
Riko menghentikan motor sportnya di area parkir pasar malam. Ara masih belum membuka mata dan Riko merasakan getaran tubuh Ara yang memeluknya erat.
“Hei Ara turun sudah sampai. Ada apa denganmu?” Tanya Riko berusaha melepas pelukan tangan Ara lalu turun dari motor berdiri berbalik menatap Ara.
“Raa Ara” panggil Riko masih memegang tangan Ara yang gemetar.
Tak lama ia malah mendengar tangisan Ara yang semakin keras membuat ia jadi pusat perhatian diarea parkir. Dan itu membuatnya merasa tidak enak.
“Hey kenapa nangis tenanglah” ucap Riko menepuk bahu Ara pelan.
“Hiks... Hiks... Huaaa mamaaaa” tangis Ara.
Riko sempat tertawa kecil melihat tingkah Ara yang ternyata masih tersimpan sampai saat ini.
“Hey hey sudahlah jangan menangis kamu tidak malu apa kita dilihat banyak orang” kata Riko memeluk Ara yang masih duduk di atas motornya.
“Hiks... Hiks...”
Riko terus memeluk dan mengelus punggung Ara agar ia sedikit tenang. Dan seperti yang ia harapkan Ara mulai tenang walau masih sesenggukan.
Riko melepas pelukannya lalu mengusap rambut Ara yang sedikit berantakan.
“Udah jangan nangis lagi” kata Riko mengusap sisa air mata Ara dipipinya.
“Ayo turun” sambung Riko membantu Ara turun dari motor Riko.
Ara berdiri dengan kaki yang gemeteran dan itu terlihat sangat jelas. Jika saja Riko melepas pegangan tangannya sudah dapat dipastikan Ara akan jatuh saking lemasnya.
“Hiks... Hiks... Ka... kakinya ma... masih ge... gemeteran” rengek Ara sambil menatap kakinya yang masih terasa lemas.
Ara terlihat menggemaskan saat sedang merengek seperti saat ini. Tapi Riko juga merasa kasian.
“Kamu kenapa bisa gemetaran kayak gini sih ra?” tanya Riko heran.
“Pak Riko nyetirnya kenceng Ara ta... takut hiks hiks” tangis Ara lagi.
Riko yang mendengar ucapan Ara merasa bersalah karna kelakuannya tadi. Ia memang mengendari motor dengan kecepatan kencang, karna ia merasa senang saat Ara memeluknya. Tapi bagi Ara itu tadi adalah hal baru yang menegangkan.
“Maaf” kata Riko menarik Ara kedalam pelukannya.
“Sudah jangan nangis lagi” kata Riko masih memeluk erat Ara.
Riko melepas pelukannya dan menuntun Ara untuk duduk di kursi parkir.
“Kamu tunggu sini” kata Riko berlalu pergi.
Tak lama kemudian ia kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Ia menyodorkan pada Ara yang langsung di minum. Ia mengusap surai hutam Ara dengan lembut. Ia merasa bersalah membuat Ara jadi seperti ini.
“Maaf ya ra” ucap Riko.
Ara menutup minumnya lalu melirik Riko tajam, terlihat ia sangat kesal atas kelakuan Riko.
“Aku mau pulang” kata Ara ketus.
“Dih mulai lagi” sindir Riko.
“Udah ah ayo masuk” sambung Riko menarik Ara masuk kedalam area pasar malam.
Ara yang kesal hanya mengikuti kemana pun langkah Riko berjalan. Ia menatap kagum pasar malam berhias lampu indah bergantungan.
Mereka berdua seakan lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Terlihat dari asiknya mereka bermain di pasar malam. Sesekali Ara tertawa dan tersenyum pada Riko.
Ia tak sedingin dan secuek pada biasanya. Malan ini ia merasa terhibur saat Riko membawanya kemari. Ia merasakan kebahagiaan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
.
.
.
.
Jangan lupa vote, like and komen ya gais😊🔥