ara menerima paket tanpa alamat pengirim.
“Perasaan Ara enggak lagu nunggu paket deh bi. Jangan-jangan salah alamat bi” ucap Ara menaruh paket di atas meja ruang tamu.
“Enggak mungkin salah dong non. Tadi petugasnya bilang ini buat non Ara kok. Mungkin aja dari tuan Riko. Paket spesial gitu non” ucap bi Surti.
“Apaan sih bi” ucap Ara malu-malu kucing.
“Bibi ambilin gunting dulu ya non buat buka paketnya” ucap bi Surti pergi mengambil gunting.
Ara langsung menghubungi Riko untuk berterima kasih dan mau bilang kalau paket dari nya sudah sampai.
Panggilan pertama tidak di angkat oleh Riko dan Ara memilih mengirimkan pesan berisi ucapan terima kasih pada Riko soal paket yang Ara terima.
“Kok gak diangkat ya?” gumam Ara bersamaan dengan bi Surti datang.
“Mungkin tuan Riko masih sibuk kali non. Kan masih jam kerja, sabar aja non. Pangeran non lagi sibuk kerja buat masa depan non” canda bi Surti.
“Bibi nih ya dari tadi ada aja acaranya deh” gerutu Ara dengan pipi merona.
“Ini non guntingnya” ucap bi Surti menyerahkan gunting pada Ara.
Ara pun langsung membuka paket itu dengan tidak sabar. Ara di buat penasaran dengan isi paket tersebut sama hal nya deng bi Surti yang masih menemani Ara membuka paket.
“Aaaaaaaaaaa” teriak Ara dan bi Surti bersamaan.
Dengan cepat bi Surti membuang paket itu ke lantai dan menenangkan Ara yang terlihat pucat ketakutan.
Kebetulan Alex baru saja pulang di antar Tony karna mobilnya mogok. Alex dan Tony yang mendengar teriakan Ara dan bi Surti segera berlari masuk ke dalam rumah.
Alex melihat Ara menangis dalam pelukan bi Surti yang menenangkan Ara.
“Sayang ada apa?” tanya Alex lembut mendekati Ara.
Ara menoleh dan melihat Alex yang kini berada di sampingnya. Ara langsung memeluk erat Alex dan menangis histeris karna ketakutan.
“Hey sayang ada apa?” tanya Alex lalu menatap bi Surti.
“Lex lihat paket itu” tunjuk Tony sebelum bi Surti menjawab.
Rahang Alex mengeras melihat anak kucing mati berlumur darah segar di dalam paket itu. Tony mengambil kertas yang tertulis ‘Kau akan mati Ara’
“Siapa yang berani mengirim paket itu?!” geram Alex masih memeluk Ara yang tubuhnya kian melemah.
Alex menatap Ara yang ternyata pingsan di dalam pelukannya. Alex langsung menggendong Ara dan membawanya ke kamar.
“Tony kau urus semua nya dan bi Surti cepat hubungi dokter Heru untuk segera datang” ucap Alex tegas sebelum pergi.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥