
Ara melepas jabatan tangan mereka. Ia menatap sinis Riko yang membalasnya dengan senyum manisnya itu.
Ara segera membereskan buku dan mangkuk gelas pada nampan dan berlalu pergi.
“Lihat saja nanti!” ancamnya pada Riko.
Riko tertawa kecil menatap Ara yang menghilang dibalik pintu rooftop.
“Lihat saja nanti!” ucap Riko mengikuti cara bicara Ara yang menurutnya sangat menggemaskan.
Ia pun beranjak pergi meninggal kan rooftop dengan bibir melengkung sempurna.
...****...
Ara baru saja memasuki kelas sesudah ia ke kantin mengembalikan mangkuk dan gelas yang ia pinjam tadi.
Letha berlari menghampiri Ara dan menariknya agar segera duduk.
“Kamu dari mana saja? Kenapa tidak mengajak ku? Kenapa aku ditinggalin gitu aja? Aku tuh tadi nyariin kamu mau ngajak ngerjain tugas bareng tau. Eh kamu nya malah ngilang gitu aja. Nyebelin tau. Kamu tuh dah kayak hantu tau gak sih? Tiba-tiba ngilang trus datang gitu aja kayak apa tuh namanya kung kung gitu. Jalangkung nah itu dia. Kamu tuh manusia ra jad-“
Belum selesai bicara, Ara segera membekap mulut Letha dengan telapak tangannya. Ara sudah merasa panas pada telingannya, sungguh Letha berbicara tanpa jeda sudah seperti kereta api berjalan saja pikirnya.
“Bisa kau diam” ucap Ara menatap Letha tajam.
Letha hanya bisa menganggukkan kepala menjawab ucapan Ara. Seketika Ara melepas bekapannya pada mulut Letha.
Letha bisa bernafas lega, ia mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal Ara dan Ara pun tau akan kekesalan temannya itu.
“Mau marah?” tanya Ara tajam.
Letha menggelengkan kepala cepat membuat Ara menahan tawa melihat tingkah Letha yang menggemaskan itu.
“Ck dasar bocah” desis Ara masih terdengar di telinga Letha.
“Aku bukan bocah Ara! Kau tau aku sudah dewasa bahkan aku udah bisa jatuh cinta pada seseorang ups” Letha sponta membekap mulutnya sendiri karna keceplosan.
“Wah wah ternyata bocah sepertimu sudah bisa jatuh cinta, pria sial mana yang mendapatkan cintamu” sarkas Ara.
“Aish kau memang menyebalkan” ucap Letha sedih.
“Lalu?” tanya Ara penasaran.
“Entahlah dia sangat tanpa tidak mungkin jika dia tidak punya pasangan bukan?” ucap Letha sedih menatap bola mata Ara.
“Hei hei kenapa wajahmu itu hah! Aish” kesal Ara.
“Sudahlah lupakan saja, dasar bocah belajarlah sana jangan jatuh cinta dulu” tambah Ara melangkah ke meja guru mengumpulkan buku tugasnya sebelum ketua kelas membawa ruang guru, tepatnya ke ruangan bu Vina.
Letha menatap heran temannya itu. Ara kembali duduk disampingnya menidurkan kepalanya di atas meja dengan tangan jatuh ke bawah.
“Tugasmu sudah selesai?” tanya Letha.
“Hmmm” gumam Ara menatap Letha.
“Oh ya bagaimana dengan lowongan pekerjaan yang kita bahas kemarin? Kau sudah dapat kan? Di mana? Bagian apa?” cerocos Ara.
“Lihatlah kau bahkan sudah tertular dengan virus cerewetku” sindir Letha.
Ara bangkit duduk tegak sambil mencebikkan bibirnya.
“Kita sudah dapat dan sepulang sekolah nanti kita bisa mulai bekerja” kata Letha dengan mata berbinar.
“Ki... kita maksudmu?” tanya Ara.
“Iya Ara sayang kita berdua akan kerja bersama. Jadi tidak hanya di sekolah tapi ditempat kerja pun kita akan bersama dan satu shif jam kerja” ucap Letha bersemangat.
“Oh hah kita aishhh astagaaaaa kenapa kamu juga ikut sih thaaaaaa” gerutu Ara.
Letha tertawa lepas melihat tingkah frustasi Ara. Sungguh sangat menyenangkan.
Ara sendiri mengusap wajahnya kasar, entah apa yang ia pikirkan sampai sefrustasi itu mendengar ucapak Letha yang akan ikut dirinya bekerja.
‘Dia memang sudah gila bukan? Oh astagaaa’ batin Ara mengacak rambutnya.
🔥🔥🔥🔥