
Ara masih berdiri di depan pintu ruang kerja Leo atau yang sementara ini di tempati Alex. Ara terlihat masih mondar mandir di depan pintu dengan sesekali memukul kepalanya.
‘Aishh bagaimana ini? Masuk tidak ya? Kalo masuk nanti dipecat. Enggak masuk makin berabe dong’ gumam Ara.
Ara masih bergelut dengan pikirannya sampai menghentakkan kaki berulang kali. Raut wajah frustasi sangat ketara di wajahnya.
Sedangkan di dalam Alex berbaring di sofa menatap bayangan Ara yang mondar-mandir sudah lebih dari 15 menit di balik pintu ruangannya.
“Ck bisa-bisanya dia menganggap aku sebagai pencuri. Memang wajah tampan ku ini pantas jadi pencuri. Dasar bocah itu” gumam Alex gemas sendiri.
“Sampai kapan aku harus menunggunya. Oh astagaa sakit sekali rasanya punggungku benar-benar remuk” desis Alex berusaha bangkir dari baringnya.
Perlahan Alex melangkah mendekati pintu. Alex menarik hendel pintu. Di depannya Ara masih saja mondar-mandir dah kayak setrika aja. Alex tertawa kecil melihatnya.
Bahkan Ara tidak menyadari jika Alex saat ini sedang memandangnya yang sedari tadi asik sendiri.
Ehem
“Aaaaa” teriak Ara terkejut.
“Apa kau baru saja melihat hantu?” tanya Alex santai sambil bersandar di pintu.
“Ti tidak pak” gugup Ara.
“Trus kenapa dari tadi tidak masuk? Mau saya pecat?” kata Alex memicing mata.
“TIDAK” teriak Ara spontan.
“Ck bahkan sekarang kamu berani berteriak didepan saya sekeras itu” cibir Alex berbalik masuk.
“Maaf” lirih Ara masih berdiri di belakang sana.
Alex yang baru menyadari tidak ada langkah yang mengikutinya pun berbalik. Di sana masih didepan pintu Ara menunduk meremas jemari tangannya kuat dengan badan yang sedikit bergetar.
Alex paham saat ini Ara sedang menahan tangisnya. Apa aku terlalu keras padanya karna kejadian tadi? pikirnya.
Alex pun berjalan cepat menarik tangan Ara dalam pelukannya. Seketika tangis Ara pecah.
“Hei sudah jangan nangis” ucap Alex menenangkan gadis kecil yang sudah sangat lama ingin ia peluk.
Selama ini Alex hanya bisa mengawasinya dari jauh, melihat dari kejauhan. Dan ini lah pelukan yang ia inginkan sejak lama.
Rumitnya permasalahan membuat Alex harus lebih bersabar, mendekati secara perlahan. Ingin rasanya Alex berteriak mengungkapkan sebuah kenyataan tapi dia tidak ingin gadis kecilnya tersakiti. Dan jalan inilah yang Alex ambil, perlahan tapi pasti.
Ara sendiri tidak tau kenapa dengan mudah ia menangis dalam pelukan atasannya ini. Yang Ara rasakan saat ini hanyalah kenyamanan, rasa terlindungi dan dijaga. Ara sendiri tidak dapat menjelaskan, ia merasa seperti ada ikatan diantara mereka. Tapi apa? Ara pun tidak tau.
Seketika Ara menarik diri dari pelukan Alex dengan wajah menggemaskan bagi Alex.
“Aku bukan bocah” sungut Ara.
“Baiklah kau bukan bocah tapi gadis kecil” kata Alex mengacak rambut Ara.
“Tu tuan” panggil Ara.
“Panggil saya kakak jika kita hanya berdua itu pun kalau kamu tidak ingin saya pecat” kata Alex.
“Tapi kenapa?” tanya Ara menatap Alex dengan wajah polosnya yang malah terlihat semakin menggemaskan di mata Alex.
“Karna dengan kamu saya seperti melihat adik saya kembali” ucap Alex menatap lekat Ara.
‘Nyatanya memang kamulah adik saya Ara’ batin Alex sedih.
Melihat wajah bingung Ara Alex semakin di buat gemas.
“Saya rindu adik saya yang sudah tidak ada” tambah Alex membuat raut wajah Ara sedih.
“Jadi panggil saya kakak dan saya tidak akan memecatmu tentang kejadian tadi, toh kejadian tadi menandakan kalau kamu sangat cocok menjadi penjaga cafe ini” canda Alex.
“Jadi mulai saat ini panggil saya kakak Alex. Ayo coba saya ingin dengar” pinta Alex.
“Ka kakak Al” coba Ara lirih.
“Apa? bahkan saya tidak dengar apapun” kata Alex.
“Kakak Al” panggil Ara sambil tersenyum.
Alex tersenyum manis mengacak surai hitam gadis kecil didepannya.
“Panggilan yang sangat bagus gadis kecil” ucap Alex.
“Aku bukan gadis kecil” sungut Ara.
“Baiklah baiklah” ucap Alex melangkah masuk ruangannya.
“Kak Al, boleh aku turun?” tanya Ara mengikuti Alex dari belakang.
🔥🔥🔥🔥