
“Cerita dong kak tentang masa kecil ku dulu. Siapa tau kak Riko cerita bisa bantu ingatan aku kembali gitu” sambung Ara membuat Riko menghentikan langkahnya dan menatap lekat Ara.
“Kamu mau denger cerita kita Ra?” tanya Riko pada akhirnya.
“Cerita kita?” tanya Ara balik.
“Iya cerita aku sama kamu semasa kecil, Rara” ucap Riko.
Deg.
‘Panggilan itu lagi’ gumam Ara menatap Riko.
Riko pun mulai menceritakan tentang masa kecil Ara bersamanya. Tidak ada satu pun yang terlewatkan dari cerita Riko dan hal itu membuat Ara menebak sesuatu.
“Dan terakhir kita bertemu saat aku akan berangkat ke Paris. Berat bagi aku ninggalin kamu saat itu Ra, tapi aku juga gak bisa menolak untuk meneruskan studyku di sana. Andai saja waktu itu aku gak maksa kamu buat ikut nganter aku ke bandara mungkin saat ini kamu masih mengingatku Ra. Bahkan tidak ada satu pun orang yang memberitahu ku tentang kecelakaanmu dan tante Fiona. Dan yang aku lakukan di sana belajar dengan giat supaya aku bisa segera kembali ke sini. Kembali pada cinta ku, cinta pertamaku yaitu kamu. Raraku” jelas Riko dengan menggenggam tangan Ara.
“Dari dulu sampai saat ini bahkan nanti hanya kamu pemilik hati ini Ra” sambung Riko tulus dari hatinya.
Ada rasa lega dan bahagia bisa mengucapkan semua perasaannya pada Ara. Tapi tidak menutup kemungkinan rasa sedih menghampirinya melihat ekspresi Ara yang biasa saja terkesan darar. Dan itu sudah sangat mewakili bahwa Raranya masih belum mengingat dirinya.
Riko menunduk guna menghilangkan rasa sedihnya saat ini. Melihat kesedihan di wajah Riko, Ara tersenyum dengan mata berlinang memeluk Riko erat.
“Jadi kak Riko dan kak Fano satu orang yang sama. Rara kangen sama kak Fano” tangis Ara.
Tubuh Riko menegang mendengar ucapan Ara karna sepanjang cerita Riko tidak menyebutkan nama itu. Riko melepas lembut pelukan Ara memegang kedua pundak Ara yang masih sesenggukan.
“Ra ka-kamu barusan bilang Fa-Fano?” tanya Riko tak percaya dengan air mata menumpuk siap jatuh.
“Katakan sekali lagi Ra. Kamu barusan bi-“
“Kak Fano” ucap Ara tersenyum memotong ucapan Riko.
Air mata Riko pun jatuh tak tertahan, ia menarik tubuh mungil Ara ke dalam pelukannya.
“Kau mengingatku Ra. Kamu ingat aku Ra. Tuhan terima kasih” tangis Riko memeluk erat tubuh Ara.
Ara tersenyum dalam pelukan Riko.
‘Ternyata ini alasan kenapa aku slalu merasa nyaman di dekat kak Riko saat pertama kali kita bertemu kembali. Walau dalam keadaanku yang lupa ingatan, ternyata perasaan ini memberikan sinyal padaku bahwa pria yang memeluk ku saat ini adalah pria dari masa kecilku yang sudah berjanji menjadi masa depanku dan pelindungku. Kak Fano kau kembali’ batin Ara tersenyum.
Riko melepas pelukannya lalu mengecup kening Ara lembut membuat Ara memejamkan matanya sejenak.
“Ra aku bahagia kamu mengingatku kembali. Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu saat itu. Tapi aku janji Ra kembalinya diriku itu untuk slalu di sampingmu dan menjagamu” ucap Riko memeluk kembali Ara seakan tak ingin lepas dan jauh lagi.
“Iya gak apa-apa kak. Saat Ara mengingat kembali semuanya, Ara juga mengingat kak Fano. Tapi Ara gak tau harus berbuat apa? Ara juga berpikir mungkin kak Fano sudah menetap di Paris. Dan ternyata kenyataannya kak Fano sudah di sampingku jauh sebelum aku mengingat kakak. Rara sangat merindukan kak Fano” jelas Ara dalam pelukan Riko.
Riko melepas pelukannya dan menggenggam tangan Ara lembut.
“Mulai saat ini panggil aku Fano ya Ra. Aku sangat suka saat kamu panggil aku Fano. Dan aku akan marah jika orang lain yang memanggilku Fano” ucap Riko di balas tawa kecil oleh Ara.
“Ternyata kak Fano gedenya pinter gombal ya” canda Ara.
“Aku serius Rara” balas Riko datar.
“Iya-iya kakak serius, dua rius malah” ledek Ara.
“Gemes banget sih jadi pengen bawa pulang aja deh” ucap Riko gemas.
“Jangan dong nanti di marahin kak Alex sama kak Fino lo. Di halalin aja juga belum” canda Ara sambil tertawa.
“Ohh jadi ada yang ngekode nih critanya” ucap Riko membuat pipi Ara merona.
“Apaan sih kak? Ara cuma bercanda kog” balas Ara malu.
“Tapi aku anggap semua itu serius Ra” ucap Riko menggenggam kedua tangan Ara.
“Ra aku ingin kamu jadi pendamping hidupku sampai tua nanti. Aku ingin slalu ada di samping kamu dan jagain kamu. Aku mungkin gak bisa janjikan apapun untukmu Ra. Tapi yang harus kamu tau, aku serius dalam memilih kamu untuk jadi istriku nanti” sambung Riko.
Ara menatap pria di depannya yang lebih tua 6 tahun dari nya. Ara bisa melihat keseriusan dari bola mata Riko yang memancarkan ketulusan di setiap ucapannya.
“Tapi Ara be-“
“Jadilah pacarku Ra” ucap Riko memotong ucapan Ara.
“Ck dasar gak ada romantis-romantisnya. Di mana-mana tuh kalo mau deketin cewek atau nembak cewek tuh ada yang bawa bunga, ada yang di ajak makan malam romantis intinya yang berbau romantis deh baru nyatain cinta” omel Ara menatap sengit Riko yang meringis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ya maaf dong Ra. Aku gak pernah nembak ataupun serius sama cewek lain, selain kamu. Aku juga bukan tipe cowok yang bisa romantis sama ceweknya” lirih Riko.
“Ya iyalah mau bisa deket sama cewek mana coba? Orangnya aja cuek, dingin kaku lagi. Yang ada ceweknya pada lari takut” ketus Ara lalu berjalan meninggalkan Riko.
“Ra. Rara kog malah pergi sih” panggil Riko tersenyum geli.
Riko berlari memanggil Ara yang terus berjalan di depannya. Akhinya Riko berlari kecil mendekati Ara lalu menahan tangan Ara. Riko tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Hal itu tidak lepas dari pandangan Ara.
Ara terkejut sampai menutup mulutnya dengan tangan kanan nya. Bagaimana tidak Riko ternyata mengeluarkan kotak berudu merah dan saat di buka sebuah cincin cantik membuat Ara terpesona.
“Ra aku tau kamu masih akan kuliah dan mengejar cita-cita mu. Dan aku pun akan slalu mendukungnya, karna aku sadar aku tidak boleh egois untuk memilikimu. Aku akan mendukung setiap pilihanmu dan menunggumu Ra. Tapi ijinkan aku mengikatmu sebagai tunanganku, kamu mau kan Ra?” ucap Riko menatap lekat Ara.
Bibir Ara seakan kelu, bahkan untuk berucap saja susah. Air mata bahagia bercampur haru mulai jatuh membasahi pipinya.
‘Ya Tuhan jangan biarkan ini hanya mimpi. Sejujurnya selama ini aku mencintai pria di depanku ini Tuhan’ batin Ara dengan tangis haru nya lalu menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk Riko.
Riko tersenyum lega lalu memasangkan cincin itu pada jari Ara. Mengusap lembut cincin yang baru saja melingkar di jari lentik Ara.
“Cantik, sama seperti pemiliknya” ucap Riko mengecup kening dan mengusap pipi Ara bergantian.
“Terima kasih kak untuk semuanya” peluk Ara di balas dengan pelukan erat dari Riko.
“Sama-sama sayang” bisik Riko pada Ara.
Selamat siang menjelang sore semua. Yang jomblo jangan pada gigit jari ya🤣
author jadi pengen di lamar bang Riko😂
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥