My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 79



“Bagaimana keadaan Ara saat ini dok?” tanya Riko cemas saat melihat dokter Hans keluar.


“Luka di kepala bagian belakang untungnya tidak terlalu dalam dan tidak mengakibatkan hal fatal. Besok siang Ara juga sudah boleh pulang. Dia hanya butuh istirahat saja. Tenanglah” jawab dokter Hans menepuk pundak Riko.


“Terima kasih dokter Hans” ucap Riko dengan senyum ramahnya.


“Sama-sama tuan muda” ucap dokter Hans.


“Oh ayolah jangan panggil aku seperti itu” kesal Riko yang dibalas senyuman oleh dokter Hans.


“Kalau begitu aku akan masuk” pamit Riko.


Riko berjalan memasuki ruang rawat Ara dan di sana Riko untung kesekian kalinya melihat Ara berbaring lemah di atas ranjang dengan infus yang terpasang di tangannya.


Riko berjalan mendekat dan duduk di kursi samping Ara berbaring. Riko menggenggam tangan Ara yang terbebas dari infus.


“Cepat lah sadar Ra dan maaf aku datang terlambat untuk menolongmu” ucap Riko lalu mengecup kening Ara lembut.


“Aku akan membuat mereka menyesal dengan perbuatan mereka hari ini Ra” sambung Riko berganti mengusap kepala Ara yang tertidur pulas.


Riko beralih mengusap pipi Ara, menatap wajah pucat orang yang selama ini ia cintai dan sayangi.


...****...


Tony yang baru saja menerima telpon dari Letha bahwa Ara mengalami kecelakaan di sekolah segera masuk ruang rapat dengan kasar tanpa mengetuk pintu.


Alex menoleh ke arah pintu menatap tajam tingkah Tony yang seperti tidak punya sopan santun saja.


Tanpa memperdulikan tatapan tajam Alex, Tony berjalan mendekati Alex lalu menunduk memberi hormat.


“Maaf tuan atas kelancangan saya barusan. Tapi saya baru saja mendapat kabar bahwa ...” Tony menghentikan ucapannya menatap sekitar yang terlihat ingin tau.


Tony pun semakin mendekati Alex dan membisikkan ucapannya yang menggantung.


“Nona muda mengalami kecelakaan di sekolah dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit” ucap Tony membuat Alex spontan berdiri lalu beranjak begitu saja.


Mendengar kabar bahwa Ara masuk rumah sakit lagi membuatnya hilang akal sampai meninggalkan rapat. Tony sendiri mengucapkan beberapa kata maaf dan akan menjadwalkan ulang rapat hari ini, lalu ia pamit berlari menyusul Alex.


Tony segera berlali memasuki mobil dimana Alex sudah berada di dalam mobil.


“Bagaimana kejadiannya Ton?” tanya Alex khawatir.


“Hasil pengumuman hari ini menyatakan bahwa nona Ara masuk sepuluh besar lalu beredarnya gosip kalau nona Ara rela naik ke atas ranjang tuan Riko demi mendapatkan nilai yang bagus. Ditambah lagi dengan pelaku yang melukai nona Ara dengan vas bunga sampai melukai kepala bagian belakangnya adalah fans tuan Riko yang tidak terima atas kedekatan mereka, yaitu nona Ara dan tuan Riko. Itulah yang diceritakan Letha barusan” ucap Tony menjelaskan apa yang ia dengar dari Letha.


Alex mengepalkan kedua tangannya mendengar penjelasan Tony, rahangnya mengeras memperlihatkan wajahnya yang menahan emosi.


“Pastika mereka bertiga tidak diterima di kampus mana pun kau tau apa yang kamu lakukan bukan Ton” geram Alex.


“Siap tuan” jawab Tony.


Setelah dua puluh menit mereka pun sampai di rumah sakit dimana Ara dirawat. Alex berjalan dengan tergesa menuju ruang rawat Ara setelah bertanya pada salah satu perawat.


Cklek


“Ara” panggil Alex pada Ara yang sepertinya baru saja sadar.


Alex berjalan mendekati Ara yang berbaring lemah di atas ranjang rawatnya.


“Pusing kak” lirih Ara menatap Alex.


“Maaf bikin kakak khawatir” sambung Ara lirih.


Alex menggelengkan kepala sambil mengusap kepala Ara lembut.


“Jangan mikirkan apapun yang terpenting sekarang cepatlah sembuh” ucap Alex lalu duduk di sisi ranjang Ara.


Alex terdiam menatap sekeliling ruang rawat Ara yang sepi dan tidak ada satu pun orang saat ia datang. Alex baru saja menyadarinya, bahwa Ara sendirian di ruang rawat ini saat sadar.


“Kamu sendiri Ra? Kemana kakakmu itu? Kenapa tidak ada disini?” tanya Alex.


“Ara sadar bersamaan dengan kak Alex masuk tadi. Jadi Ara gak tau siapa yang menjaga Ara tadi kalau kak Fino hari ini sibuk dengan urusan kantornya. Atau mungkin masih di jalan” ucap Ara lemas.


“Baiklah sekarang kamu istirahat lagi, biar kakak yang jagain kamu disini” ucap Alex mengusap kepala Ara membuat rasa kantuk menyerang Ara kembali.


Alex tersenyum melihat Ara yang sudah terlelap kembali dalam tidurnya.


‘Pa Ma maafkan Alex yang lagi-lagi tidak bisa menjaga Ara. Sebentar lagi, ya sebentar lagi pa ma Ara akan kembali pada keluarga kita. Dan akau tak akan biarkan orang lain menyakitinya’ batin Alex mengusap pipi Ara yang terlelap.


Ddrrttt Ddrrttt Ddrrttt


Alex mengambil ponsel dari saku celananya lalu menggeser ikon hijau setelah melihat siapa yang menghubunginya. Alex memilih bangkit sedikit manjauh dari Ara agar tidak mengganggu tidurnya.


“Hallo ada apa Tha?” tanya Alex.


“Hallo kak Alex. Gimana keadaan Ara kak? Letha mau kesana ini malah ban mobil Letha bocor trus masih harus nunggu kak Tony lama. Letha khawatir banget sama Ara kak. Mau pesen taxi online uang Letha habis tadi pagi lupa gak minta kak Tony. Jadi nunggu kak Tony yang lama itu” cerocos Letha tanpa henti.


Alex menahan tawa mendengar suara kesal Letha yang tiada henti. Alex lalu mengusap wajahnya merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bisa-bisa nya dirinya merasa senang hanya mendengar keluhan Letha.


“Hallo kak. Kak Alex masih di sana? Hallo kak” ucap Letha menyadarkan Alex dari lamunannya.


“Ah ya Tha, masih disini kog. Kamu tenang saja Tha. Kondisi Ara baik-baik saja. Sekarang dia baru aja tidur. Jadi kamu tenang aja ya” ucap Alex menenangkan Letha diseberang sana.


“Syukurlah Ara gak kenapa-napa. Aku lega kak. Yaudah Letha tutup dulu ya kak” ucap Letha.


“Iya Tha. Kamu hati-hati ya. Dan tunggu sampai Tony datang” pesan Alex.


“Siap kak Alex. Dah” ucap Letha.


“Hmmm” gumam Alex.


‘Aku baru sadar kalau Tony tidak ada di sini’ gumam Alex.


Alex berjalan mendekati Ara dan duduk di sampingnya. Alex terdiam menatap Ara, entah apa yang akan terjadi nanti kalau Ara tau semuanya, pikir Alex.


Alex memperhatikan leher Ara sampai ia menyadari sesuatu. Alex menggenggam kalung liontin milik pemberian keluarganya. Alex menatap Ara yang tidak memakai kalaung yang sama dengan miliknya.


‘Kemana kalung itu? Kenapa aku baru menyadarinya? Apa kalung itu hilang saat Ara masih kecil? Atau Fino? Ya pasti Fino yang menyimpannya. Karena kalau sampai Ara memakainya pasti si tua brengaek itu akan tau. Akan aku tanyakan nanti pada Fino itu’ batin Alex.


Next👉🏻


Maaf kalo banyak typo ya🙏🏼


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥