
Malam ini setelah makan malam bersama Ara memutuskan untuk naik ke kamar terlebih dahulu. Kini ia duduk disofa yang berada dibalkon kamar. Ia tampak menikmati semilir angin malam.
Sambil memejamkan mata ia menikmati heningnya malam. Walau sesekali Ara mendengar suara tawa diruang tamu.
Sore tadi teman semasa sekolah Fino dan Lisha berkunjung kerumah untuk mengadakan makan malam.
Merayakan pertemuan mereka kembali. Maka dari itu setelah makan malam tadi Ara memilih untuk naik kekamar dengan alasan akan mengerjakan tugas.
Ting...
Ting...
^^^*Pria misterius**đ§*^^^
^^^Malam malaikat kecilku.^^^
^^^Jangan terlalu lama diluar angin malam tidak baik untuk kesehatanmu. ^^^
^^^Segeralah tidur. Selamat malam malaikat kecilkuđ„°^^^
âKenapa dia seakan tau kalo aku sedang diluar sekarang?â gumam Ara.
Ara berdiri mendekati pagar pembatas menatap sekitar area rumah dengan mata menyipit.
âTidak ada yang aneh. Mungkin hanya kebetulan sajaâ kata Ara mengedikan bahunya lalu masuk.
Ara menutup pintu balkon sebelum merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk.
Tok... Tok... Tok...
Ara bangkit dari rebahannya saat pintu kamar diketuk. Ia membuka pintu perlahan dan ternyata Fino yang mengetuk.
âKamu sudah mau tidur dek?â tanya Fino.
âHmm iya kakâ kata Ara menatap Fino.
âJadi gini, emmm di ruang tamu ada Riko mau ketemu kamu katanya. Kamu bisa samperin dia kan dek?â Kata Fino.
âEnggak mauâ jawab Ara tanpa berpikir.
âDeeeekkkk bentar aja kog. Kasian dah sampe sini jugaâ bujuk Fino.
âSekalian kamu ganti baju dulu gih sanaâ sambung Fino.
âUntuk apa aku ganti baju. Aku akan menemui nya dan akan menyuruhnya pulangâ ucap Ara mengebu-gebu ingin berlalu pergi.
Fino menahan Ara dan membawanya masuk sampai didepan lemari pakaian milik Ara. Fino membuka dan menilih outfit yang cocok untuk digunakan malam hari.
Fino memilih jeans dan hoodie abu abu serta sneaker untuk Ara.
âOke sekarang kamu ganti baju kamu dek. Sekarangâ tegas Fino lalu keluar menutup pintu kamar.
Ara menghela nafas melihat tingkah kakaknya yang aneh itu. Ia mengambil pakaian yang dipilihkan Fino dan berlalu ke kamar mandi.
...****...
Ara menuruni tangga perlahan. Sebenarnya ia merasa sedikit pusing malam ini. Tapi karna paksan kakaknya apa boleh buat. Ia menautkan kedua alis saat melihat ketiga orang yang sudah rapi menunggunya.
âOkay karna Ara sudah siap ayo kita pergiâ ucap Lisha sambil bertepuk tangan seperti anak kecil saja.
âPergi?â tanya Ara.
âIya dek kita malam mingguan berempat yuk. Nanti kita ke pasar malam. Disana banyak stand makanan dan stand mainan pasti mengasyikan. Jadi ayo kita berangkatâ jelas Lisha dengan antusias.
Ara ingin protes tapi melihat Lisha yang sangat antusias itu jadi tidak tega untuk menolak.
âBaiklah kita pergiâ ucap Ara sedikit terpaksa.
Lisha langsung memeluk adik iparnya lalu menariknya berjalan menuju pintu utama dengan wajah bahagia.
Sedangkan Fino bisa bernafas lega saat Ara tidak menolak, jadi ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya.
Begitu pula dengan Riko, ia tersenyum mengikuti langkah kedua perempuan didepannya.
Dihalaman rumah sudah terparkir dua motor sport warna hitam milik Riko dan Fino. Ara menatap heran Lisha yang malah tersenyum padanya.
âJadi kakak bonceng mas Fino, kamu sama Riko ya dekâ ucap Lisha enteng.
Ara melongo dengan ucapan Lisha barusan. Apa ia tidak salah dengar? Boncengan dengan Riko guru resek yang bikin ia kesal. Ara menggeleng cepat.
âAra gak mauâ ketusnya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
âSapa juga yang mau bonceng cewek jutek kayak kamuâ kata Riko bersandar pada motornya.
âIh dasar resek banget sih jadi orangâ kata Ara melirik tajam.
âUdah dong kalian kok malah bertengkar sih. Kakak gak mau tau sekarang kamu sama Riko dek. Udah sana cepetan nanti keburu tutup pasar malemnyâ omel Fino.
âAyo dong raâ ucap Lisha memelas.
âOkok aku bonceng guru resek ituâ kesal Ara segera naik duduk dibelakang Riko yang tampak tersenyum dibalik helmnya.
Riko langsung menstater motor sport kesayangannya dengan kencang meninggalkan Fino dan Lisha dihalaman rumah.
Hal itu membuat Ara terkejut spontan memeluk tubuh Riko dengan erat. Ara memejam kan mata bersandar pada punggung kokoh Riko. Sedangkan Riko sendiri tersenyum menikmatinya. Ia juga semakin menambah kecepatan motornya melaju di jalanan.
Dihalaman rumah Fino mendengus saat temannya itu sudah melaju lebih dulu.
âCk dasar dia meninggalkan kita sayang. Dasar bocah tidak tau terima kasih kalo bukan karna ide kita mana bisa dia membawa Ara keluarâ gerutu Fino.
âSudahlah sayang sekarang ayo kita susul mereka. Cepat aku sudah tidak sabarâ kata Lisha memeluk pinggang suaminya.
âBaiklah sayangâ
Fino segera melajukan motornya menyusul Riko dan Ara seperti kata sang istri.
...****...