
Keesokan harinya Ara terbangun dari tidur nyenyaknya karna sinar matahari yang masuk dari celah gorden kamarnya. Sejenak Ara termenung mengamati sekitarnya sambil merenggangkan tubuhnya malas.
Ara mulai duduk dan sadar bahwa semalam ia tidur di dalam mobil Riko saat perjalanan pulang.
“Apa kak Fano yang bawa aku masuk ke kamar? Tapi enggak mungkin deh kayaknya. Kak Alex pasti bakal marah kalo tau. Apa mungkin kak Alex? Ah tau ah mandi aja” gumam Ara.
Ara langsung bangkit merapikan tempat tidurnya lalu pergi mandi dan bersiap untuk turun sarapan.
Selesai dengan rutinitasnya Ara kini berjalan menuju meja makan dimana Alex sudah menunggunya sambil mengoles roti dengan selai kacang.
“Pagi adek kesayangan kakak” sapa Alex saat melihat Ara memasuki ruang makan.
“Pagi juga kak Alex, kakaknya Ara” sapa Ara balik sambil tersenyum lalu duduk di sisi kanan Alex.
“Gimana tidur kamu nyenyak?” tanya Alex.
“Nyenyak pakek banget” balas Ara sambil mengambil beberapa iris roti.
“Tumben sarapan roti? Emang perut kamu bisa kenyang?” ledek Alex saat melihat Ara mengambil lima iris roti dan selai coklat.
“Kata siapa Ara mau sarapan roti doang. Ara tuh mau makan roti dulu trus makan sama nasi. Kak Alex tenang aja Ara bisa habisin semua kog” canda Ara.
“Iya makan yang banyak. Biar cepet gede” balas Alex.
“Kak Ara udah gede ya” kesal Ara sambil mengoles selai coklat pada roti dan menunpuknya berulang-ulang.
“Iya adek kakak udah gede” ucap Alex mengacak rambut Ara.
“Yaudah gih habisin sarapannya” sambung Alex.
Selesai dengan sarapan Alex mengajak Ara duduk di gazebo taman samping rumah.
“Kak Alex enggak ke kantor?” tanya Ara yang melihat Alex masih santai saja.
“Hari ini enggak ada rapat penting jadi kakak sengaja enggak ke kantor” jelas Alex dibalas anggukan oleh Ara.
“Ra, kakak boleh tanya sesuatu?” tanya Alex menatap wajah adiknya.
“Tanya apa kak?” ucap Ara.
“Rencananya kamu mau kuliah dimana dek? Kalau kamu udah nentuin mau kuliah dimana nanti kakak bantu urus masuk kuliahnya” jelas Alex.
“Emang Ara harus kuliah ya? Padahal Ara males banget, tapi juga pengen. Ara masih bingung kak” ucap Ara menatap Alex dengan memelas.
“Dek gimana kalau kamu kuliah di luar negeri sekalian kakak ngurus perusahaan yang di sana. Perusahaan keluarga kita yang di sana lagi butuh kakak dek, tapi kakak gak mau ninggalin kamu disini sendiri. Kakak enggak akan maksa kamu dek tapi kakak harap kamu ikut kakak dan kuliah di sana” ucapan Alex barusan bagai petir yang menyambar di siang hari.
Ara terkejut mendengar ucapan Alex baru saja. Ara tidak bisa meninggalkan tanak kelahirannya begitu saja. Tapi Ara juga merasa kasian dan tidak tega melihat raut wajah sedih dan bingung Alex, kakak kandungnya.
“Kalau pun kamu enggk bisa ikut kakak ke luar negeri kamu juga bisa kuliah dan tinggal disini kog dek. Kakak akan usahain dua minggu sekali untuk pulang jenguk kamu” sambung Alex saat menyadari perubahan raut wajah Ara.
“Ara pikir-pikir dulu ya kak” jawab Ara menunduk.
“Iya dek kamu pikir-pikir dulu. Kamu masih punya waktu sebulan penuh untuk mikirnya jadi santai saja. Jangan terlalu dipikirin nanti kepala kamu botak lo” canda Alex tertawa kecil.
“Kak Alex tuh ya kalo ngomong” ketus Ara.
Alex tertawa sambil mengacak rambut Ara yang mulai memanjang. Kakak beradik itu pun menghabiskan waktu sambil bercerita ditemani kue bolu kering buatan bi Surti.
...****...
Riko berjalan santai dengan wajah cuek dan dingin menuju ruang kerja sahabatnya, Fino. Riko terus melangkah tanpa menghiraukan sapaan dari beberapa karyawan di kantor Fino.
Apa lagi sebagian besar kaum hawa lah yang berebutan untuk menyapa nya. Siapa sih yang tidak terpesona pada ketampanan Riko? Sudah tampan, keren, tajir pula. Tapi sayang hati Riko hanya untuk gadis kecilnya, Ara.
Mengingat nama Ara membuatnya tersenyum membuat beberapa karyawan perempuan menjerit histeris melihat senyum Riko yang semakin menambah ketampanannya.
Sampai di depan pintu ruang kerja Fino, Riko langsung membuka pintu dan berjalan masuk.
“Apa kau baru saja tebar pesona dengan senyumanmu itu?” sindir Fino melihat Riko yang berjalan masuk lalu duduk di kursi berseberangan dengannya.
“Aku bahkan bisa gila saat ini asal kau tau” ucap Riko terus tersenyum.
“Tenanglah aku kesini mau bawa kabar kalau ingatan Ara sudah kembali” ucap Riko.
“Benarkah? Syukurlah kalau ingatan Ara sudah kembali. Berarti Ara juga ingat pada mu bukan?” balas Fino bahagia mendengarnya.
Riko yang di tanya semakin melebarkan senyumannya membuat Fino ikut tersenyum. Fino sudah paham melihat gelagat Riko saat ini.
“Ceritakan pada ku bagaimana Ara tau Fano itu kamu?” tanya Fino penasaran.
Riko lalu menceritakan mulai dari ia mengajak Ara jalan-jalan ke pantai sampai Ara menerima dirinya. Bahkan sebagai tunangan Riko.
Fino bangkit lalu merangkul Riko sahabatnya dan memberi selamat.
“Kau harus segera meresmikan pertunanganmu. Mintalah restu pada Alex kau tau sendiri Alex punya hak atas Ara, dia kakak kandung Ara” jelas Fino pada Riko.
“Jadi ingatan Ara udah kembali dan Ara nerima kamu jadi tunangannya calon suaminya. Astagaaa” teriak Lisha histeris mengagetkan Fino dan Riko dengan rantang di tangannya.
“Sayang” ucap Fino mendekati istrinya.
“Ck dasar bumil masih aja ya sifatnya. Dikit-dikit teriak, dikit-dikit heboh gak capek apa?” cibir Riko di balas pukulan kecil dari Lisha.
“Aduh sakit kak. Aduh” ucap Riko.
“Kamu ya dasar sepupu gak punya sopan santun. Berani kamu mencibir aku hah. Enggak aku restuin kamu sama Ara baru tau rasa kamu. Lagian juga kenapa Ara mau nerima kamu. Ih kalo kakak jadi Ara amit-amit” omel Lisha masih memukul Riko.
“Sayang udah dong kasian lo dedeknya nanti capek” ucap Fino mencoba melerai istri dan sepupunya.
“Masalahnya kak Lisha bukan Ara kan jadi jangan sewot” balas Riko menghindari serangan si bumil.
“Apa kamu bilang? Sewot? Dasar bocah kesini kamu. Kakak bikin sate kamu sekarang” amuk Lisha dan meraih dasi Riko lalu menjewer telinga Riko.
“Aaaa sakit kak ampun sakit aduh” rengek Riko kesakitan.
Sedangkan Fino hanya tertawa kecil lalu mengambil ponsel dan merekam kegaduhan yang di buat Riko dan istrinya. Lalu Fino mengirim video tersebut ke wa Ara.
Walau sudah hampir seminggu Ara tinggal bersama Alex dan sudah mengetahui semuanya. Fino sering menanyakan kabar atau menelpon Ara. Fino tidak mau hubungan di antara keduanya terputus begitu saja. Bagaimana pun Ara sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
Fino hanya masih sibuk dengan perusahaan yang membuatnya belum bisa menemui Ara.
Fino lalu berjalan memisah keduanya saat melihat Riko yang kesakitan karna telinganya yang di jewer. Membuat Fino tidak tega.
Riko mengusap telinganya yang memerah hasil jeweran kakak sepupunya yang kini malah asik menata makan siang di atas meja untuk sang suami yang merasa lapar katanya, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Ck dasar bumil aneh” ucap Riko lirih sambil duduk di depan Fino dan Lisha.
“Aku mendengarnya kau mau ku jewer lagi?” tanya Lisha tajam membuat Riko menelan ludahnya.
“Enggak kog kak Lisha cantik hari ini” kilah Riko.
“Jadi kemarin aku gak cantik maksudmu?!” ketus Lisha menatap Riko tajam dengan garbu di tangannya.
“Sayang sudah ya jangan berantem lagi sama Riko. Aku dah lapar lo ini” ucap Fino menghentikan Lisha.
“Maaf ya mas. Ini aku ambilin sekarang kamu makan ya” ucap Lisha lembut.
Mereka bertiga pun makan bersama di selingi perdebatan antara Lisha dan Riko.
Hay hay semua🤗
Selamat siang menjelang sore, ada yang kangen sama si bumil gak nih. Si bumil akhirnya muncul juga😁
Oiya author juga mau bilang Ara sekarang kalo manggil Riko dengan Fano ya. Takutnya ada yang bingung😊
Ada yang request Alex sama Letha gak nih??
Next yuk👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥