My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 19



Dikediaman Fino


Mereka baru saja sampai dan kini berkumpul diruang tamu. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka saat mendengar kabar kehamilan Lisha.


Ya pemeriksaan tadi menyatakan bahwa Lisha saat ini sedang mengandung buah hatinya bersama suami tercinta dan sekarang baru berusia satu bulan.


Fino masih terus memeluk pundak istrinya dan tangan kanan mengelus perut Lisha yang masih datar. Delapan bulan kedepan akan menjadi moment yang mereka nantikan dari dulu.


Mereka sangat serius mendengar wejangan dari mama Lusi, ibu kandung Lisha.


Hingga Lisha menyadari ada yang kurang, ia melihat kesana kemari tidak menemukan orang yang ia cari.


“Ada apa sayang?” tanya Fino menyadari istrinya yang sedang mencari sesuatu.


“Apa Ara belum bangun mas?” tanya Lisha seakan menyadarkan Fino.


Ia baru sadar bahwa adiknya tidak ikut berkumpul bahkan menyambutnya datang tadi. Fino menatap datar papanya saat menyadari papanya lah yang tadi menyambut kedatangannya.


“Bii bii Asih” panggil Fino berdiri dri duduknya.


“I.. iya d.. den” gugup bi Asih.


Fino dan Lisha menatap curiga melihat kegugupan bi Asih yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Tn. Felix, mama Lusi dan papa Wisnu menghentikan perbincangan mereka dan menatap heran saat melihat Fino memanggil bi Asih.


Tn. Felix memutar mata jengah karna ia tau apa yang akan diperdebatkan nabtinya.


“Bi apa Ara belum bangun? Ini sudah jam sembilan lebih. Bibi bangunin ya biar kita sarapan bareng bareng” kata Lisha lembut.


“I.. itu den n.. non a.. anu itu” ucap bi Asih ragu.


“Ck dia sudah papa usur tadi. Bukannya dia biasa tinggal di apartement. Jadi untuk apa dia tinggal disini. Itu hanya akan menyusahkan kalian. Sudahlah biarkan dia tinggal di apartement” ucap Tn. Felix enteng.


Semua mata tertuju padanya, tidak habis pikir dengan apa yang baru saja di ucapkan dengan enteng.


“Oh sepertinya saya ada rapat mendadak. Kalo begitu saya pamit dulu ya pak wisnu. Maaf ada sedikit kekacauan. Yah hanya masalah tidak penting” pamit Tn. Felix beranjak pergi.


Bukan ia menghindari amukan dari putranya bukan. Ia hanya terlalu malah membahas hal yang menurutnya tidak ada pentingnya itu.


Fino menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil memejamkan mata.


“Nak Fino, kamu yang sabar ya” kata mama Lusi mendekati menantunya dan memeluknya hangat.


“Terima kasih ma” kata Fino membalas pelukan mertuanya.


Ia merasa berada dipelukan sang ibu yang sudah lama meninggalkannya.


“Kalo gitu kita makan dulu saja ma pa ayo sayang” kata Fino melepas pelukan dan mengalihkan pembicaraan.


Ia tidak ingin terlihat sedih didepan istrinya yang kini hamil dan tidak boleh terlalu banyak pikiran.


Mereka bangkit ke ruang makan yang sudah tersedia berbagai jenis makanan. Fino teringat akan Ara, andai saja ia datang sebelum papanya mungkin ia bisa menahan Ara disini.


“Mas” panggil Lisha yang melihat suaminya melamun.


“Ah iya sayang kamu mau makan sama apa biar mas ambilin” tanya Fino dengan bibir melengkung ke atas.


Mereka semua tau apa yang sedang dipikirkan oleh Fino. Terutama mama Lusi yang merasa kasian pada Ara yang terlantar begitu saja. Sepertinya besok ia akan mengunjungi gadis itu pikirnya.


Fino mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk istrinya. Mereka menikmati sarapan dengan tenang.


Sedangkan Fini berpikir setelah ini ia akan mengunjungi Ara sambil membawakan makanan untuknya. Biar mama lusi yang menunggu istrinya di rumah pikirnya.


Ok gaiss


Kayaknya makin panas aja nih siang ini sama kek crita ini🔥🔥