My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 78



Di sekolah Ara baru saja keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kantin menyusul Letha.


Di sepanjang koridor Ara mendapatkan tatapan sinis, iri, benci dan masih banyak tatapan tak enak menuju pada Ara. Ara yang merasa di tatap hanya santai dan cuek saja.


“Bagaimana bisa dia masuk sepuluh besar?”


“Eh tapi kamu tau kan dia itu deket banget sama pak Riko. Pasti dia minta bantuan tuh sama pak Riko”


“Beberapa kali juga aku lihat mereka lagi jalan bareng”


“Wahh wah ternyata dia licik ya”


“Dia pasti ngasih tip tuh ke pak Riko biar dapat bocoran soal”


“Cantik sih tapi sayang dia licik”


“Pak Riko juga mau aja sih sama cewek kek gitu”


“Dia pasti pakek cara murahan biar bisa masuk sepuluh besar”


Dan masih banyak lagi hinaan dan cibiran yang mereka layangkan pada Ara. Ara mengepalkan tangannya mencoba menahan amarahnya.


‘Dasar generasi tidak berguna bisa cuma mencibir saja. Huh sabar Ra sabar. Anggap aja kamu gak denger, mendingan kamu cepet nyusulin Letha di kantin dan menikmati semangkuk baso pedas’ gumam Ara mempercepat langkahnya.


Hingga sampai di persimpangan koridor tangan Ara ditarik masuk ke dalam kelas kosong yang dijadikan gudang.


Ara menghempaskan tangannya agar terlepas dari genggaman gadis seangkatannya yang menariknya tadi. Ara menatap ketiga orang dihadapannya dengan tajam.


Seingatnya ia tidak pernah mencari masalah dengan mereka bertiga dan yang Ara tau mereka termasuk fans Riko di sekolah.


‘Ck sepertinya gara-gara gosip gak jelas itu yang bikin mereka nekat seperti ini. Astaga kak Riko kenapa sih kamu punya fans kayak gini ck’ gumam Ara kesal.


“Ck ada urusan apa kalian dengan ku?” tanya Ara.


Prok prok prok


Bukannya menjawab pertanyaan Ara, salah satu dari mereka yang di yakini Ara sebagai ketuanya malah bertepuk tangan dengan seringai di wajahnya.


‘Ck lihat lah sangat menyebalkan’ batin Ara.


“Wahh wahh lihat lah girl bukankah dia sekarang berubah menjadi siswi teladan dan pintar” ucap gadis bernama Siska itu.


“Pintar menarik hati pria agar dia bisa masuk sepuluh besar, cara yang licik” sahut gadis bernama Rida.


“To the poin aja gak isah basa basi” ketus Ara mulai kesal.


“Ada hubungan apa kamu sama pak Riko?” tanya Siska dengan angkuh.


“Hubungan? Ck ternyata selain mengganggu waktu orang kalian juga kepo sama hubungan orang juga ya. Lagian apa urusannya sama kalian” cibir Ara tak kalah angkuhnya dengan Siska.


Siska dan kedua temannya merasa kesal dengan ucapan Ara.


“Wah wah wahh ternyata di balik sikap dingin dan cuek mu selama ini hanya untuk menutupi sikap murahanmu saja. Mungkin gosip yang beredar ada benarnya juga, kalau...” ucap Sisil menggantung membuat Ara menatapnya jengah.


“Kalau apa Sil?” tanya Siska dengan wajah sok polosnya.


“Kalau kamu rela naik ke atas ranjang pak Riko demi nilai” sahut Rida.


“Ya ampun Rida kenapa kamu to the point banget sih” ucap Sisil tersenyum.


“Rida sayang kamu gak boleh gitu, kasian nanti dia malu hahaha” tawa Siska dan kedua temannya


Ara mengepalkan kedua tangannya, sepertinya hari ini kesabarannya sedang diuji oleh para setan yang terkutuk ini, pikirnya.


“Eh eh girl kayaknya ada yang mau marah deh” ucap Sisil menatap hina Ara.


“Hahahaha” tawa mereka merasa puas menghina dan menuduh Ara.


PLAAAKK


Wajah Siska terlempar kesamping karena tamparan Ara yang begitu kuat. Ara sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya, kesabarannya sudah habis sampai akhirnya ia menampar Siska keras.


“Jaga mulutmu. Apa kalian enggak ada kaca dirumah? Oh astaga dunia ini sungguh kejam ya” ucap Ara dengan santai.


“Kalian menyebarkan gosip murahan seperti itu. Lalu siapa yang setiap malam menikmati belaian om-om kaya hmm?” tanya Ara masih dengan santai.


Tapi berbeda dengan mereka bertiga, terlihat dari raut wajah mereka yang menegang mendengar ucapan Ara.


“Aku bahkan sering melihat kalian keluar masuk club dengan om-om tajir. Dan bagaimana kalau semua orang tau itu? Waahhh pasti akan menjadi tontonan yang menyenangkan. Bagaimana?” ucap Ara santai namun terlihat aura membunuhnya membuat mereka bertiga tidak bisa berkutik.


Ara tersenyum menatap diamnya Siska dan kedua temannya. Ara melangkah mendekati Siska perlahan.


“Jadi jangan ganggu aku atau rahasia kalian terbongkar, bitch” gertak Ara penuh penekanan di setiap katanya.


“Hah kalian membuang-buang waktuku saja” gerutu Ara sambil berbalik berjalan ke arah pintu.


Siska yang merasa terancam dan marah pun tanpa pikir panjang mengambil vas bunga yang berada di atas meja dan melemparnya ke arah Ara.


Vas bunga itu mendarat tepat di kepala bagian belakang Ara. Bersamaan dengan jatuhnya vas bunga ke lantai dengan suara nyaringnya, tubuh Ara pun juga jatuh terkulai lemas dengan darah yang mulai mengalir di kepala Ara.


PYAAARRR


BRUUUKKK


Disaat yang bersamaan Riko yang mencari Ara sedari tadi melewati koridor yang tadi di lewati Ara. Sampai ia mendengar suara pecahan kaca dari ruang kelas kosong yang sekarang di jadikan gudang di persimpangan koridor ini.


PYAAARRR


‘Suara apa itu? Sepertinya berasal dari kelas kosong yang di jadikan gudang. Apa jangan-jangan Ara?’ gumam Riko lali berlari ke arah kelas kosong itu.


Riko segera membuka pintu kelas itu dan ternyata pintu terkunci dari dalam.


“Sial kenapa di kunci?” kesal Riko.


Tanpa berpikir lama Riko mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Setelah dobrakan ketiga pintu pun terbuka dan betapa terkejutnya Riko melihat Ara terkulai lemas dengan darah yang mengalir di kepala bagian belakang dan pecahan vas bunga di sekitarny.


Kilatan tajam semakin terpancar saat menatap ketiga siswinya yang masih berdiri tak jauh dari Ara yang pingsan.


“APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN PADA ARA HAH!!!” teriak Riko menggema menarik perhatian para siswa yang berada di koridor sekolah.


“APA KALIAN SUDAH TIDAK WARAS SAMPAI MENCELAKAI TEMAN KALIAN SENDIRI HAH!!!” teriak Riko kembali.


Banyak siswa berdatangan mendengar teriakan Riko yang begitu keras. Tak beda jauh dengan Riko yang terkejut melihat Arra bersimbah darah di kepalanya.


“Pak Riko sebaiknya kita segera membawa Ara ke rumah sakit” ucap salah satu siswa yang tidak lain ketua osis.


Riko pun tersadar dari amarahnya, lalu Riko mengangkat tubuh lemah Ara dalam dekapannya.


“Ilham segera kamu hubungi pak Fino dan bu Lisha sekarang suruh mereka menyusul ke rumah sakit. Dan kamu bawa mereka menghadap kepala sekolah” perintah Riko tegas pada ketua osis yang bernama Ilham itu.


“Baik pak” jawab Ilham.


Riko segera berlari membawa Ara ke rumah sakit. Sedangkan ketiga siswi itu di bawa Ilham menghadap kepala sekolah.


“Sudah bubar-bubar” ucap Ilham membuyarkan kerumunan.


Next👉🏻


Jangan lupa like, ken dan vote 🔥🔥🔥🔥