My Teacher Is My Love

My Teacher Is My Love
Extra part 4



Riko berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, dilihatnya bi Sri yang sedang menata semangkuk bubur dan segelas air putih di atas nampan. Ia mendekat bermaksud akan membawa nampan itu sendiri ke kamar.


“Bi” panggil Riko.


“Iya tuan?” jawab bi Sri berbalik menatap majikannya itu dengan nampan ditangannya.


“Biar saya yang bawa ke atas, bibi istirahat aja dan makasih bi” Riko mengambil alih nampan itu.


“Sama-sama tuan. Emm tuan” panggil bi Sri saat Riko akan beranjak dari dapur.


“Iya bi” ucap Riko menatap bi Sri.


“Maaf jika saya lancang tuan, saya hanya memberi saran saja. Sebesar apapun masalahnya bicarakan semua dengan kepala dingin. Jangan sampai saling melukai satu sama lain” nasehat bibi Sri.


“Makasih bi nasehatnya, kalo gitu saya ke kamar dulu. Bibi langsung istirahat saja ya” Riko tersenyum ramah lalu beranjak menuju kamarnya.


‘Benar apa yang dikatakan bi Sri, seharusnya aku tidak terbawa emosi tadi sampai meninggakan Rara sendiri dan membuat Raraku sakit’ batin Riko menaiki anak tangga.


Baru saja masuk ke dalam kamar Riko mendengar suara muntahan istrinya dari arah kamar mandi yang tidak tertutup sempurna. Ditaruhnya nampan tadi di atas nakas. Riko bergegas menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Ara yang memegang erat wastafel agar tidak jatuh ke lantai.


Riko merengkuh tubuh lemah Ara dan membantu membersihkan bibir istrinya tanpa merasa jijik karena sisa muntahan. Ara yang menyadari kehadiran suaminya malah menangis sesenggukan. Hal itu membuat Riko semakin panik akan kondisi istrinya.


“Sayang, apa sangat sakit? Hmm”


Ara masih terus menangis sambil menggelengkan kepala.


“Kita ke dokter ya? Aku gak mau kamu sakit sayang” ucap Riko mengusap punggung istrinya.


Bukan menjawab Ara langsung melepas pelukannya dan berbalik ke arah wastapel.


Hueekk


Hueeek


Melihat Ara yang muntah Riko segera memijat lembut tengkuk istrinya, berharap bisa sedikit membantu.


“Lemes” lirih Ara selesai membersihkan bibirnya.


Riko langsung menggendong tubuh lemah Ara keluar dan membaringkannya di atas ranjang dengan hati-hati. Selesai menyelimuti tubuh Ara, Riko menyambar ponsel yang ia taruh di atas nakas dan mulai menghubungi dokter pribadi keluarganya.


“Hallo-“


Belum selesai Riko bicara Ara sudah merebut ponsel milik suaminya dan memutuskan sambungan telpon dengan wajah cemberut.


“Kog dimatiin?” tanya Riko duduk di samping suaminya.


“Gak mau minum obat” rengek Ara.


Riko menghela nafas mendengar rengekan istrinya. Ia duduk di bibir ranjang lalu meraih semangkuk bubur tadi.


“Kalau gitu makan dulu ya aku suapin, dari pagi kamu belum makan kan? Pasti maag kamu kambuh lagi jadi kayak gini” ucap Riko membantu Ara bersandar pada sandaran ranjang yang sudah ia beri bantal.


Ara diam memperhatikan wajah tampan suaminya yang sibuk meniupi bubur untuk nya. Betapa bahagia dirinya bisa memiliki hati dari pria tampan di hadapannya ini. Selama menjalani hidup berumah tangga Ara merasa menjadi seorang ratu yang paling bahagia.


Ara sangat bersyukur memiliki sosok suami seperti Riko. Teringat kejadian pagi tadi yang membuat mereka bertengkar untuk pertama kalinya.


Ara menunduk menyembunyikan derai air mata yang tanpa ijin mengalir begitu saja.


“Ayo makan sayang aaaa” ucap Riko mendongak menatap istrinya yang menunduk.


“Sayang makan dulu ya, aku gak mau kamu sakit. Makan ya” bujuk Riko.


Ara mengangkat kepalanya menatap wajah panik Riko yang langsung menaruh kembali mangkuk di atas nakas.


Riko menangkup wajah sang istri mengusap lembut pipi Ara dengan ibu jarinya.


“Kenapa nangis lagi? hmmm. Apa ada yanv sakit sayang? Kita ke rumah sakit aja ya? Atau biar aku suruh bi Sri panggil dokter kalo kamu gak mau ke rumah sakit. Bilang sama aku mana yang sa-“


Ara menubrukkan tubuhnya kedalam pelukan Riko sambil terisak dan bergumam kata maaf. Sekarang Riko tau kenapa istrinya ini menangis.


Riko membalas pelukan Ara sambil mengusap lembut punggung ringkih istrinya.


“Iya kakak udah maafin kog. Maafin kakak juga ya sayang, maaf tadi bentak bentak-bentak juga. Udah ya jangan nangi. Maaf kali ini bikin kamu nangis”


Cup.


Dikecupnya kening Ara penuh kasih, sesaat Riko melepas pelukannya dan kembali mengusap pipi Ara.


“Udah ya jangan nangis nanti cantiknya hilang” canda Riko mencubit hidung merah Ara gemas.


Bukannya berhenti menangis Ara semakin kencang menangis membuat Riko bingung harus bagaimana.


“Ara minta maaf kak Fano huaaa” tangis Ara.


“Enggak akan dimaafin kalo gak mau berhenti nangis” ucap Riko spontan menghentikam tangis Ara.


Riko tersenyum mengusap puncak kepala Ara dengan sayang.


“Pinter banget sih istri ku ini”


“Sekarang kita makan dulu ya aku suapin” bujuk Riko di angguki oleh Ara.


Riko pun langsung mengambil mangkuk berisi bubur dan menyuapi istri kecilnya. Baru dua suapan Ara bangkit berlari menuju kamar mandi dan memuntahkannya.


Riko yang berdiri di belakangnya mulai memijat tengkuk Ara.


“Ara mau salad buah buatan kak Fano aja, gak mau bubur” rengek Ara yang diangguki Riko.


“Yaudah kamu tunggu di ranjang aja ya aku buatin dulu” ucap Riko memapah istrinya.


“Enggak mauuu” rengek Ara melingkarkan kedua tangannya di leher Riko.


“Kog gak mau?” tanya Riko.


“Mau ikut turun ke bawah tapi gendong” rengek Ara layaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan saja.


Riko menggelengkan kepala lalu mengangkat tubuh mungil Ara dan menggendongnya di depan seperti koala saja.


“Baiklah ibu negara kita turun dan membuat salad buah untukmu” ujar Riko.


Di dapur bi Sri baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia yang tadinya ingin kembali ke kamar pun menghentikan langkahnya saat melihat kedua majikannya yang berjalan kearah dapur.


Riko mendudukkan Ara di kursi pantri dengan perlahan.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya bi Sri melihat Riko meraih apron miliknya yang biasa digunakan saat memasak.


“Tidak usah bibi istirahat saja, istriku ingin salad buah dan telur dadar buatanku bi” jelas Riko pada bi Sri yang langsung diangguki.


Saat menuruni anak tangga tadi Ara memang minta dibuatkan telur dadar. Dengan senang hati Riko akan membuatkannya untuk istri tercinta.


“Iya bi betul yang dikatakan kak Fano, jadi bibi istirahat saja” sambung Ara berbinar dengan wajahnya yang masih pucat.


“Baiklah kalau begitu saya pemit kekamar dulu tuan, nyonya” pamit bi Sri.


Setelah bi Sri pergi Ara langsung menyuruh suaminya agar bergegas membuatkan apa yang ia pesan tadi. Membayangkan saja sudah membuat air liur Ara menetes saja.


Riko terkekh dengan keantusiasan istrinya. Dengan gesit Riko mulai menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan. Tak sampai 45 menit Riko selesai menyiapkan semangkuk salad dan sepiring nasi dengan telur dadar diatasnya.


Ara bertepuk riang melihat pesanannya sudah siap di depan mata.


“Suapin” manja Ara menyodorkan sendok ke tangan Riko.


“Manja banget si istriku ini” gemas Riko dan mulai menyuapi nasi dan telur dadar terlebih dahulu.


.


.


.


Selamat malam semua akhirnya bisa up sekarang. Ih gemes banget sama Ara kalo pas lagi manja. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya 😉