
Alex masih setia menunggu adiknya sadar, sampai ia merasakan gerakan tangan Ara dalam genggamannya. Alex berdiri dan menekan tombol di samping ranjang rawat.
Perlahan Ara membuka mata dan wajah sang kakak lah yang pertama ia lihat. Ara tersenyum kecil sambil menggenggam tangan Alex.
“Hai sayang, malaikat kecil kakak” sapa Alex sambil mengusap rambut Ara tanpa melepas genggaman tangan Ara.
“Ada yang sakit? Pusing? Atau mual?” tanya Alex.
“Haus kak” lirih Ara.
“Haus sayang? Sebentar” ucap Alex membuka botol dan memberi sedotan agar memudahkan Ara minum.
“Pelan-pelan” ucap Alex saat Ara minum.
“Udah kak, makasih” ucap Ara.
“Sama-sama cantik”
Alex mengusap rambut Ara, sedangkan Ara mengingat ingat kejadian sebelum ia pingsan. Ara menoleh ke arah Alex yanv masih menatapnya penuh kasih sayang layaknya kakak ke adiknya.
“Kenapa?” tanya Alex.
“Kakak gak apa-apa kan? Kakak gak luka kan? Mereka udah pada ketangkapkan kak?” ucap Ara sambil berkaca-kaca.
Alex yang paham maksud Ara pun segera memeluk nya. Dan akhirnya tangis Ara pun pecah. Bayangan yang tadi ia alami membuat Ara mengeratkan pelukannya.
“Ara takut kakak kenapa napa” tangis Ara.
“Hei udah dong nangisnya, lihat kakak gak kenapa napa kan? Jangan nangis terus dong nanti cantiknya hilang” ucap Alex mengusap sisa tangis Ara.
Bersamaan dengan itu dokter Heru masuk ke dalam ruangan di temani suster.
“Selamat sore tuan Alex, nona Ara” sapa dokter Alex.
“Selamat sore dok” jawab Alex dan Ara.
“Saya periksa nona Ara dulu ya” ucap dokter Heru dan mulai memeriksa kondisi Ara.
“Kondisi nona sudah mulai stabil hanya perlu istirahat yang cukup dan makan yang banyak ya” canda dokter Heru membuat Ara tersenyum.
“Jangan terlalu banyak pikiran dan nangis nanti cantik ya juga akan ikut hilang” tambah dokter Heru terkekeh diikuti Alex dan suster.
“Tuh dengerin kata dokternya dek” ucap Alex membuat Ara mencebik.
“Kapan saya boleh pulang dok?” tanya Ara yang sudah tidak betak berada di rumah sakit terlalu lama. Lagian siapa sih yang betah di rumah sakit.
“Nanti malam sudah boleh pulang. Tunggu sampai infusnya habis dulu ya” jelas dokter Heru membuat Ara lesu seketika.
“Kalau begitu saya pamit dulu tuan Alex, nona Ara” pamit dokter Heru di ikuti suster.
“Udah dong jangan cemberut gitu” ucap Alex mengacak rambut Ara.
Pintu kembali terbuka dan masuklah Tony dengan kantong plastik ditangannya berisi nasi kotak dan beberapa camilan.
“Kau lama” dengus Alex membuat Tony memutar bola mata malas.
“Hai Ra kau sudah sadar” sapa Tony menaruh kantong plastik di atas nakas.
“Kau tidak lihat Ara sudah bangun masih tanya lagi” ketus Alex.
“Kak” panggil Ara memperingatkan Alex agar tidak berkata kasar.
“Kau lihat Ra kakak mu itu emang kayak gitu jahat, kasar lagi” adu Tony dengan wajah di melas-melas kan.
“Ck mulai dia” gumam Alex.
“Biar nanti Ara cubit kak” ucap Ara tersenyum.
Tony dan Ara pun tertawa melihat wajah kesal Alex sampai Ara sedikit meringis kesakitan.
“Kenapa? Apa ada yang sakit?” panik Alex.
“Enggak apa-apa kog kak cuma sedikit sakit aja” ucap Ara memegang keningnya.
“Yaudah sekarang kamu makan dulu ya kakak suapin” ucap Alex mengambil mangkuk bubur yang dibawa Tony tadi.
“Kog bubur sih” lirih Ara.
“Namanya juga sakit Ra, mana ada orang sakit makan baso beranak pedas” canda Tony membuat Alex menginjak kakinya.
“Aduh... aduuhh sakit Lex” teriak Tony mengerang kesakitan.
“Kak Alex jangan gitu dong” ucap Ara.
Sedangkan Tony hanya mendengus dan memilih duduk di sofa memegang kakinya yang sakit karna di injak Alex tadi.
“Kak” ucap Ara.
“Hmmm... kenapa?” tanya Alex sambil menyuapi Ara.
“Kak Fano kemana?” tanya Ara.
“Fano? Riko maksud kamu?” tanya Alex di balas anggukan oleh Ara.
“Riko tadi keluar sebentar nanti malam juga balik. Jadi sekarang sama kakak dulu nanti sama Riko. Kalau udah halal” ucap Alex membuat pipi Ara merona.
“Apaan sih kak” ketus Ara.
“Lanjut makan aaa” ucap Alex menyuapi Ara kembali.
...****...
Di kediaman Alex, Letha dan Arumi sibuk memasak menyiapkan menu makan malam nanti dibantu beberapa pelayan.
“Kak ini udah mateng Letha taruh di piring ya” ucap Letha.
“Iya kamu taruh di piring aja dek” ucap Arumi.
Mereka pun kembali berkutat dengan alat dan bahan di dapur. Canda tawa sesekali mengiringi acara memasak mereka.
...****...
Selesai mengurus pemakaman dan menjelaskan semua yang terjadi pada keluarga Clara, Riko pun memilih untuk pulang menuju rumah Alex. Tadinya Riko ingin menjemput Ara di rumah sakit, tapi Alex menyuruhnya untuk langsung ke rumah Alex.
“Hah melelahkan sekali” gumam Riko.
Dalam perjalanan Riko melihat toko kue langganannya bersama Ara. Ia langsung berhenti dan masuk untuk membeli kue kesukaan Ara, kekasihnya.
Tidak butuh waktu lama untuk Riko membeli pesanannya. Riko kembali masuk ke dalam mobil dan melaju kerumah Alex.
“Semoga Ara suka” ucap Riko.
...****...
Jam menunjukkan pukul 19.30 malam dan Ara sudah di perbolehkan pulang oleh dokter Heru. Setelah Tony mengurus semua administrasi nona nya, Tony masuk ke dalam ruang rawat Ara dengan mendorong kursi roda atas perintah Alex tepatnya.
“Okay sekarang kita bisa pulang” ucap Alex menggendong Ara dan mendudukkannya di kursi roda.
“Ara kan masih kuat jalan kak udah enggak lemes lagi, kenapa masih pakek kursi roda sih” keluh Ara.
“Udah nurut sama kakak” ucap Alex mengambil alik mendorong Ara keluar kamar rawatnya.
Tony hanya diam mengikuti kedua majikannya di belakang.
Sesampainya di lobby Tony membuka pintu mobil untuk Alex dan Ara dan melipat kursi roda untuk ia masukkan ke dalam bagasi.
Di dalam mobil Ara memegang erat lengan Alex, rasa trauma masih Ara rasakan.
“Tenanglah” ucap Alex memeluk erat adiknya.
“Ara takut kak” lirih Ara.
“Pejamkan matamu dan peluk kakak biar enggak takut lagi hmm” ucap Alex mengusap kepala Ara lembut.
Tony masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil dengan perlahan. Ia paham betul saat ini Ara masih trauma.
“Tidurlah sayang” ucap Alex menenangkan adiknya.
Ara mengikuti saran Alex untuk memejamkan mata dan memeluk erat kakaknya. Perlahan rasa kantuk mulai menyerang Ara, Alex yang paham terus mengusap kepala adiknya lembut sampai terlelap.
“Pelankan laju mobilmu Ton” perintah Alex di angguki oleh Tony.
Alex menatap Ara yang terlelap dalam pelukkannya.
‘Kakak akan selalu jagain kamu dek, apapun yang terjadi’ gumam Alex mengecup kening Ara.
Malam kesayangan author🤗
Double up nih buat kalian🥰
Jangan lupa like, komen dan vote ya🔥🔥🔥🔥
Makasih❣️