
Alex membelai rambut Ara dengan lembut. Ara belum juga sadarkan diri karena masih syok dengan kejadian hari ini. Jadi harus diberi ruang untuknya beristirahat.
Alex sengaja membawa Ara pulang ke mansion megah milik keluarganya, sudah cukup ia bersabar selama ini. Alex menggenggam tangan Ara yang sudah dibalut perban.
Alex membuka laci nakas disamping tempat tidur Ara. Di ambilnya kotak berudu merah dari dalam laci. Alex tersenyum lalu memasangkan gelang pemberian mamanya dulu di tangan Ara.
“Cantik” gumam Alex.
Alex masih ingat dulu sebelum Ara lahir, mamanya membeli gelang yang nantinya akan ia berikan pada putri kecilnya saat ulang tahun ke 17.
“Kado dari mama untuk Ara sudah aku berikan ma” lirih Alex mengusap gelang itu.
Tok tok tok
“Masuk” ucap Alex.
Tony berjalan masuk mendekati Alex yang masih duduk di tempatnya sedari tadi.
“Tuan waktunya makan siang. Anda juga harus menjaga kesehatan anda. Kalau anda sakit nona muda akan sedih” ucap Tony membujuk tuannya.
“Bawakan kesini” pinta Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara yang masih terlelap dalam tidurnya.
Tony segera beranjak menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah di siapkan oleh bi Surti. Dan kembali ke kamar Ara dan meletakkan di nakas samping Alex duduk.
“Silakan di makan tuan” ucap Tony.
“Hmmm” gumam Alex.
Tony menghela nafas lalu pamit keluar.
...****...
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya sebuah truk dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi menabrak mobil tersebut hingga berguling beberapa kali.
Di dalam mobil bagian penumpang terlihat seorang wanita memeluk erat putrinya, yang tidak lain adalah Fiona dan Ara yang berusia 8 tahun.
Mereka berdua baru saja pulang dari bandara mengantarkan Fano yang akan melanjutkan studi di Paris. Namun, naasnya ditengah perjalanan mereka mengalami kecelakaan.
“Ara sayang” lirih Fiona dengan luka di kepalanya yang terus mengeluarkan darah segar.
“Mah” lirih Ara membuka matanya.
Tak beda jauh dengan Fiona, Ara juga tetap terluka walau Fiona sudah memeluknya erat.
“Sa-sayang mintalah ka-kalung liontin bayimu pada kak Fino. Te-temui keluargamu, berbahagialah sa-sayang. Dan ma-maafkan pa-papa dan ma-ma, juga ka-kak Fino” ucap Fiona dengan nafas yang tersendat-sendat.
Ara yang tidak paham dengan ucapan Fiona hanya diam. Dan tak lama Fiona menghembuskan nafas terakhir.
“Mama” lirih Ara lalu pingsan.
...****...
Alex baru saja selesai mandi, ia lalu beranjak ke kamar Ara. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang. Baru saja Alex membuka pintu kamar, ia mendengar suara Ara yang mengigau.
“Mama” igau Ara berulang kali.
“Ara bangun Ra, Ara sayang bangun” ucap Alex mencoba membangunkan Ara.
“Mama” lirih Ara lalu membuka mata.
“Kamu bangun Ra, ada yang sakit? Tangan kamu sakit? Atau kepala kamu pusing bilang sama kakak? Kamu mimpi buruk Ra?” tanya Alex beruntun.
“Kak Alex” panggil Ara lalu memeluk erat Alex.
“Iya ini kakak” ucap Alex membalas pelukan Ara.
“Ara sudah ingat semua nya, saat masa kecil Ara. Ara juga ingat waktu kecelakaan terjadi mama Fiona bilang aku harus minta kalung ini ke kak Fino dan memaafkan papa Felix” jelas Ara menggenggam kalungnya.
“Kamu ingat semuanya Ra?” tanya Alex memastikan dibalas anggukan oleh Ara.
Alex memeluk erat Ara, ia merasa senang jika Ara bisa mengingat masa lalunya. Alex melepas pelukannya lalu mengusap bahu Ara sambil tersenyum.
“Kalau gitu makan dulu ya, kakak ambilin makannya. kamu belum makan, jangan sampai kamu sakit adik kecil. Mau makan apa? Hmm” tanya Alex penuh canda.
“Kak, bagaimana dengan kak Fino?” bukan menjawab Alex, Ara malah melontarkan pertanyaan pada Alex.
Alex menghela nafas mendengar pertanyaan Ara. Ia tidak bisa egois bagaimana pun Ara tumbuh bersama Fino.
“Di bawah aja kak” jawab Ara tersenyum manis.
“Ayo” ajak Alex membawa Ara ke meja makan.
Selama berjalan ke meja makan, Ara tak hentinya mengagumi interior mansion megah Alex.
“Ini rumah kak Alex? Sebesar ini?” tanya Ara kagum.
“Ini mansion yang dibangun papah dek, tapi udah kakak renovasi jadi idah banyak perubahan. Oiya kamu mau lihat foto kita sekeluarga? Dulu waktu kamu masih bayi kakak inget banget mama ngajakin kita semua untuk foto keluarga” jelas Alex menarik tangan Ara ke ruang keluarga.
Di sana terpampang jelas foto keluarga Mahesa. Bingkai foto berukuran 16rs, Ara menatap foto pria tampan yang memangku putra mereka dan wanita cantik yang menggendong bayi mungil.
Di samping kanan, kiri dan bawah foto keluarga terdapat foto Alex dan dirinya mulai dari bayi hingga sekarang. Bahkan foto Ara dari bayi sampai remaja bergantung rapi.
“Kog foto Ara lengkap banget? Dan ini?” tanya Ara sambil menunjuk ukiran nama dibawah foto bayinya.
“Arabella Mahesa” ucap Alex tersenyum seakan tau apa yang Ara pikirkan saat ini.
“Jadi nama aku sebenarnya Arabella Mahesa” ucap Ara terisak.
Alex menarik tangan Ara masuk dalam pelukannya. Ia paham bagaimana perasaan Ara saat ini.
”Jangan sedih lagi, yang penting kita sudah berkumpul lagi. Besok kakak akan ajak kamu ke makam papah dan mamah” ucap Alex mengusap surai Ara.
“Iya kak Ara juga mau bertemu papah dan mamah” jawab Ara.
“Trus foto-foto Ara kakak dapetin dari mana?” sambung Ara menatap fotonya.
“Setelah kakak nemuin kamu, semua tentang kamu kakak langsung tau. Termasuk foto masa kecil kamu” kelas Alex menjawil hidung Ara gemas.
“Trus kakak kog gak langsung bilang waktu awal ketemu sama aku?” tanya Ara.
“Ra, bukan kakak gak mau. Tapi kakak takut kamu akan salah paham dengan semua ini dan marah sama kakak. Kakak takut kamu membenci kakak. Jadi kakak mendekati kamu secara perlahan. Kakak slalu mengawasi kamu dari jauh asal kamu tau” ucap Alex.
“Oh iya? Kog aku gak tau ya” balas Ara.
“Masak sih gak tau, malaikat kecilku” ucap Alex mengacak rambut Ara.
Ara terdiam lalu menatap wajah Alex lekat saat mengingat sesuatu.
“Jadi pria misterius itu kak Alex” tunjuk Ara dibalas anggukan oleh Alex.
“Benar sekali adek manis” canda Alex mengapit hidung Ara.
“Ck sakit tau kak” rengek Ara mengaduh.
“Kalo gitu ayo kita makan. Lebih tepatnya kamu yang makan” ajak Alex menarik tangan Ara menuju meja makan dan mendudukannya di kursi.
Di atas meja sudah tertata rapi beberapa makanan kesukaan Ara. Alex mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk Ara. Ara merasa bahagia melihat perhatian Alex padanya. Enggak habis pikir bagaimana sedihnya Alex dulu, pikir Ara sedih.
“Ayo dimakan, makan yang banyak ya adik kecil” ucap Alex membuyarkan lamunan Ara.
“Iya kak” balas Ara tersenyum.
Mata Ara terfokus pada gelang cantik yang entah kapan sudah terpasang indah di tangannya. Ia bahkan baru menyadarinya, Ara langsung menatap wajah Alex yang terus menampilkan senyum hangatnya.
“Dulu waktu mamah masih hamil kamu, mamah membelikan gelang ini buat kamu. Kata mamah mau ngasih gelang ini sebagai kado ulang tahun Ara ke 17. Tadi kakak keinget trus kakak pasangin di tangan kamu. Cantik, pilihan mamah gak pernah salah” jelas Alex tersenyum menatap gelang itu.
Ara tersenyum dangan mata berlinang air mata, ia mengusap lembut gelang cantik pemberian almarhum mamahnya.
...****...
Kalung Alex dan Ara ya gais😊
Gelang pemberian mama Elina untuk Ara.
Next👉🏻
Jangan lupa like, komen dan vote🔥🔥🔥🔥