My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Extra part 2



Ara terbangun dari tidurnya saat merasa tidak ada sang suami disampingnya. Ia terduduk bersandar kepala ranjang dengan mata mengerjap mengumpulkan separih nyawanya yang masih tertinggal. Ara menatap sekitar kamar lalu bangkit perlahana menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum ia mencari suaminya itu.


Selesai dengan aktivitas nya Ara keluar kamar mencari suaminya. Sampai langkah kakinya terhenti saat mendengar suara dari arah ruang tamu.


“Apa ada tamu? Sepagi ini?” gumam Ara memiringkam wajahnya.


Perlahan langkah kakinya mendekati ruang tamu, dari jarak satu meter ia dapat melihat siapa yang datang sepagi ini. Seorang wanita paruh baya dengan tatapan sinis tertuju padanya, kebetulan Riko duduk membelakanginya.


Ara mencoba tersenyum manis pada wanita paruh baya itu, walau ia tau akhirnya akan seperti apa. Setidaknya ia sudah menyiapkan hatinya untuk tidak terluka.


“Lihatlah istri macam apa dia itu hah?! Jam segini baru bangun? Astagaaa, lihatlah begitu lah resikonya menikah dengan anak manja sepertinya” sengit wanita paruh baya itu menatap tajam Ara.


“Cukup!” tegas Riko bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ara dan merangkulnya.


“Kamu sudah bangun sayang, tidurlah kembali jika masih mengantuk” ucap Riko lembut mengecup kening Ara seperti biasanya.


Riko tak pernah mengatur Aranya untuk bangun lebih awal atau melakukan pekerjaan rumah, karena ia menikahi Ara untuk menjadikannya istri bukan pembantunya. Ia ingin terus memanjakan istri kecilnya itu, Riko membebaskan hal apa yang disukai istrinya asal itu masih hal positif.


“Kembalilah ke kamar tunggu aku di dalam, biarkan aku saja yang menemuinya hmmm” pinta Riko mengusap pipi merona istrinya itu.


Riko masih tidak percaya pada akhirnya ia berhasil mempersunting Ara dan menjadikannya ratu satu-satunya dalam istananya ini. Ia sangat bersyukur saat Ara lah pendamping hidupnya, gadis cantik yang kini menjadi wanita anggun.


Ara tersenyum sumringah lalu mengangguk mendengar perintah suaminya itu. Langkah Ara terhenti saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu yang menusuk relung hatinya.


“Ck manjakan saja istrimu itu, lihatlah karena kau memanjakannya dia bahkan tidak menyapa ku. Tidak punya sopan santun sedikit pun. Bangun jam segini, masakan sudah siap karena ada pembantu, pekerjaan rumah juga pembantu, manjakan saja terus. Wanita sepertinya mana pantas menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu. Pantas saja sampai sekarang istrimu belum hamil kan? Ya itu karena dia tidak pantas menjadi seorang ibu, lihatlah. Pernikahan kalian sudah hampir setahun tapi istrimu saja belum hamil. Kenapa tidak cari istri lain saja yang bisa memberimu keturunan, kau it-“


“CUKUP!!! SUDAH CUKUP SAYA MENGHORMATI ANDA YANG TIDAK TAU DIRI!!! JANGAN KARENA ANDA BAGIAN DARI KELUARGA MAMA DAN AKU TIDAK AKAN BERANI PADA ANDA. JANGAN PERNAH MENGHINA ISTRIKU!!! ANDA TIDAK TAU TENTANGNYA!” bentak Riko menuding wanita paruh baya yang tak lain adalah bibinya, bibi Ellen namanya.


“Silakan anda pergi dan jangan pernah anda menginjakkan kaki dirumah saya lagi” usir Riko tegas membuat bibi Ellen bangkit pergi dengan wajah merah menahan amarah.


Jika tidak ingat kalau didepannya adalah seorang wanita sudah ia pukul dari tadi, terlebih didepannya ini adalah bibinya sendiri. Lebih baik ia mengusirnya agar tidak mengganggu istrinya lagi.


Istrinya? Riko berbalik dan melihat punggung Ara yang terdiam kaku membelakanginya. Riko mencoba memeluk Ara dari belakang, namun Ara menolak pelukan itu.


“Ara mau ke kamar dulu, jangan ganggu. Ara masih ngantuk” lirih Ara menunduk tanpa menatap Riko yang menatap cemas istrinya.


“Sayang, kita kan mau jalan-jalan hari ini. Gimana kalo kita ja-“


“Batalkan saja” lirih Ara pergi meninggalkan Riko yang menatap punggung istrinya.


Riko menghela nafas meraup wajahnya kasar, ia tau Ara butuh waktu saat ini. Tapi ia tidak mau Aranya seperti ini. Baru beberapa bulan kemarin ia mencoba membangkitkan semangat istrinya itu, sampai saat ini Ara masih saja sensitif tentang topik kehamilan.


Mungkin Ara akan terlihat tersenyum dan biasa saja di luar sana, tapi di sini Riko peka akan perasaan istrinya itu serapat apapun Ara menyembunyikan Riko akan tau rasa sedih dan takutnya.


“Ck dasar wanita sialan” geram Riko meraih ponsel dan menghubungi neneknya.


Saat telpon tersambung Riko langsung menjelaskan apa yang terjadi dan yang ia inginkan, dimana ia tidak mau istrinya bertemu dengan wanita paruh baya yang sudah membuat istrinya bersedih kembali.


Lalu bagaimana respon nenek Riko? Sudah jelas neneknya marah besar mendengar ucapan sang cucu, ia sendiri yang akan turun tangan atas kelancangan Ellen pada cucu mantunya.


Di dalam kamar Ara menangis memeluk boneka pemberian Riko dulu. Ia terisak keras memeluk erat boneka itu, dadanya terasa sakit sekaligus sesak mengingat deretan kata yang terus berputar di pikirannya.


“Kamu sangat pantas sayang, kamu bahkan sukses membuat ku tergila-gila padamu. Kamu wanita terhebat, jangan dengarkan kata iblis sialan itu. Kamu hanya boleh mendengarkan ku saja. Jadi berhentilah menangis, hmm” ucap Riko mengecup puncak kepala Ara sambil memeluk istrinya dari belakang.


Ara berbalik menatap Riko yang kini juga menatapnya. Derai air mata nya belum juga berhenti dengan sigap Riko mengusap lembut pipi Ara. Ara langsung memeluk Riko erat.


“Kak Fano” gumam Ara dalam pelukan istrinya.


“Hmm, apa sayang? Kamu lapar? Akan ku buatkan kamu salad buah dulu bagaimana? Atau roti selai?” ucap Riko masih setia mengusap punggung istrinya yang masih sesenggukan itu.


Hening...


Riko pikir Ara mulai tertidur dalam pelukannya, namun beberapa menit kemudian Riko mendengar kalimat yang mampu membuatnya marah.


“Menikahlah kak agar kamu cepat punya anak” ujar Ara mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh suaminya menegang.


Riko melepas pelukan Ara kasar lalu bangkit dari tidurnya berdiri tegak di depan ranjang dimana Ara kini juga sudah duduk.


Ara menunduk takut saat melihat tatapan tajam penuh amarah yang Riko tampakan untuknya.


“Katakan sekali lagi” tegas Riko mengepalkan kedua tangannya.


Ara diam.


“KATAKAN SEKALI LAGI ARABELLA MAHESA!!!” bentak Riko sampai membuat Ara terjingkat kebelakang dan semakin menggenggam erat selimut di tangannya.


“APA KAU SUDAH GILA HAH?! APA DI DUNIA INI HANYA SOAL ANAK DAN ANAK!! AKU SANGAT MENCINTAIMU DAN DENGAN SANTAINYA KAU MENYURUHKU MENIKAH LAGI HANYA KARENA KAU BELUM HAMIL. APA KAU GILA HAH?!” teriak Riko frustasi mengacak rambutnya.


Riko meraup wajahnya kasar, ia terbawa emosi sampai tidak sadar membentak istrinya seperti tadi. Riko berbalik pergi meninggalkan Ara sendiri, ia ingin menenangkan dirinya saat ini.


Sampai diambang pintu dirinya berhenti tanpa berbalik menatap Ara.


“Maaf aku membentakmu sayang. Kamu harus ingat Ra, anak adalah titipan dari Tuhan. Dan jika sampai saat ini belum ada bayi di antara kita itu bukan berarti kamu tidak pantas. Tuhan masih memberi waktu kita untuk saling mendewasakan diri, Tuhan yang tau kapan waktu yang tepat untuk kita memiliki anak. Jangan karena omongan mereka diluar sana membuatmu seperti ini. Dan aku hanya ingin memiliki anak dari mu Ra. Jujur saja aku katakan, aku kecewa saat kamu menyuruhku menikah lagi. Sungguh aku kecewa. Aku pergi dulu jangan lupa sarapanmu”


Setelahnya Riko benar-benar pergi meninggalkan Ara yang terisak kembali di dalam kamar sendiri. Ara sadar saat ini ia telah membuat seseorang yang berharga di hidupnya kembali kecewa. Ara memukul kepalanya sambil menangis.


Suara deru mesin mobil yang semakin menjauh membuatnya berbaring terisak.


“Maaf, maafkan Ara, maaf, maafkan Ara” tangisnya.


Ara menangis memeluk bonekanya erat, tidak peduli dengan ketukan pintu yang diluar sana sudah jelas pelayan suruhan Riko untuk mengantarkan sarapan. Rasa lapar pun hilang yang ia inginkan hanya menangisi kesalahan terbesarnya sampai membuat suaminya kecewa.


Ara menangis sampai tertidur dan terus mengucapkan kata maaf di dalam tidurnya.


Selamat pagi semua, yang lagi nungguin nih author kasih buat kalian. Maaf ya lama up nya, karena author juga udah mulai kerja lagi.


Oh iya jangan lupa mampir ke novel kedua aku ya ‘My December’


Makasih❣️