My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Episode 91



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam kini suara deburan ombak mulai terdengar ditemani bisikan angin sejuk suasana pantai.


Mata Ara berbinar saat melihat hamparan pasir dan air laut yang tampak indah siang ini. Ara menatap Riko dengan mata berbinarnya lalu memeluk Riko dari samping.


Riko yang masih fokus menyetir mencari lokasi parkir yang pas pun di kagetkan dengan pelukan Ara. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia bahagia melihat Ara yang berbinar.


“Ara suka” ucap Ara sambil melepas pelukannya.


“Suka apa? Suka aku ya?” canda Riko sambil menghentikan mobilnya di parkiran di bawah pohon yang rindang.


“Ihh Ara tuh suka pantainya bukan kak Riko” balas Ara.


“Yahh padahal kan yang ngajak ke sini aku. Harusnya kamu suka nya sama aku aja dong Ra” ucap Riko dengan senyum jail bagi Ara.


Sejujurnya itu ungkapan sesungguhnya dari Riko pada Ara.


“Udah ah Ara mau keluar main air” semangat Ara sambil keluar dari mobil tak lupa melepas sepatu yang ia pakai tadi dan membawanya berlari.


“Ck dasar bocah” desis Riko lirih.


“Ara jangan lari nanti jatuh” teriak Riko yang hanya di balas cengiran dari Ara.


Riko pun menyusul Ara dan duduk di gazebo sambil melihat Ara yang asik bermain layaknya anak kecil. Mengejar ombak dan berlari saat ombak datang. Ara mengambil foto Ara dengan kamera di tangannya tidak ada satu pun momen yang terlewatkan oleh Riko.


Siang ini pantai tidak terlalu ramai pengunjung karna bukan weekend. Riko memasang mode wifi pada kamera agar terhubung pada ponselnya dan menggunakan aplikasi Camera Connect yang memudahkannya mengambil foto saat bersama dengan Ara tanpa sepengetahuan Ara tentunya. Riko lalu berlari mendekati Ara dan merangkulnya Ara dari samping.


Cekrik


Riko mengambil beberapa foto saat merangkul Ara.


“Hey bocah tidak capek apa?” ucap Riko.


“Enggak dong kak, Ara malah seneng banget bisa ke pantai. Kapan lagi Ara bisa kepantai coba” cengir Ara.


“Istirahat dulu yuk kakak udah pesen makan udah waktunya makan siang juga” ajak Riko masih merangkul pundak Ara.


“Apa Ara udah lama mainnya ya sampai laper juga. Yaudah kita makan yuk kak” sahut Ara membuat Riko tertawa kecil.


Riko berpikir seperti sedang membawa anak kecil kepantai saja hari ini. Mereka pun berjalan menuju gazebo dengan Riko masih merangkul pundak Ara. Riko terus mengambil foto mereka berdua dari ponsel yang terhubung dari kamera tadi.


Tawa Ara tak pernah luntur sedikit pun menambah kecantikannya saja. Sampai di gazebo mereka duduk lesehan. Riko pun mulai sibuk memindahkan semua foto dari kamera ke ponselnya melalui aplikasi Camera Connect sebelum Ara melihatnya. Melihatnya pun tak apa jika Ara menghapus yang berada di kamera ia masih punya yang di ponsel pikirnya.


“Kak Riko bawa kamera?” tanya Ara melihat Riko yang sibuk dengan kameranya.


“Iya Ra” jawab Riko menaruh kamera di atas meja.


Tak lama pesanan pun datang, Riko sengaja memesan dua mangkuk baso special dan jus jeruk menu kesukaan Ara.


“Wah baso baso” ucap Ara kegirangan membuat Riko geleng-geleng kepala.


“Kak kita cuma makan baso aja nih? Mana kenyang aku kak” sambung Ara polos membuat pelayan yang belum pergi tadi menahan tawa.


“Kalau kamu masih mau pesen lagi pesen aja Ra. Mbak boleh lihat buku menunya lagi?” ucap Riko pada pelayan.


“Boleh kak silakan ini” ucap pelayan itu memberikan buku menu pada Riko.


Riko lalu memberikan buku menu pada Ara. Ara langsung menerima buku menu itu lalu melihat beberapa menu dengan semangat.


“Saya pesen ikan nila bakar satu, ayam bakar bagian paha satu, nasinya satu aja. Jangan lupa mbak sambelnya yang banyak. Trus nambah jus jeruknya satu lagi ya mbak. Makasih” ucap Ara lalu menyantap baso di depannya yang sudah di tambahi sambah, saos dan kecap.


Riko hanya geleng-gelemg kepala melihat tingkah Ara yang ketularan bar-bar kayak Letha. Riko masih ingat dulu bagaimana dingin dan cueknya Ara. Jauh berbeda dengan Ara yang sekarang, tapi Riko tetap menyukai Ara yang apa adanya. Mau cuek, dingin, atau ramah yang penting Ara bisa tetap tertawa lepas sudah cukup untuk Riko.


“Pelan-pelan makannya trus jangan kebanyakan sambel Ra” ucap Riko mengingatkan.


“Iya kak ini juga udah dikit kog sambelnya” jawab Ara.


“Dikit kog tiga sendok” ketus Riko.


“Janji deh nanti gak makan sambel lagi” cengir Ara.


“Janji aja terus” kesal Riko membuat Ara terkekeh.


“Enak banget ya kak makan sambil lesehan kek gini terus anginnya sejuk banget pemandangannya bagus lagi” ucap Ara.


“Kapan-kapan aku ajak kamu pergi jalan-jalan ketempat yang lebih bagus dan indah dari ini” ucap Riko mengusap surai Ara yang berterbangan.


“Makasih ya kak Riko udah ajak Ara kesini. Ara suka” ucap Ara tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


“Iya sama-sama Ra. Bisa buat kamu tersenyum dan tertawa seperti ini, buat aku ikut bahagia Ra. Jadi jangan sedih lagi ya” ucap Riko mengusap lembut pipi Ara.


Tatapan mereka saling terkunci, menikmati setiap detik yang tercipta. Mereka saling melempar senyum satu sama lain. Ah sungguh keromantisan tercipta diantara mereka.


Sampai keromantisan itu terganggu oleh munculnya pelayan yang membawakan pesanan Ara tadi.


“Maaf kak mengganggu ini pesanannya. Silakan dinikmati kak” ucap pelayan itu lalu pamit pergi setelah menyajikan pesanan Ara.


“Ayo makan lagi di habisin ya Ra” ucap Riko.


“Siap kak” balas Ara dengan pipi merona mengingat keromantisan sesaat tadi.


‘Ah mbak pelayannya kenapa harus datang sih tadi’ gumam Ara sedikit kesal.


Tak berbeda jauh dengan Riko yang menggerutu dalam hati.


‘Kenapa harus dateng sih tuh pelayan. Padahal tadi waktunya udah pas banget lo’


Mereka pun melanjutkan makan siang dalam hening. Selesai makan siang Riko mengajak Ara jalan-jalan di pinggiran pantai.


“Ra boleh aku tanya?” ucap Riko memulai pembicaraan.


“Tanya aja kak” balas Ara tersenyum di samping Riko.


“Apa ingatan kamu sudah kembali Ra?” tanya Riko menatap Ara.


Ara terdiam dan tetap berjalan di samping Riko yang kini menatapnya. Ara lalu mematap Riko lekat.


‘Apa sebaiknya aku bohong aja ya ke kak Riko kalau ingatan aku belum kembali. Biar aku tau sesuatu gitu dari kak Riko. Lagian beberapa kali kak Riko kayak keceplosan gitu tentang aku’ pikir Ara.


“Ingatan aku masih belum kembali kak. Setiap aku berusaha mengingat kepala aku langsung sakit banget kak” bohong Ara pada Riko.


“Cerita dong kak tentang masa kecil ku dulu. Siapa tau kak Riko cerita bisa bantu ingatan aku kembali gitu” sambung Ara membuat Riko menghentikan langkahnya dan menatap lekat Ara.


Selamat malam semua. Belum pada tidur kan? Abang Riko datang lagi nih. Kira-kira abang Riko bakal crita gak ya tentang dia dan Ara di masa kecil. Tunggu kelanjutannya ya.


Next kan? Next dong👉🏻


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya🔥🔥🔥🔥