My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Extra part 3



jam menunjukkan pukul lima sore, Riko baru saja pulang setelah seharian ia pergi menenangkan dirinya. Ponselnya saja sampai mati kehabisan daya. Ia memasuki pintu utama dengan lesu, mengingat kejadian tadi pagi sungguh membuatnya menyesal telah membentak istrinya itu. Dan meninggalkan Ara begitu saja, pasti istrinya sedang kecewa dengan sikapnya tadi.


“Akhirnya tuan pulang juga” ucap seorang pelayan saat melihat majikannya itu sudah kembali.


Riko mengernyit mendengar ucapan lega pelayan itu. Apa terjadi sesuatu? Pikirnya. Riko terdiam saat terlintas wajah sang istri. Ia melangkah cepat menuju kamar diikuti pelayan itu.


“Apa terjadi sesuatu? Bagaimana dengan istriku? Apa yang ia lakukan seharian ini?” tanya Riko pada pelayan yang berjalan di belakangnya.


“Seharian nyonya muda mengurung diri dikamar tuan”


Langkah Riko terhenti lalu berbalik menatap tajam pelayannya itu.


“Kenapa tidak menghubungi ku saja?!” bentak Riko yang lagi-lagi tak dapat menahan emosinya.


Pelayan itu mundur beberapa langkah dan menunduk takut saat tuannya yang selalu baik tiba-tiba berubah menyeramkan saat marah.


“Ma-maaf tu-tuan, kami sudah hubungi tuan berkali-kali tapi tidak aktif” ucap pelayan itu terbata membuat Riko meraup wajahnya kasar lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Di depan kamar terdapat bi Sri kepala pelayan dirumah ini yang sibuk mengetuk memanggil Ara untuk membujuk wanita itu keluar dan makan.


“Bi” sapa Riko dengan nada cemas melihat tiga nampan dengan lauk berbeda terongok begitu saja di meja samping pintu kamarnya, dan itu pun sudah dingin.


“Akhirnya tuan pulang juga, tuan kemana saja? Kami cemas dengan kondisi nyonya muda yang tidak keluar kamar seharian ini. Ponsel tuan juga tidak aktif” ucap bi Sri dengan tak kalah cemasnya.


“Maaf bi ponselku mati” jawab Riko beralih pada pintu kamarnya.


Tok tok tok


“Sayang ini aku, buka pintunya ya. Sayang” panggil Riko sambil mengetuk keras pintu kamarnya.


Berulang kali Riko mengetuk dan memanggil Ara, namun tidak ada sahutan dari dalam sana. Hening.


“Bi tolong ambilin kunci cadangannya diruang kerja aku ya” ucap Riko panik.


Bi Sri pun berlalu menuju ruang kerjanya untuk mengambil kunci cadangan pintu kamarnya.


“Sayang buka dong, jangan bikin aku makin cemas. Aku minta maaf sayang” ucap Riko masih terus mengetuk pintu kamarnya itu.


“Ini kuncinya tuan”


Tak lama bi Sri datang dengan kunci ditangannya dengan cepat Riko meraih kunci itu dan membuka pintu itu dengan tergesa.


Cklek...


Pintu kamar terbuka dan terlihat Ara yang tertidur membelakanginya, Riko merasa lega melihat punggung istrinya. Riko duduk di bibir ranjang mengusap bahu istrinya dari belakang, sampai ia merasa ada yang aneh melihat tubuh Ara yang sedikit menggigil.


Riko bangkit dan membalikkan tubuh Ara agar berbaring, dan benar daja wajah pucat Ara terlihat jelas diwajah sayunya. Riko juga bisa merasakan panas di kening Ara saat menyentuhnya.


“Sayang, bangun sayang” panik Riko menepuk lembut pipi Ara.


“Bibi tolong ambilin air dingin dan handuk ya buat kompres Ara” pinta Riko pada bi Sri yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


“Sayang hey bangun sayang, kenapa jadi kayak gini sih” gumam Riko mengusap lembut kening Ara.


Tak lama bi Sri datang dengan baskom berisi air dingin dan handuk kecil untuk mengompres nyonya muda nya ini.


“Makasih bi” ucap Riko meraih baskom lali mencelumkan handuk kedalamnya.


“Kalau begitu bibi pamit dulu ya tuan mau buatin bubur buat nyonya muda” pamit bi Sri diangguki oleh Riko.


Kini ia fokus mengompres kening Ara sambil sese kali mengusap pipi istrinya.


“Maaf, maaf, maafkan Rara” lirih Ara disela tidurnya.


“Sayang” Riko meraih tangan mungil istrinya itu dalam genggamannya.


“Maaf, maaf”


Terus seperti itu, Ara bergumam kata maaf sambil sesekali derai air mata mengalir begitu saja disela tidurnya.


“Tenanglah sayang” bisik Riko memeluk Ara saat tidurnya mulai gelisah dan terus bergumam maaf.


“Maafkan aku sayang, lekas lah sembuh” ucap Riko mengecup pipi Ara dari samping.


Riko mengamati wajah pucat istrinya sambil mengusap pipi chubby Ara. Sepertinya ia akan membiarkan Ara tidur sampai bubur buatan bi Sri jadi. Riko bangkit perlahan untuk membersihkan dirinya.


.


.


.


.


“Sayangg aku pulang”


“Sayang kuu, suami tampanmu pulang” teriak pria tampan memasuki rumah megahnya.


“Apaan sih hubby? Ini rumah bukan hutan” sungut wanita cantik dengan perut buncitnya yang sekarang berusia 5 bulan.


“Aduh aduh kamu jangan jalan-jalan dong sayang, nanti kamu sama anak kita kecapekan” panik pria itu menuntun istrinya yang sedang hamil anak pertama mereka.


Wanita hamil yang tak lain adalah Letha itu hanya mendengus kesal mendengar ucapan suaminya yang terkadang mulai bar-bar karena virusnya, kadang juga posesif dan masih banyak lagi sifat-sifat suaminya yang baru ia ketahui setelah menikah. Yang pasti suaminya ini tidak pernah main kasar atau istilahnya KDRT.


“Kalo gitu jangan teriak-teriak kalo pulang kerja, bikin aku pengen cepet nemuin biar gak berisik” ketus Letha membuat Alex menyengir mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


“Maaf” manja Alex memeluk istrinya dari samping agar tidak menekan anak mereka yang masih tumbuh diperut Letha.


Letha memutar bola mata malas yang langsung mendapat jitakan dari Alex di keningnya. Kini giliran Letha yang menyengir kuda, ia tau Alex sangat tidak suka saat dirinya memutar bola mata seperti tadi. Dan yang pasti ia akan langsung mendapat jitakan dari suaminya itu.


“Gak sopan” gumam Alex dibalas tawa oleh Letha.


“Hubby” rengek Letha tiba-tiba sedang kan Alex berusaha untuk menahan tawa melihat wajah lucu Letha.


Alex dapat menebak jika sudah seperti ini istri dan anaknya sedang menginginkan sesuatu. Sejak Letha hamil Alex menjadi suami siaga yang tidak akan lengah menjaga istrinya itu.


“Mau apa?” tanya Alex mengacak rambut Letha gemas.


“Tapi boleh ya?” tanya Letha memelas membuat Alex mengernyit heran. Tumben pikirnya.


“Iya kamu mau apa dulu sayang nanti pasti aku bolehin kok” ucap Alex menuntun istrinya diduk di sofa.


“Aku mau sesuatu, tapi janji ya dibolehin” Letha mengeluarkan jurus mautnya yaitu wajah melas menggemaskan.


“Oke oke, sekarang kamu mau apa pasti aku turutin deh”


Wajah Letha berbinar mendengarnya lamgsung memeluk erat suaminya, tak lupa kecupan singkat di pipi Alex.


“Jadi klien kamu yang dari luar kota masih disini kan hubby?” tanya Letha dengan wajah berbinar.


Alex mengangkat sebelah alisnya lalu mengangguk, spontan saja Letha bertepuk semangat. Alex menatap tajam saat merasa curiga dengan apa yang diinginkan istrinya itu.


“Jangan bilang ...” ucap Alex menggantung.


“Yups, hubby bener banget. Aku pengen lihat wajahnya klien sekaligus teman kuliah hubby yang kemarin itu lo. Baby suka lihat wajahnya, tampan dan manis” ucap Letha penuh semangat.


Seketika Alex menjatuhkan rahangnya, sungguh calon anak nya pintar dalam memilih. Baru juga di dalam kandungan udah minta yang tampan saja, dan apa tadi tampan? Manis? Oh ****! Bahkan lebih tampan dan manis dirinya.


.


.


.


.


Malem semua, aduduh gimana nih keadaan Ara ya? Next gak nih? Atau sampek sini aja? Yakin sampek sini aja? Gak mau lanjut?


Okay jangan lupa like komen dan vote ya, jangan lupa juga mampir di novel kedua aku “My December” ya makasih❣️