My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 51



Keesokan harinya Ara terbangun lebih dulu saat merasakan hangatnya sinar mentari yang memasuki kamarnya dari celah gorden.


Ia menoleh saat merasa tangannya berada dalam genggaman seseorang. Ara tersenyum menatap siapa orang itu.


Ara mencoba bangkit tapi ternyata kepala malah terasa sakit membuatnya sedikit mengerang sakit. Tanpa ia sadari ia mengeratkan genggaman tangannya.


Riko pun terbangun dari tidurnya saat merasakan genggaman erat ditangannya.


Ia melihat Ara yang sudah berbaring miring dengan tangan kiri memegang kepalanya. Riko beringsut kepinggir kasur sambil mengusap kepala Ara.


“Apa masih sakit hm?” tanya Riko lembut.


“Sangat pusing” jawab Ara masih menggengam erat tangan Riko.


“Tidurlah lagi” ucap Riko mengusap kepala Ara lembut.


Bukannya tidur Riko malah dikagetkan oleh suara tangisan Ara. Ia menangkup kedua pipi Ara dengan khawatir.


“Apa sakit sekali? Kita kerumah sakit saja” putus Riko hendak menggendong Ara tapi di tolak.


“Hiks bu-bukan karna sakit kak hiks A-Ara hanya terharu hiks kak Riko mau rawat Ara sakit hiks dulu kalo Ara sakit pasti cuma sendiri hiks hiks waktu kecil juga hanya bibi yang jagain Ara hiks hiks” tangis Ara.


“Sudah jangan nangis nanti tambah pusing. Kakak janji akan slalu ada buat Ara” peluk Riko.


“Sudah ya jangan nangis. Sekarang kamu tidur lagi aja”


Riko melepas pelukannya mengusap sisa air mata Ara. Ia lalu mengusap kepala Ara lembut membuat sang empu memejamkan matanya.


“Istirahatlah” ucap Riko.


Setelah memastikan Ara tidur, Riko menarik selimut Ara. Ia lalu bangkit perlahan menuju dapur untuk membuatkan bubur Ara.


Ddrrtt dddrrttt


Baru saja Riko memasuki dapur ponselnya bergetar menandakan telpon masuk.


Riko melihat nama yang tertera dilayar ponselnya lalu menghela nafas. Ia seakan ragu untuk mengangkat telpon tersebut.


Pagi ini Lisha sudah dibuat kesal karna sambungan telpon yang belum di angkat dari tadi. Bumil satu itu kembali menghubungi seseorang hingga ia mendengar suara di seberang sana.


“Halo kak”


“Bisa tidak kamu angkatnya dari tadi. Kenapa baru angkat? Emang kamu kemana aja sih? Tidur udah kayak kebo aja kamu itu? Inget kamu tuh dah gede jangan molor aja, hati-hati jodoh kamu dipatok ayam” cerocos bumil makhlumlah.


“Gimana mau dipatok ayam kalo Ara aja lagi sakit” jawab orang diseberang sana yang tak lain adalah Riko.


“APA!!!” teriak Lisha mengejutkan seisi rumah.


Kebetulan ia sedang duduk di ruang keluarga saat ini. Di seberang sana Riko merutuki dirinya yang keceplosan.


“TERUS GIMANA KONDISI ARA SEKARANG? KENAPA KAMU ENGGAK BILANG SAMA KAKAK SI LAURENSIUS RIKO ZAFANO. KAMU INI YA BENER-BENER BIKIN KAKAK PAGI-PAGI GEMES AJA” teriak Lisha heboh.


Riko menjauhkan ponselnya, sejak hamil kakak sepupunya itu memang berbeda dalam artian sedikit bar-bar menurutnya. Mungkin faktor kehamilannya itu, pikirnya.


“Dari pada kakak teriak-teriak kayak gitu kasian anak kakak mending kakak langsung ke apartement Ara. Udah dulu ya kak Riko mau buatin bubur Ara. Bye kak”


“JA-“


Tuuuttt tuuuuuttt


“Ck dasar anak itu ya. MAS MAS FINOOO” teriak Lisha.


“Maaf nyonya, tuan Fino kan lagi lari pagi” ucap salah satu pembantunya.


“Oh iya aku lupa bi hehehe” kata Lisha sambil menggaruk kepalanya yang terasa gatal.


Tak berselang lama nampak sang suami yang baru pulang dari olahraga pagi. Lisha segera bangkit berlari memeluk sang suami.


Lisha memang tidak mau jauh-jauh dari Fino semenjak kehamilannya. Dan jangan lupakan sifat manjanya yang semakin menjadi-jadi. Makhlum lah ya namanya juga bumil.


Next👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥