
\~Flashback\~
Seorang pria tampan nan gagah yang tidak lain adalah Haydar Mahesa berlari ke arah kamar dengan pistol di tangannya, saat mendengar keributan di halaman mansionnya. Ia harus segera memastikan keluarganya selamat dari penyerangan ini.
“Pah apa yang terjadi pah” tanya wanita cantik sambil menggendong bayi mungil dan menggenggam tangan erat putra sulungnya saat melihat sang suami masuk ke dalam kamar.
“Mah apapun yang terjadi kamu harus pergi dari sini, bawa kedua anak kita sejauh mungkin. Aku percaya padamu, selamatkan buah hati kita” ucap Haydar pada Elina istrinya.
“Maksud kamu apa pah? Kenapa kita tidak pergi bersama pah?” tangis Elina.
Alex kecil hanya diam menangis menatap kedua orang tuanya, tapi ia cukup tau kalau saat ini keluarganya dalam kondisi bahaya.
“Aku harus membantu yang lain untuk memukul mundur musuh atau mungkin menangkap pelakunya sayang. Jadi aku mohon cepat lah kamu pergi dari sini lewat pintu rahasia dibalik lemari ini. Ikuti lorong itu nanti kamu akan sampai di belakang mansion ini. Lari lah sejauh mungkin, aku sudah menghubungi polisi. Tapi mereka akan lama sampai disini dan aku takut kalian akan terluka” jelas Haydar mengusap lengan Elina dan mengecup kening istrinya yang terus menangis.
“Mas hiks” tangis Elina merasa berat meninggalkan suaminya sendiri.
“Percayalah aku akan segera menemuimu. Jaga Alex dan Ara, aku percaya padamu sayang” sambung Haydar memeluk sang istri dengan derai air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
“Papah Alex takut” lirih Alex dalam tangisnya.
Haydar beralih pada putra sulungnya, memberikan pelukan hangat pada putranya.
“Alex jangan nangis. Laki-laki enggak boleh cengeng, ingat pesan papah kamu harus jaga mamah dan Ara adik kamu. Mengerti?” ucap Haydar menatap putra sulungnya, Alex.
“Alex akan jaga mamah sama Ara pah” jawab Alex sambil menghapus air matanya.
“Good boy” ucap Haydar mengusap kepala Alex.
Elina hanya bisa menangis melihat percakapan suami dan anak sulungnya. Beberapa kali ia mengecup pipi bayi mungil yang tertidur pulas dalam dekapannya tanpa merasa terganggu sedikit pun.
BRAAAKKK
Terdengar pintu utama mansion didobrak dari luar membuat Haydar semakin panik.
“Sayang cepatlah bawa anak-anak pergi” perintak Haydar sambil menggeser lemari dan membuka jalan untuk istri dan anaknya.
Haydar mengecup kening Elina, Alex dan terakhir putri nya yang baru lahir 1 bulan lalu.
“Tumbuhlah dengan baik putri kecilku, malaikat kecil papah, mamah dan kak Alex” ucap Haydar mengecul kedua pipi gembul putrinya.
“Aku mencintai kalian” sambung Haydar lalu menutup pintu itu rapat dan menggeser lemari keposisi semula.
Elina menangis mendekap kedua anaknya lalu berjalan dengan menggenggam erat tangan Alex agar tidak tertinggal dengannya.
‘Tuhan lindungilah suamiku dan selamatkan dia. Amin’ doa Elina dalam hati.
Sedangkan Haydar sendiri berlari keluar kamar. Suara pistol terdengar jelas saling beradu menentukan siapa yang akan mati lebih dulu. Haydar terus menyerang musuh yang sudah berhasil masuk kedalam mansionnya.
Haydar tidak sendiri, ia dibantu asisten dan sekertaris pribadinya yang kebetulan malam ini mereka membahas proyek yang sedang dibangun. Tapi siapa sangka mereka harus menghadapi penyerangan yang tiba-tiba.
Elina sampai di depan pintu keluar yang cukup jauh dibelakang mansion suaminya. Ia berdiam diri di depan pintu itu, entah apa yang ia pikirkan. Elina menatap lorong dibelakangnya berharap Haydar datang menjemputnya dan mengatakan situasi disana aman.
Tapi nyatanya itu semua hanya sekedar harapan seorang istri yang takut kehilangan suami tercintanya.
“Mah” panggil Alex.
“Iya sayang. Ada apa? Alex capek?” Apa ada yang sakit?” ucap Elina cemas.
“Alex nggak papa mah. Alex gak boleh sakit karna Alex udah janji sama papah buat jagain mamah sama adek Ara. Sekarang kita lari dari sini yuk mah, kita harus selamat biar papah bisa datang jemput kita mah” ajak Alex memegang erat tangan sang ibu.
Elina menangis menatap putra kecilnya yang harus berpikir dewasa sebelum waktunya. Elina mengangguk membawa kedua anaknya keluar.
Di mansion Haydar mendapat luka tembak di lengan kirinya, sekertarisnya tewas tertembak sedangkan asistennya masih setia menjadi tameng untuknya.
“Tenanglah tuan bantuan akan segera datang dan anda akan selamat” ucap asisten Haydar.
“Kita akan selamat bukan hanya aku” sahut Haydar.
Anak buah Haydar sendiri sudah banyak yang tewas, dan hanya tersisa 20 orang.
Elina terus berjalan sambil sesekali menatap kebelakang memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka. Hingga sampailah mereka di taman yang berada jauh dari mansionnya.
“Adek Ara lapar mah?” tanya Alex.
“Iya sayang, kita duduk dulu sebentar ya. Biar mamah kasih asi dulu ya” ucap Elina dengan isak tangis yang kembali keluar.
Alex berdiri didepan sang mamah yang sedang menyusui adiknya. Elina tersenyum dalam tangisnya saat tangan mungil Alex mengusap pipinya.
Setelah merasa tenang baby Ara kembali tidur dan Alex tersenyum melihat adiknya tidak rewel. Elina merasa gelisah dan cemas mengingat suaminya.
Entah apa yang Elina pikirkan, ia menyuruh Alex untuk tetap duduk. Elina bangkit mendekati wanita seusianya yang sedang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sesaat Elina menatap baby Ara yang tertidur pulas dalam dekapannya.
‘Maafkan mamah sayang, mamah hanya bisa membawa kak Alex kembali. Mamah janji akan menjemputmu nanti bersama papah dan kak Alex. Maafkan mamah ya sayang’ gumam Elina mengecup wajah baby Ara dengan derai air mata.
“Nyo-nyonya tolong aku, ku mohon kau jaga putriku namanya Ara. Ku mohon bantu aku nyonya. Aku akan datang menjemputnya nanti, tolong jaga dia aku tau anda baik hati” ucap Elina berlinang air mata.
Fiona wanita yang dimintai tolong Elina ikut menangis menatap bayi mungil yang berada dalam dekapan ibunya. Fino hanya diam menatap pembicaraan sang mama dan wanita di depannya.
“Apa ada yang jahat padamu? Kamu tenanglah aku akan membantumu” ucap Fiona merasa kasian melihat Elina dan putrinya.
“Ku mohon jaga Ara kecilku. Aku harus kembali menolong suamiku” ucap Elina memberikan Ara pada Fiona tidak lupa ia meninggalkan kalung liontin untuk Ara.
Fiona menatap baby mungil dalam dekapannya. Tidak tau apa yang bisa ia lakukan selain menolong wanita yang baru ia temui. Melihat wajah baby Ara, entah mengapa hatinya bergerak untuk menjaganya.
Elina lalu berbalik berlari menuju belakang mansion, ia bahkan melupakan Alex yang sedari tadi menatapnya dari jauh. Alex yang melihat mamahnya berlari pun ikut berlari mengejarnya.
Di kediaman Mahesa
Haydar terkapar lemas dengan luka lebam dan tembak pada tubuhnya di dalam kamar Haydar. Asisten Haydar sendiri sudah tewas tertembak saat melindunginya.
“Cepat katakan dimana istri dan anakmu. Aku ku bunuh mereka terlebih dahulu sebelum aku membunuhmu hahaha” tawa pria di depan Haydar yang tak lain Felix Alardo.
“Ke-kenapa kau lakukan ini pada keluarga ku, brengsek!” umpat Haydar pada Felix.
”Karna kau menolak kerjasama dengan perusahaanku dan perusahaanmu berkembang pesat melebihi perusahaanku!!!” teriak Felix murka.
Tiba-tiba anak buah Felix datang memberi tahu bahwa polisi dalam perjalanan menuju mansion Mahesa.
“Sialan!” geram Felix.
“Aku bahkan belum bermain, kenapa polisi sialam itu sudah datang saja!!!” Kesal Felix lalu menatap tajam Haydar.
“Baiklah tidak masalah yang penting aku dapat peran utamanya” tawa Felix mengarahkan pistol pada Haydar.
Haydar diam menatap pistol yang mengarah padanya. Ia sudah pasrah saat ini.
‘Sayang jaga anak kita, maaf jika aku harus meninggalkanmu untuk selamanya. Aku mencintai kalian keluarga kecilku’ gumam Haydar menutup kedua matanya.
Dor
Dor
Dor
Tiga peluru melesat, namun Haydar merasakan pelukan hangat bukan rasa sakit yang seharusnya ia rasakan. Haydar membuka mata dan betapa terkejutnya ia menatap Elina yang tersenyum memeluknya erat, sebelum akhirnya menutup mata rapat.
Felix tersenyum lalu pergi begitu saja bersama anak buahnya meninggalkan Haydar yang menangisi sang istri yang tewas seketika. Alex terdiam menatap sang mamah yang tertembak saat melindungi sang papah.
“Mamah” lirih Alex.
Sejak kejadian itu pula, Haydar belum juga menemukan putrinya membuat kondisi tubuhnya melemah. Dan lagi-lagi Alex harus berduka saat sang papah meninggal setelah 4 tahun kepergian mamahnya. Saat itu Alex tinggal dan dididik bersama sang paman, sampai ia sukses dan bisa berdiri sendiri sampai ia dewasa.
\~Flashback end\~
Next👉🏻
Jangan lupa like,komen dan vote🤗🔥🔥🔥🔥