My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 67



Ara dan Lisha terlihat antusias memilih menu makanan mereka.


“Kak ini enak deh kayaknya” ucap Ara.


“Eh iya deh, ini juga enak deh Ra kayaknya” ucap Lisha.


Dan bergitu seterusnya sampai Riko dan Fino hanya bisa menghela nafas menahan lapar.


“Kapan kita makan?” tanya Riko kesal menghentikan kegiatan Ara dan Lisha.


“Sabar dong” sungut Ara masih sibuk dengan buku menunya.


“Sayang kasian mbak nya udah nunggui dari tadi lo” ucap Fino pada samg istri.


Lisha melirik pelayan di samping meja yang tersenyum sopan dan masih bersabar menunggunya.


“Ra gimana kalo kita pesen makanan yang sering dipesen orang apa sih itu namanya lupa aku” ucap Lisha mengingat-ingat.


“Best seller kak,sayang” ucap Ara,Riko dan Fino bersamaan.


“Aku kan tanya sama Ara, ngapain ikut jawab sih” sungut Lisha.


“Yaudah mbak kita pesen makan best seller restoran ini ya. Yang banyak juga gak apa mbak sekalian, dedeg nya udah lapar banget dan jangan lama ya mbk” ucap Lisha tersenyum sambil mengusap perutnya yang buncit.


“Baik mbak. Apa ada tambahan lain?” tanya pelayan.


“Jus jeruknya 2 mbak” ucap Riko melirik Ara disampingnya.


“Oh iya mbak sekalian bilang sama chef nya porsi cabe dalam masakan dikurangi ya jangan terlalu pedas” pesan Riko diangguki pelayan lalu permisi pergi.


Ara menautkan kedua alis mendengar ucapan Riko.


“Kenapa harus dikurangi? kan enak kalo kerasa pedesnya” tanya Ara.


“Kak Lisha lagi hamil gak baik makan pedes, ya nggak Fin?” tanya Riko menatap Fino di depannya.


Fino yang di tanya hanya menganggukkan kepala sambil menatap Ara dan Riko bergantian.


“Trus kamu juga baru sembuh jadi jangan makan yang pedes-pedes dulu. Ngerti?” ucap Riko tergas diangguki oleh Ara.


Fino dan Lisha dibuat melongo melihat Ara yang semakin nurut dengan ucapan Riko.


“Di jawab dong jangan angguk-angguk doang” ucap Riko mematap wajah Ara yang menggemaskan.


“Iya iya iyaaaaa” ucap Ara tak bersemangat.


“Udah jangan lesu gitu nanti kita beli es krim” goda Riko tertawa.


“Apaan sih Ara bukan anak kecil ya yang di sogok pakek es krim” kesal Ara menatap tajam Riko.


Ehem ehem


Fino dan Lisha berdehem menghentikan debat sepasang calon kekasih di hadapan mereka. Calon kekasih? Kenapa nggak calon istri saja? Jangan salah Riko bahkan sudah meminta Ara sebagai istrinya kelak pada Fino dan Lisha. Dan di setujui oleh Fino dan Lisha, tapi kembali pada Ara nantinya pesan Fino waktu itu.


“Sudah jangan debat terus” ucap Lisha.


Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk mengantarkan pesanan mereka dan menata rapi di atas meja.


“Silakan di nikmati mbak mas” ucap salah satu pelayan sebelum pergi.


“Ih ada somay juga kayaknya enak deh” ucap Ara mencoba menyupitnya satu.


“Jangan makan somay yang itu Ra” larang Riko dan Fino bersamaan membuat Ara tersentak begitu juga Lisha yang tergiur ingin mencoba somay tersebut.


“Ke kenapa?” tanya Ara.


“Iya bener kata Riko, kamu makan yang itu aja” ucap Fino menunjuk piring yang di sodorkan Riko.


“Biar ini kakak yang makan kalo gitu ya Ra” sambung Lisha menjauhkan piring somay berisi sea food dari Ara.


Ara tersenyum merasa diperlakukan istimewa malam ini. Sesaat ia menatap Fino yang tersenyum padanya. Ara tersadar tidak seharusnya ia marah pada sang kakak. Harusnya Ara paham waktu itu Fino hanya tidak ingin dirinya kenapa-napa. Ara menghela nafas menyesali tingkahnya beberapa bulan terakhir ini.


“Okay karna makanan sudah datang. kita juga semakin lapar. Dan bumil juga pasti tidak sabar lagi, jadi Rik kamu yang mimpin doa kali ini”


Suara Fino menyadarkannya dari lamunan panjang tadi. Riko pun memimpin doa sebelum makan.


“Berdoa selesai, selamat menikmati” ucap Riko.


Mereka pun menikmati hidangan sambil di selingi candaan kecil. Seperti cerita masa kecil masing-masing. Lisha menceritakan masa kecil Riko begitupun sebaliknya dan Fino menceritakan masa kecil Ara dan dirinya.


Sedangkan Ara memilih fokus pada makanannya. Ia tidak tau harus bercerita apa tentang masa kecil Fino dan dirinya. Ia hanya bisa mendengarkan dari Fino yang sedang bercerita bagaimana tingkahnya sewaktu kecil.


Karena sampai detik ini Ara belum juga mengingat apapun tentang cerita masa kecil sebelum kecelakaan itu terjadi dan menewaskan mamanya. Yang ia ingat hanya saat ia sadar sampai sekarang.


Riko yang menyadari keterdiaman Ara pun mengalihkan topik pembicaraan mereka. Fino dan Lisha pun paham dan menyadari topik yang mereka bahas membuat Ara diam saja dan fokus pada makanannya.


“Kamu mau tambah ayamnya Ra?” tanya Lisha.


“Aku mau ikannya aja kak” ucap Ara menyodorkan piringnya pada Lisha agar di ambilkan ikan yang dia inginkan.


“Ini kakak pilihkan yang besar biar kamu juga ikut besar” canda Lisha.


“Ara udah besar ya kak” ucap Ara pura-pura kesal.


Lisha tertawa melihat wajah Ara yang menggembungkan kedua pipinya.


“Sayang hentikan tawamu nanti keselak” ucap Fino.


Selesai dengan acara makan mereka memilih untuk singgah di panti asuhan Kasih Ibu tempat yang sering Ara kunjungi. Keluar dari mobil Ara berjalan bersama Lisha, sedangkan Riko dan Fino sibuk membawa belanjaan yang sudah dibeli tadi sebelum sampai di sini.


“Eh nak Ara. Barusan datang ya, silakan masuk nak” sapa bu Wiwik pengurus panti yang melihat kedatangan Ara dan beberapa orang yang belum ia kenal.


“Iya bu” ucap Ara tersenyum.


“Anak-anak lagi kemana bu?” tanya Ara.


“Tadi pak Alex kesini sama mbk Letha jemput anak-anak buat di ajak main kerumah pak Alex nak” ucap bu Wiwik.


‘Kak Alex kesini? Sama Letha? Kog tumben enggak ngajakin aku sih’ batin Ara.


Memang beberapa kali mereka bertiga akan mengunjungi panti bersama. Itu pun dulu atas ajakan Ara. Seperti saat ini ia juga mengajak kakaknya untuk mengunjungi panti.


“Mari silakan duduk biar saya buat kan minum dulu” tambah bu Wiwik.


“Enggak usah repot-repot bu” ucap Lisha.


“Oh ya bu kenalin ini kak Lisha kakak ipar Ara. Kalau yang ini kak Fino kakak Ara suaminya kak Lisha. Kalau yang itu kak Riko adik sepupunya kak Lisha sekaligus sahabat kak Fino bu” ucap Ara menunjuk satu persatu kakaknya.


Sedangkan Fino, Riko dan Lisha hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.


“Oh kakaknya nak Ara ya. Ibu kira nak Ara itu adeknya pak Alex, soalnya mirip-mirip dikit gitu wajahnya” canda bu Wiwik.


Next 👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥


Selamat datang Juni😉