
Siang itu didalam ruang rawat, terdengar perdebatan dua anak manusia hanya karna makanan. Dimana si pria tidak mau memberikan saos dan sambal pada baso yang diminta si pasien diruangan itu. Siapa lagi kali bukan Riko dan Ara.
“Hei pak yang sakit punggungku bukan perutku. Kenapa aku tidak boleh paka saos dan sambal itu sih” kesal Ara.
“Panggil aku kakak. Karna aku bukan bapakmu” ucap Riko sambil menyantap baso di sofa yang tersedia diruangan itu.
“Kau guruku bukan kakakku” ketus Ara menaruh mangkuk baso di nakas.
“Aku sahabat kakakmu jadi aku juga kakakmu” ucap Riko santai.
“Teori dari mana seperti itu?” Ucap Ara tak suka.
“Sudahlah, cepat makan basomu. Dan habiskan, sangat enak kau tau. Setelah itu aku akan mengantarkan kembali mangkuk ini pada penjualnya” perintah Riko menyelesaikan makannya.
“Aku mau saos dan sambalnya. Mana enak makan baso tanpa saos dan sambal” gerutu Ara memanyunkan bibirnya.
Riko tersenyum melihat wajah menggemaskan Ara. Ia bangkit melangkah mendekati ranjang dimana Ara duduk. Ia mengambil mangkuk baso di nakas lalu kembali kearah meja dimana dia makan tadi. Ia menuangkan sedikit saos dan sambal ke baso milik Ara.
“Ini makan” ucap Riko memberi mangkuk baso itu pada Ara.
“Sedikit sekali” manyun Ara menerima mangkuk baso itu.
“Kamu masih sakit. Cepat habiskan” ucap Riko duduk di kursi samping ranjang Ara.
“Kenapa tidak dari tadi memberikannya , walau sedikit. Lihat basonya sudah dingin” gerutu Ara.
“Kamu ternyata bawel juga ya. Ck.. ck.. ck..” heran Riko.
Ara tidak peduli dengan ucapan makhluk di sampingnya. Ia melahap baso hingga habis tak tersisa. Riko melihatnya hanya tersenyum. Sedari kemarin sangat susah menyuruh gadis didepannya ini untuk makan. Ia baru ingat dengan makanan yang di sukai gadis cuek itu.
“Kelaparan neng?” goda Riko melihat semangkuk baso habis tak tersisa.
“Hmm” gumam Ara menaruh mangkuk sisa baso di atas nakas.
Riko memberikan segelas air putih pada Ara, dan segera diteguk. Selesai dengan acara makannya. Ara menatap Riko dengan kepala di miringkan ke kiri. Ia benar benar merasa seperti mengenal pria dihadapannya ini sedari lama. Ia terus menatap wajah Riko. Tanpa ia sadari Riko mulai mendekatkan wajahnya pada Ara sambil terus tersenyum. Terlihat dari belakang mereka seperti berciuman. Hingga...
“LAURENSIUS RIKO ZAFANO” teriak seseorang dari arah belakang Riko. Lebih tepatnya dari arah pintu ruang rawat itu.
Ara dan Riko terkejut menatap ketiga orang yang berdiri diambang pintu ruangan. Ara terlihat bingung sedangkan Riko tersenyum lebar menatap ketida orang itu.
“Apa tang baru saja kau lakukan? Aku menyuruhmu untuk menjaga adikku bukan menciumnya seperti itu. Dasar sialan kau memang!” kesal Fino berjalan kearah Riko lalu menjambak rambutnya sambil memiting leher pri tampan itu.
“Hey sakit bodoh! Kau merontokkan rambut ku! Lepaskan Fino” teriak Riko yang tak dihiraukan oleh Fino.
“Tidak akan ku lepaskan” kesal Fino
“Lepaskan! Dasar tiang listrik” ucap Riko tak kalah kesal.
“HENTIKAN” teriak Ara dan Lisha bersamaan.
Riko dan Fino langsung menghentikan aksi mereka. Sedangkan Letha terlihat bingung dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia menatap Ara dan Fino bergantian, kenapa bisa ia tidak menyadari bahwa mereka bersaudara. Ya, Letha baru tau kebenaran tentang Ara dari gurunya yang tak lain adalah kakak iparnya, Lisha. Ara dan Lisha menghela nafas, melihat perdebatan mereka berdua.
”katakan pada kakak apa saja yang sudah dia lakukan padamu hmm” tanya Fino menangkup wajah Ara.
“Berhentilah bertindak bodoh” ketus Ara.
“Aku tidak bodoh. Kenapa kamu mau dicium dengannya” kesal Fino menunjuk Riko yang terkekeh melihat sahabatnya yang salah paham.
“Siapa yang berciuman?” tanya Ara.
“Kau” tunjuk Fino dengan dagunya.
“Lain kali kunci pintunya jika ingin berciuman. Masih untung kami yang masuk kalo orang lain bagaimana?” Gerutu Fino.
Alis Ara menyatu mendengar ucapan pria yang tak lain kakaknya itu. Ia tak tau apa maksudnya. Sunggyh Ara yang polos.
“Sudah sudah... Jangan dengarkan kakakmu itu. Ini kakak membawa kue kesukaanmu” sahut Lisha menengahi.
“Ara apa kamu baik baik saja? Kata bu Lisha kamu terjatuh dari tangga saat dirumah” akhirnya Letha buka suara juga.
“Hmm ya. Sudah lebih baik” jawab Ara menatap Letha lalu berganti menatap Lisha yang berkedip cantik padanya. Ia paham sekarang pasti kakak iparnya itu yang mengarang cerita.
Sepanjang perjalanan tadi Lisha menceritakan bagaimana adik iparnya itu bisa masuk rumah sakit. Ia berkata pada Letha bahwa Ara terjatuh dari tangga saat menginap dirumahnya (Lisha & Fino).
Berbeda dengan Fino dan Riko masih seperti tom and jery. Memperdebatkan hal yang tidak penting. Membuat suasana diruangan lebih hidup.
...****...
Dibalik pintu ruang rawat Ara berdiri seorang pria tampan berjas, berdiri menatap lurus pada gadis berpakaian pasien.
“Kali ini aku memaafkan atas kelalaianmu. Tapi untuk selanjutnya aku akan membunuhmu karna gagal menjaganya. Kau mengerti Tony?” Ucap pria itu pada pria yang berdiri di belakangnya.
“Saya mengerti Tuan” jawab pria dibelakangnya sambil menunduk hormat.
“Kita pergi...”
Kedua pria berjas itu berlalu pergi menjauhi ruang rawat Ara. Beberapa detik Ara menoleh menatap pintu ruang rawat yang terdapat kaca bening. Ia merasa ada yang memperhatikannya dari sana.
‘Siapa tadi? Apa hanya perasaanku saja?’ Batinnya
...****...
Hari ini tepat seminggu Ara dirawat. Luka pada punggungnya sudah mengering, ia juga sudah bisa duduk dan berdiri, walau masih belum bisa berdiri dengan tegak. Selama seminggu ini Riko dan Fino bergantian untuk menjaganya. Sesekali Letha juga akan mampir menjenguk Ara sepulang sekolah. Dan selama beberapa hari itu Ara, Riko maupun Fino sering kali bertengkar entah itu masalah serius atau sepele.
Berulang kali Ara mengusir Riko agar tak kembali lagi. Tapi apa, Riko malah semakin menjadi bahkan ia sampai membawa baju ganti dan numpang mandi dikamar ruang rawat Ara. Dan hal itu membuat Ara semakin kesal.
Sore ini, Riko berniat membawa Ara menuju taman. Namun, berulang kali Ara menolak dengan alasan tak mau dekat dengan Riko. Tapi, bukan Riko namanya jika tak bisa membawa Ara ke taman, walau sedikit memaksa.
Riko mendorong kursi roda dengan pelan, menikmati suasana sore ini. Ara hanya diam menatap indahnya taman rumah sakit itu. Ia mendongak menatap Riko lalu berkata.
"Pak... Bisakah kita kesana" tunjuk Haneul pada pohon rindang.
"Panggil aku kakak jika kau ingin kesana?" dengus Riko
Ara memutar bola matanya jengah dengan omelan Riko yang selalu sama.
“Kakak Riko yang BAIK. Bisa kita KE SANA” ucap Ara penuh penekanan.
“Baiklah... Mari kita kesana” ucap Riko kegirangan.
Pohon itu sangat rindang dan letaknya yang strategis membuat siapapun bisa melihat indahnya taman yang luas. Riko menurunkan Ara keatas rerumputan dengan daun yang berguguran. Riko duduk disamping Ara. Tak hentinya ia menatap wajah cantik gadis disampingnya. Hingga kepala Ara bersandar pada bahu Riko. Ia hanya ingin bersantai dan entah dari mana ia berani bersandar pada pria yang tak lain adalah gurunya sendiri itu.
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja ya pak? Aku sangat lelah..." ucap Ara terpejam.
Tanpa gadis itu sadari, Riko tersenyum sangat memukau yang tak pernah ia berikan pada siapapun. Ia menatap wajah gadis disampingnya, ia mengulurkan tangan memeluk bahu gadisnya yang sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Riko terus tersenyum menatap gadis kecilnya itu.
Dari kejauhan seorang pri dengan setelan kemeja hitam dan kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya sedang menatap kedekatan dua anak manusia itu. Siapa lagi kalau bukan Ara dan Riko. Tak ada yang tau apa yang dipikirkan pria tampan, yang pasti pria itu sedikit kesal.
"Siapa pria itu Ton?!" kesal pria itu bertanya pada pria dibelakangnyanya.
"Dia Laurensius Riko Zafano, Tuan. Anak dari Tn. Zafano rekan bisnis anda. Pria itu guru matematika sekaligus sahabat kecil nona Ara. Karena kecelakaan beberapa tahun silam nona kehilangan ingatannya tentang pria itu sampai saat ini" jelas pria dibelakangnya.
Mendengar penjelasan pria dibelakangnya, pria tampan bersetelan kemeja hitam itu hanya diam mengamati dua orang diseberang sana. Pria itu akhirnya berbalik pergi setelah melempar senyum manis yang tak dapat dilihat dari kejauhan.
“Terus awasi dan jaga dia” ucapnya berlalu.
...****...
.
.
.
.
.
.
.
.
Siapa kah pria yang slalu mengawasi Ara dari kejauhan? Ada hubungan apa diantara mereka?