
“Ara juga adikku dan asal kau tau tidak akan ada seorang kakak yang berniat mencelakakan adik kandungnya sendiri” ucap Alex tajam.
“Apa maksud kak Alex?” lirih Ara yang ternyata sudah sadar.
Alex pun tertegun mendengar suara Ara begitu juga dengan Fino dan Lisha. Mereka menoleh ke arah Ara bersamaan dan benar saja Ara baru saja sadar dari pengaruh obat tidurnya.
‘Kenapa kamu sadar saat seperti ini Ra’ gumam Alex masih dengan rasa kagetnya.
“Ara kamu sudah bangun. Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit? Apa perlu kakak panggilkan dokter dulu?” ucap Lisha mengusap puncak kepala Ara penuh kekhawatiran.
“Kak Lisha tenang aja. Ara nggak kenapa-napa kog. Gak ada yang sakit juga. Jadi kakak tenang aja ya” jawab Ara menenangkan bumil satu itu.
“Kamu jangan bikin kakak khawatir dong Ra” ucap Lisha mengecup kening Ara sayang.
Ara mengangguk tersenyum, Ara pun mengalihkan pandangannya pada Alex, sampai akhirnya ia menyadari wajah lebam dan sudut bibir Alex yang berdarah.
“Kak Alex” panggil Ara.
Alex masih diam tanpa suara mendekati Ara dengan senyum terbaiknya. Ara mengusap sudut bibir Alex lembut membuat Alex sedikit meringis.
“Kak Alex kenapa bisa begini? Sakit ya kak?” tanya Ara sedih.
“Enggak apa-apa kog Ra” ucap Alex mengusap tangan Ara.
“Terus maksud ucapan kak Alex tadi bilang kayak tadi apa?” tanya Ara menatap Alex lekat.
‘Tidak! Ara tidak boleh tau sekarang! Tidak! Aku tidak mau kehilangan adikku Ara. Ya tuhan bagaimana ini?!’ batin Fino gelisah.
Alex dapat melihat kegelisahan Fino saat ini. Ia juga bingung harus berkata apa. Jika ia jujur saat ini akan membuat jiwa Ara terguncang dan sudah pasti akan mengganggu konsentrasi ujiannya yang sudah semakin dekat.
‘Haruskah aku jujur saja? Ara sungguh kakak ingin bilang bahwa akulah kakak kandungmu keluargamu yang sesungguhnya’ batin Alex mengusap tangan Ara lembut.
Lisha sendiri di buat bingung dengan dua lelaki di hadapannya ini. Ia menatap sang suami meminta jawaban dari semua ini tapi yang ia dapat Fino malah mengalihkan pandangannya begitu saja.
“Tadi kakak kamu salah paham kalau aku mau nyakitin kamu Ra dan bikin kamu kayak gini. Dan soal ucapan aku yang tadi itu maksudnya, aku gak mungkin dong nyakitin kamu yang udah aku anggap kayak adik kandung aku sendiri. Kamu tau itu kan Ra” ucap Alex menyakinkan Ara
Dan ucapan Alex pula yang membuat Fino sedikit merasa Lega.
“Ohh gitu” gumam Ara.
‘Tapi entah kenapa aku merasa kalau kak Alex sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari ku. Mungkinaku bisa mencari tau nya nanti’ batin Ara menatap Alex lekat.
“Maafin kak Fino ya kak Alex kalo gitu. Karena kak Fino udah bikin wajah kak Alex kek gini” sambung Ara pada Alex.
“Iya gak apa-apa” kata Alex tersenyum.
“Sorry soal tadi” sahut Fino di angguki Alex.
Ara tersenyum menatap kedua pria di depannya. Ia merasa bersyukur karena masih banyak orang yang menyayanginya.
“Yaudah kalo gitu kak Alex pamit dulu ya Ra. Besok kakak akan kesini lagi. Cepat sembuh ya. Kakak pamit, selamat malam” pamit Alex mengusap puncak kepala Ara lembut.
“Kak Alex hati-hati ya” kata Ara.
Alex menganggukan kepala lalu pamit pergi meninggalkan ruang rawat Ara. Disusul Fino yang bilang mau ke kantin untuk membelikan makanan dan cemilan untuk istrinya.
Tinggallah Ara dan Lisha di dalam sedang berbincang.
Fino berjalan menyusul langkah Alex yang sudah menjauh dari ruang rawat Ara. Alex yang merasa di ikuti pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Fino yang kini berdiri tepat di depannya.
“Kau bisa merasa sedikit lega saat ini, tapi tidak dengan nanti. Akan ku pastikan si tua bangka mu itu akan mendekam di penjara selamanya. Camkan itu” geram Alex mengepalkan kedua tangannya.
“Jauhi Ara, lupakan Ara. Dia hanya adikku. Apapun yang terjadi Ara hanya adikku terlepas dari dirimu keluarga kandungnya. Ara sudah tumbuh di dalam keluarga Alardo. Jadi jauhi dia, karna dia hanya akan menjadi putri dari keluarga Alardo” ucap Fino menekan disetiap kata.
Alex berbalik menyeringai menatap Fino tak kalah tajam. Alex maju mencengkram kerah baju Fino.
“Tidak sadarkah kau si tua bangka itu bahkan tidak mengakui Ara sebagai putrinya. Jangan terlalu berharap lebih. Nikmati saja waktumu bersama Ara karena kebaikanku ini” geram Alex melepas cengkramannya.
Alex membenarkan bajunya lalu pergi dengan wajah penuh amarah. Tidak beda jauh dengan Fino yang juga menahan emosinya. Ia ingin marah tapi pada siapa? Ia sangat takut jika nantinya Ara akan menjauhinya. Karena semua ini terjadi pun karna keluarganya.
...****...
“Mas Fino kog lama ya Ra?” tanya Lisha mengambil ponselnya menghubungi sang suami.
Sedangkan Ara terkikik geli melihat tingkah kakak iparnya yang semenjak hamil tidak bisa jauh dari suaminya lebih dari 10 menit. Apa lagi Fino tidak mengabarinya, sudah di pastikan Lisha akan menghubungi Fino seperti saat ini.
“Ih kog gak diangkat sih Ra” rengek bumil pada Ara.
“Sabar kalik kak, paling kak Fino lagi antri di kantin. Bentar lagi juga dateng kog” ucap Ara mengusap lengan Lisha.
Ceklek
Dan benar saja tak lama kemudian pintu ruang inap Ara terbuka bersama dengan masuknya dua pria, yaitu Fino dan Riko.
Ya tadi saat Fino berjalan ke kantin ia mengabari Riko bahwa Ara masuk rumah sakit karna tak sengaja makan udang. Dan saat akan masuk lift mereka berdua berpapasan.
“Riko” “Kak Riko” sapa Lisha dan Ara bersamaan.
Riko berjalan mendekati ranjang Ara, mengusap kening Ara lembut.
“Kenapa bisa makan udang sih Ra? Kan kamu alergi udang” tanya Riko dengan raut khawatir.
“Namanya juga enggak sengaja. Udah deh lagian Ara juga gak apa-apa kan. Jadi kalian jangan khawatir” rengek Ara terlalu malas di tanyai hal yang sama.
‘Kalo tau itu dimsum ketuker mana mau makan. Huh, padahal enak banget’ keluh Ara.
“Gimana enggak khawatir kamu masuk rumah sakit Ara” gemas Lisha.
“Sudah-sudah kalian jangan bertengkar okay. Sayang kamu makan dulu gih dari tadi belum makan kamu juga Rik” ucap Fino menyuruh Lisha dan Riko yang memang belum makan.
Lisha dan Riko pun mengalah dan mengikuti perintah Fino yang menyuruh mereka makan. Fino sendiri memilih duduk di samping Ara berbaring.
“Sudah enakan Ra? Kamu juga mau makan Ra? Biar kakak suapin, lagian ini buburnya juga belum kamu makan. Kakak suapin ya” tawar Fino dibalas anggukan Ara.
Fino pun membenarkan posisi Ara agar mudah menikmati makannya. Fino dengan telaten menyuapi Ara bubur.
“Kak” lirih Ara.
“Hmm” gumam Fino fokus menyendoki bubur.
“Maafin sifat dan tingkah Ara kemarin-kemarin ya kak” ucap Ara dengan mata berlinang.
“Sudah kakak maafin sebelum kamu minta maaf. Karena kamu adik kesayangan kakak” ucap Fino tersenyum.
Ara tersenyum memeluk Fino, Lisha dan Riko pun turut senang melihat mereka berdua berbaikan.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥