
Keesokan hari di kediaman Fino. Sepasang suami istri itu sudah siap dengan seragam mengajar mereka. Pagi ini Lisha sudah tidak merasakan mual dan pusing hanya saja ia semakin sensitif dengan bau apapun itu.
Pagi ini saja Fino harus memakai parfum yang sama dengan yang dipakai istrinya. Karna Lisha merasa nyaman saat memeluknya dengan parfum yang berbau sama.
Selesai sarapan mereka berangkat dengan Fino yang menyetir mobilnya. Fino fokus ke depan, sedangkan Lisha terus memasukkan roti selai kacang ke dalam mulutnya yang baru saja ia beli di indomart yang mereka liwati.
Fino menoleh kesamping tertawa kecil melihat istrinya yang asik dengan beberapa roti yang ia beli. Padahal seingatnya tadi istrinya sarapan dengan nasi goreng sosis sampai tambah dua kali.
Dan sekarang ia asik makan. Fino menggeleng melihat tungkah menggemaskan istrinya. Ia kembali fokus ke depan, sambil sesekali mengecup punggung tangan istrinya.
Ara baru saja memasuki ruang kelas dengan napas terengah. Sedikit lagi ia hampir saja terlambat. Entah kenapa ia tidak ingin melewatkan mata pelajaran pagi ini.
Baru saja ia duduk di kursi miliknya. Guru mapel jam pertama masuk dan mulai mengajar. Ara berusaha memperhatikan setiap penjelasan di depan.
Bu Vina tersenyum kecil melihat Ara yang mulai memperhatikan pelajaran yang ia ajarkan di depan.
Dan itu cukup membuat Ara menjadi pusat perhatian di kelasnya. Letha yang duduk di sampingnya tersenyum samar.
“Baik anak anak kalian lanjut buka halaman 156. Di sana ada beberapa soal yang harus kalian kerjakan. Nanti saat bel istirahat pertama berbunyi saya ingin buku tugas kalian sudah di atas meja saya” kata bu Vina.
“Baik bu” jawab mereka satu kelas.
“Kalo begitu saya tinggal kekantor dulu karna sebentar lagi akan ada rapat guru. Sekian dan selamat pagi” ucap bu Vina pamit.
“Pagi bu”
Bu Vina berlalu pergi meninggalkan kelas. Suasana kelas mulai gaduh dan ramai, tidak banyak murid yang mengerjakan tugas. Mereka memilih untuk bercengkrama dengan teman sebangku, ada yang memilih tidur, bernyanyi diiringi petikan gitar, dan ada yang kekantin.
Ara berjalan menyusuri koridor kelas, ia memilih ke kantin dahulu memesan baso dan jus jeruk kesukaannya.
Selesai dengan pesanannya ia meminjam nampan untuk ia bawa. Ia lalu berjalan menuju rooftop sekolah dengan nampan berisi baso, jus jeruk dan bukunya.
Ara memang memilih meninggalkan kelas yang sangat mengganggunya. Ia lebih suka suasana rooftop. Di sini ia merasa tenang ditambah semilir angin menyejukkan.
Rooftop ini sangat jarang dikunjungi mungkin mereka malas menaiki puluhan anak tangga dari lantai satu sampai lima.
Dari rooftop siapa pun bisa melihat luasnya sekolah mulai dari lapangan basket, lapangan volley, lapangan sepak bola, aula pertemuan, taman sekolah dan masih banyak gedung lagi.
Di rooftop juga sudah tersedia satu set meja kursi dan disinilah Ara saat ini. Menikmati baso dan jus jeruk dengan tangan lentiknya yang lihai menjawab beberapa soal biologi yang menurutnya mudah.
Ara memang tidak pandai dalam setiap mapel, tapi untuk bahasa asing seperti bahasa inggris, korea, jepang dan mandarin ia cukup memahami.
Itu pun ia pelajari secara otodidak atau lebih tepatnya ia sering menonton serial drama dan film dari ke empat negara tersebut.
Seharusnya ia masuk dalam kelas bahasa saja bukan? Tapi mau bagaimana lagi sekarang ia sudah berada di tingkat akhir.
Ehem
Ara terjingkat kaget saat suara deheman tepat di telinganya. Ia spontan menoleh kesamping dan kini wajahnya sangat dekat dengan seseorang itu yang tak lain pak Riko. Sesaat mata mereka saling terkunci menatap lurus.
Jeng jeng apa yang akan terjadi gaiss🔥🔥🔥
Tunggu kelanjutannya ya.