My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 126



“Makan yang banyak ya dek biar cepet sembuh” ucap Alex sambil menyuapi Ara dengan bubur buatan bi Surti.


“Udah ya kak” rengek Ara yang memang tidak ada selera untuk makan makanan seperti bubur.


Alex menghela nafas mendengar rengekan adiknya yang satu ini. Padahal Ara baru saja makan lima sendok dan sekarang kembali menolaknya.


“Rara mau makan kue?” tawar Riko di samping kulkas dengan box kue.


Pagi ini memang hanya ada Alex, Riko dan Letha yang menjaga Ara. Lisha dan Arumi sudah diantar pulang, mereka akan kembali nanti siang, sekalian membawa makan siang katanya. Untuk sarapan pagi ini bi Surti sudah bawakan, bersama bubur untuk Ara. Sedangkan Fino dan Tony sedang mengurus gugatan untuk Felix. Fino memang meminta pada Alex sendiri untuk membiarkan dirinya yang mengurus gugatan pada papanya itu. Walau berat tapi Fino akan melakukannya. Kekacauan ini pun memang berawal dari rasa iri papanya, Felix.


“Mau” ucap Ara semangat.


“Baiklah akan ku potong dulu” ucap Riko tersenyum lalu mengambil piring untuk menaruh kue yang sudah ia potong.


“Tapi kamu juga harus makan nasi juga dek” sahut Alex gemas sendiri.


Alex merasa kalah saat Riko menawarkan kue untuk Ara. Bisa di katakan mereka berdua sedang berebut mencari perhatian Ara. Ara pun sebenarnya tau akan hal itu. Dua pria yang tak lain kakak dan kekasihnya itu memang slalu berulah seperti itu, tidak mau ada yang kalah.


Letha yang duduk di sofa dengan piring berisi sarapannya hanya menggelengkan kepala melihat wajah kekasihnya yang suram karena merasa kalah dari Riko.


“Itu bukan nasi kak, itu namanya bubur. Ara gak suka bubur rasanya aneh” jelas Ara pada Alex.


“Ini sayang kue nya udah aku potong seperti dadu, mau aku suapin?” tawar Riko yang sudah berdiri di seberang Alex lebih tepatnya di sebelah kiri Ara.


“Sini biar aku saja” sahut Alex berusaha merebut piring berisi kue.


“No no no aku yang akan menyuapi Rara” sungut Riko menjauhkan piring yang ia bawa dari Alex.


Ara yang melihat acara rebutan Alex dan Riko pun mulai merasa jengah, Ara menatap Letha yang baru saja kembali dari pantri mini yang berada di sudut ruang ini.


Letha pun berjalan dan merebut piring berisi kue dari Riko, membuat kedua pria itu spontan memanggilnya.


“Sayang” “Letha” sungut Alex dan Riko bersamaan.


“Apa! Mau marah? Sana duduk di sofa gak usah banyak tingkah! Kayak anak kecil aja. Ara tuh udah laper tau kalian malah asik rebutan. Duduk!” perintah Letha dengan aura tegasnya membuat dua pria itu pun beranjak menuju sofa.


Ara menahan tawa saat melihat wajah masam kakak dan kekasihnya yang duduk di sofa memuruti ucapan sahabatnya yang satu itu, Letha.


“Nurut juga akhirnya” gumam Letha lalu duduk di tempat yang tadi di duduki Alex.


“Lucu banget, kamu dah pantes jadi mama tiri mereka Tha” ucap Ara menahan tawa.


Letha melotot mendengar ucapan Ara. Letha mendengus kesal lalu memberikan piring berisi kue.


“Suapin dong kakak ipar, Ara kan masih sakit” manja Ara membuat pipi Letha merona.


“Apaan sih Ra” ucap Letha malu-malu meong.


Jadilah Letha yang menyuapi Ara sambil sesekali bercerita dan bercanda. Ara merasa lega dan bahagia saat ia masih di beri kesempatan berkumpul kembali dengan keluarga dan sahabatnya. Ara kira kemarin adalah hari terakhir dimana ia membuka mata.


Kini yang ia pikirkan adalah papa angkatnya, Felix. Bagaimana kondisinya? Apa papa sudah makan? Lalu hukuman apa yang akan di terimanya? Sungguh hati Ara terlalu baik untuk orang seperti Felix.


“Nglamunin apa sih Ra, ayo buka mulutnya dihabisin” ucap Letha menyadarkan Ara dari lamunannya.


“Kue nya enak” komentar Ara tersenyum.


Tak lama dokter Heru datang ditemani seorang perawat.


“Selamat pagi” sapa dokter Heru.


“Pagi dok” jawab Letha dan Ara bersamaan.


Jangan lupakan dua pria yang kini sudah berdiri di samping Letha. Dokter Heru mulai memeriksa kondisi Ara yang sudah membaik pagi ini.


“Terus kapan boleh pulangnya?” tanya Ara menatap dokter Heru penuh harap.


Dokter Heru yang di tatap hanya tersenyum lalu berkata.


“Nunggu luka nya mengering dan benar-benar pulih ya, mungkin lima sampai seminggu lagi” jawab dokter Heru masih dengan senyum ramahnya.


Ara menghela nafas kesal mendengar jawaban dokter Heru yang tidak sesuai dengan keinginannya. Alex dan Riko tersenyum mendengar jawaban dari dokter Heru. Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan Alex dan Riko yang menyuruh dokter Heru untuk menahan kepulangan Ara sampai gadis kecil mereka benar-benar sembuh.


“Lama” cicit Ara.


“Baik kalo begitu saya pamit dulu, lekas sembuh nona Ara. Jangan lupa makan dan minum obatnya” pesan dokter Heru yang diangguki oleh Ara.


“Terima kasih dok” ucap Alex yang akhirnya buka suara.


“Sama-sama, oh iya untuk obat dan saleb nya bisa di tebus sekarang. Kalau begitu saya permisi” pamit dokter Heru.


“Kakak tebus obat kamu dulu ya dek” ucap Alex mengecup kening Ara.


“Aku ikut” ucap Letha mengikuti Alex.


Tinggallah Riko yang sudah duduk di kursi samping Ara berbaring. Ia meraih tangan Ara lembut dan mengusap surai hitam Ara.


“Lekas sembuh sayang” gumam Riko mengecup kening Ara.


“Makasih kak” ucap Ara tersenyum.


“Harusnya aku yang bilang makasih ke kamu. Makasih kamu udah lindungi aku kemarin, harusnya aku yang lindungi kamu Ra” ucap Riko.


“Jangan kayak gitu lagi, aku gak bisa liat kamu sakit kayak gini. Cukup kemarin Ra dan untuk selanjutnya biarkan aku yang ngelindungi kamu. Apa pun yang terjadi, apa pun itu” sambung Riko mengusap punggung tangan Ara lalu mengecupnya.


Mata Ara berkaca-kaca mendengar setiap kata yang diucapkan Riko untuknya. Boleh kah ia terharu, Ara merentangkan tangannya.


“Peluk” pinta Ara membuat Riko terkekeh lalu memeluknya.


Ara pun menangis dalam pelukan Riko, membuat Riko panik takut kalau ia menyentuh luka Ara.


“Hey kog nangis? Ada yang sakit? Sebelah mana Ra, biar aku panggil dokter dulu ya” panik Riko masih dengan memeluk Ara.


“Ara nangis bahagia tau” cicit Ara menenggelamkan wajahnya di leher Riko.


Riko tersenyum lega mendengarnya, ia usap surai hitam Ara yang mulai memanjang.


“Udah ya jangan nangis. Kalo bahagia itu senyum aja nanti aku di gorok sama si Alex tau” canda Riko.


Ara melepas pelukannya dan memukul dada bidang Riko merasa hancur sudah moment haru nya.


“Nyebelin” sungut Ara mengerucutkan bibirnya.


Riko hanya tertawa sambil mengacak rambut Ara. Tanpa mereka sadari Alex dan Letha sudah berada di ruangan itu sadari tadi. Bahkan Ara dan Riko benar-benar tidak terganggu sama sekali, berasa dunia milik berdua memang.


“Kita ini manusia loh bukan hantu” ucap Alex dan Letha bersamaan membuat Riko dan Ara terkejut menatapnya.


Selamat siang semua😁


Kita ketemu lagi, panas-panas enaknya makan apa nih? Di malang masih panas nih belom ada tanda-tanda hujan. Eak tanda-tanda😆


Ada yang udah hujan gak nih siang ini? Dimana? Yuk komentar di bawah🤗


Jangan lupa like komen dan vote yang banyak ya makasih🔥🔥🔥🔥


Love❣️